Jurnal skripsi gula kelapa

THE EFFECT CONCENTRATION of CALCIUM OXIDE (CaO) an SKIN of MANGOSTEEN  (Garciana mangostana) TO THE QUALITY OF
PALM SUGAR

Hidayat Turochim
ABSTRACT

                The aim of this research was to investigate the effect concentration of calcium oxide (CaO) anf skin of mangosteen (Garciana mangostana)to the quality of palm sugar. The research had been performed using factorial completely randomized design (CRD) with one factor and three repetition, i.ecalcium oxide  and skin of mangosteen the mixture composition (A): (95%:5%); (92,5%:7,5%); (90:10%); (87,5%:12,5%) and (85%:15%). Different treatment used was indicated that different compotition  betweencasium dioxide and skin of mangosteen the composition gave very significant different (P<0,01) on chemist and organoleptic test. Parameter analyzedchemist were water content, ash, sucrose, sugar reducing and organoleptic value (colour, aroma, taste and texture).Organoleptic test using hedonic scale (1-6) was conducted to determine the consumer acceptance with parameter including colour, aroma, taste and texture.Theresult showed that calsium dioxide (CaO) andskin of mangosteen concentration mixture had highly significant effect on water content, ash, sucrose, sugar reducing and organoleptic value. Consumer preferred to choose the composition  ofpalm sugar is 87,5%:12,5% indicated by organoleptic value of colour, aroma, taste and texture. The 87,5%:12,5% calsium dioxide and skin of mangosteenconcentration produced the better and more acceptable quality of palm sugar  with  average of water content is 8,28; ash is 1,89; sucrose is 81,88 and reducing sugar is 8,28.
Keywords: Palmsugar, calsium dioxide, skin of mangosteen, organoleptic




A.      Latar Belakang Masalah

Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat Indonesia yang berperan sebagai pemanis dan sumber kalori. Gula digunakan dalam berbagai persiapan makanan termasuk dalam dunia industri pengolahan makanan. Gula sebagai sukrosa diperoleh dari nira tebu, kelapa, atau aren. Salah satu jenis gula yang sudah dikembangkan danbanyak dimanfaatkan adalah gula kelapa. Gula kelapa adalah gula yang diperoleh dari pemekatan cairan hasil sadapan tongkol bunga kelapa, yakni nira kelapa.
Kabupaten Purwokerto merupakan daerah sentra tanaman kelapa dan penghasil gula kelapa yang sangat potensial di Jawa Tengah bahkan di Indonesia.Disamping jumlah bahan baku gula kelapa yang melimpah dan murah, teknologi yang digunakan untuk membuat gula kelapa juga tidak membutuhkan biaya yang tinggi dan teknologi yang digunakan ringan (low cost and low tech). Produk gula kelapa Indonesia khususnya dari petani wilayah Purwokerto sering ditolak oleh pasar industri karena mutunya kurang, khususnya kandungan sulfit tidak sesuai standard, sehingga perlu adanya upaya untuk mengkaji penggunaan bahan kimia tambahan tersebut yang diharapkan dapat memberikan solusi untuk dapat mengganti bahan kimia tambahan yang lebih aman.
     Sulfit biasa digunakan oleh petani untuk mengawetkan nira agar tidak mudah rusak. Nira tanpa penambahan pengawet mengandung koloni bakteri yang cukup banyak. Dalam penelitian yang dilakukan diperoleh data 1,8x10 cfu/mldan 2,3x10 cfu/ml.Sulfit merupakan senyawa kimia yang tidak dilarang penggunaannya, akan tetapi penggunaan yang melebihi batas (300 mg/kg) dan terus menerus akan menimbulkan efek kesehatan yang cukup serius. Efek kesehatan yang diakibatkan oleh sulfit diantaranya: konjungtivis(peradangan selaput mata), ulkus (perlukaan pada lambung dan usus 12 jari) dan kelainan kornea, reaksi alergi dan dermatitis pada kulit, iritasi pada jaringan mulut, kerongkongan dan jaringan lain pada sistem pencernaan.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan cara mengkaji dan mengevaluasi penambahan bahan kimia sulfit pada gula kelapa denganmenggantinya dengan kapur tohor (CaO) dan kulit manggis. Kapur merupakan bahan tambahan yang cukup aman dibandingakan dengan sulfit. Sifat basa kapur berfungsi sebagai larutan penyangga untuk mempertahankan derajat keasaman (pH) nira  sekitar 6-7, sebab nira dikatakan rusak jika pH kurang dari 6 ditandai rasa yang masam (Pragita, 2010).
Dalam pengolahan gula kelapa, kulit manggis digunakan sebagai bahan antimikroba karena sifat dari nira yang memiliki ragi liar (contoh: Saccharomyces cereviceae, Leuconosstoc mesenteroides dan Lactobacilus plantarum) dan apabila tidak dikendalikan akan cepat merusak nira yang digunakan.
Berdasar uraian diatas, maka perlu dilakukan penelitian mengenai penggunaan kapur (CaO) dan kulit manggis dalam produksi gula kelapa untuk menggantikan sulfit. Dengan upaya tersebut diharapkan mutu gula kelapa yang dihasilkan oleh para pengrajin gula kelapa dapat ditingkatkan, sehingga mempunyai daya saing pasar yang tinggi serta dapat mengangkat tingkat perekonomian mereka.
Pembatasan Masalah

Masalah penelitian dibatasi pada bagaimana pengaruh penggunaankapur tohor (CaO) dan kulit manggis pada gula kelapa yang dihasilkan. Parameter mutu yang akan diuji meliputi uji kimia (kadar air, kadarabu, pH, kadargula pereduksi, jumlah gula dihitung sebagai sukrosa, kadar xanthone),ujiorganoleptik (warna, bau, rasa, tekstur), uji rangking dan uji mikrobiologi ALT (Angka Lempeng Total).

Perumusan Masalah

Dari pembatasan masalah yang dikemukakan di atas dirumuskan masalah sebagai berikut:
Apakah ada pengaruhantara mutu gula kelapa pada konsentrasi kapur (CaO) dan kulit manggis yang berbeda yaitu 95%:5%; 92,5%:7,5%; 90%:10%; 87,5%:12,5% dan 85%:15%?Apabila ada pengaruh, pada konsentrasi berapa gula kelapa yang dihasilkan memiliki mutu terbaiknya?

Kegunaan Penelitian

Penelitian yang dilakukanberguna untuk menambah pengetahuan dan memberikan pengalaman bagi penulis tentang cara melakukan penelitian ilmiah dibidang teknologi pangan khususnya cara pembuatan gula kelapa. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pengrajin gula kelapa terhadap penggunaan sulfit pada produksi gula kelapa. Memberikan pengertian pada masyarakat mengenai bahan tambah yang lebih aman. Secara langsung maupun tidak langsung penelitian ini dapat meningkatkan tingkat penerimaan gula kelapa di kalangan masyarakat ataupun industri.

Tinjaunan Pustaka

1.        Tanaman Kelapa (Cocos nucifera L.)
Tanaman kelapa (Cocos nucifera L.) termasuk famili Palmae dari genus Cocos. Dikenal dua varietas kelapa yang nyata perbedaannya yaitu varietas genjah dan varietas dalam (Setyamidjaja, 1994). Tanaman kelapa merupakan tanaman serbaguna atau tanaman mempunyai nilai ekonomis tinggi. Seluruh bagian pohon kelapa dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia, sehingga pohon ini sering disebut pohhon kehidupan (tree of life) karena hampir seluruh bagian dari pohon, akar, batang, daun, dan buahnya dapat digunakan untuk kebutuhan kehidupan manusia sehari-hari (Alamsyah, 2005).
Pohon  kelapa dapat disadap pada umur 6-8 tahun hingga mencapai umur 50 tahun, tergantung pada kesuburan tanah dan perawatan pohonnya.. Bagian-bagian dari pohon kelapa bisa dilihat dari Gambar 1.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEid-9xzJYQKF1m-IgRK_eACBM2bazZIA0M-b4hKkNbn9aLqlXLZmbIJK1ai9XlAT_oKhFIi1NH-LbFkMEX8zIxCeegXtQZgiRUiJzcTkfTTRlC81y-pavTKo23xfb5bANp7PZ5AOIsPdsBd/s1600/pohon_kelapa.png
Gambar 1. Bagian-bagian pohon kelapa
(Sumber:http://kumpulantugassekolahnyarakabintang.blogspot.com)

2.      Nira Kelapa

Bahan baku untuk membuat gula merah adalah nira. Nira merupakan cairan bening yang terdapat pada mayang (bunga) pohon kelapa, pohon aren, maupun pohon lontar yang pucuknya belum membuka. Nira diperoleh melalui proses penyadapan. Sebuah mayang dapat disadap selama 10-35 hari bergantung kondisi pohon, namun produksi optimal hanya 15 hari. Tiap pohon dapat menghasilkan 0,5-1liter nira per mayang atau 2-4 liter nira per pohon (Santoso, 1993).Rumokoi (1996) menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi banyaknya nira yang diperoleh. Faktor pertama adalah iklim, dimana pada musim penghujan nira yang diperoleh akan lebih banyak daripada penyadapan pada musim kemarau. Umur tanaman juga merupakan faktor yang mempengaruhi jumlah nira yang diperoleh karena penyadapan mayang pada pohon kelapa ynag muda akan menghasilkan nira yang lebih banyak daripada pohon kelapa tua. Faktor lain yang mempengaruhi adalah keterampilan menyadap, mulai dari cara memanjat, teknik pemotongan mayang hingga peletakan wadah penampung nira di pohon. Faktor terakhir yang juga menentukan jumlah nira yang diperoleh adalah frekuensi penyadapan. Biasanya pohon kelapa tidak selalu diambil niranya, kadang mayang sengaja dibiarkan agar menghasilkan buah. Komposisi nira kelapa segar dapat dilihat pada Tabel 1.



Tabel 1. Komposisi Nira Kelapa Segar (g/100 ml)
No
Komposisi Bahan
Kadar
1
Total Padatan
15,20 – 19,70
2
Sukrosa
12,30 – 17,40
3
Abu
0,11 – 0,41
4
Protein
0,23 – 0,32
5
Vitamin C
16,00 – 30,00
6
Berat Jenis pada suhu 29°C
1,058 – 1,077
Sumber :Santoso (1993)

Untuk mendapatkan nira segar, diperlukan beberapa langkah, yaitu memilih mayang, pemotongan mayang, dan penyadapan. Mayang yang dipilih adalah mayang yang belum membuka pada stadium umur tertentu, utuh, bebas dari serangan hama dan penyakit. Setelah itu mayang diikat agar tidak mekar, mayang kemudian dimekarkan dengan memukulkan sebatang kayu ke mayang secara perlahan sekitar 5-8 menit mulai dari pangkal ke ujung.Untuk mengeluarkan nira, pucuk mayang dipotong beberapa kali. Pada hari pertama dilakukan pememaran, pada hari kedua dilakukan pemotongan pucuk mayang ± 0,5 cm, setelah itu dimemarkan lagi. Keesokan harinya dipotong ± 0,5 cm lagi dan seterusnya hingga hari ke- 10, sampai akhirnya mayang mulai mengeluarkan nira. Setelah mayang mengeluarkan nira, penyadapan dapat dilakukan setiap pagi dan sore secara rutin.Mula-mula hasil nira sedikit, namun lama-kelamaan bertambah, dan setelah hari ke- 15 biasanya hasil nira menurun sampai hari ke-35 (Rumokoi, 1993).
Biasanya nira ditampung di dalam bumbung bambu, setelah itu nira secepatnya dimasak untuk dijadikan gula kelapa. Bila didapatkan nira yang keruh dan banyak mengandung busa, sebaiknya nira dibuang karena bila dipaksa pun akan diperoleh gula kelapa kualitas rendah yang biasa disebut “gula gemblung” yang tidak laku di pasarkan (Santoso, 1993).
Santoso (1993) menyatakan bahwa nira kelapa mudah mengalami fermentasi karena mengandung ragi liar yang sangat aktif. Bila nira terlambat dimasak, biasanya warna nira berubah menjadi keruh dan kekuningan, rasanya masam dan baunya menyengat. Hal ini disebabkan oleh adanya pemecahan sukrosa menjadi gula reduksi.
Perubahan dari sukrosa menjadi alkohol terlibat kagiatan ragi, selanjutnya dari alkohol keasam asetat terlibat kegiatan bakteri dan hasilnya berupa cuka masam.  Proses tersebut terjadi karena rendahnya pH nira. Dengan berkurangnya sukrosa, maka gula yang didapat bersifat higroskopis dan cepat meleleh. Pengawet yang biasa ditambahkan untuk mengatasi hal tersebut adalah air kapur, getah manggis, tatal nangka sehingga sukrosa tidak berubah menjadi alkohol dan asam asetat. Pengawet lain yang bisa ditambahkan adalah natrium bisulfit (NaHSO3) sebanyak 50 ppm sehingga warna gula kelapa selama penyimpanan tidak menjadi gelap (Santoso, 1993).
Menurut Rumokoi (1996), nira tanpa perlakuan pengawetan apabila dibiarkan selang beberapa waktu akan mengalami perubahan sifat. Perubahan sifat kimia nira terjadi karena adanya aktivitas mikroba penghasil enzim yang mendorong perubahan tersebut. Perubahan sifat nira ditandai dengan perubahan rasa nira yang mulanya manis menjadi asam. Pembentukan asam pada nira (fermentasi) melalui tiga tahap yaitu: tahap pertama dimana sukrosa berubah menjadi glukosa dan fruktosa, proses ini terjadi karena adanya aktivitas mikroba yang dapat mengeluarkan enzim invertase. Enzim invertase dapat merubah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa sehingga kandungan sukrosa akan turun dari 14-18% menjadi 0% dalam waktu 47 jam. Reaksi perubahan tersebut adalah sebagai berikut:

C12H22O11+ H20    àC6H12O6 + C6H12O6
Sukrosa Airglukosafruktosa

Tahapan kedua adalah terjadinya fermentasi glukosa dan fruktosa pada nira menjadi etanol dan gas CO2. Pada tahap ini kadar alkohol berubah dari 0 menjadi 7 % dalam waktu 15-20 jam. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

2C6H12O6à4CO2   +    4C2H5OH
glukosa/fruktosa karbon dioksidan     etil alkohol

            Tahap terakhir adalah terjadinya pembentukan asam yang berasal dari proses oksidasi etanol menjadi asam cuka. Reaksi perubahan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

2 CH3CH2OH+ 2 O2à 2 CH3CHO    +      2 H2O
 Etanolair              asetal-dehidaair  

2 CH3CHO+O2à2 CH3COOH
asetal-dehida        Oksigen  asam cuka

Untuk menghambat proses fermentasi nira pada waktu penyadapan, para penderas menggunakan pengawet seperti getah manggis, tatal nangka, larutan kapur, Na-metabisulfit, atau campuran diantaranya. Masing-masing pengrajin memiliki cara yang berbeda dalam mengawetkan nira selama penyadapan baik dalam jenis pengawet yang digunakan maupun dosis yang ditambahkan (Santoso, 1993).
Na-metabisulfit merupakan bahan pengawet yang juga digunakan untuk mengawetkan nira. Pengawet jenis ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri,  namun harganya mahal dan bila dikonsumsi dalam konsentrasi yang tinggi dapat bersifat racun dan mempengaruhi citarasa dan warna makanan sehingga tidak disukai. Gula kelapa yang mengandung Na-bisulfit tinggi berwarna coklat muda (kekuning-kuningan) dan rasanya asin. Warna gula kelapa yang cerah akibat penambahan Na-bisulfit dapat menghambat pencoklatan enzimatis sehingga lebih dapat mempertahankan warna asli nira segar (Buckle, et al, 1987). Takaran yang sesuai dimana akan memberikan hasil terbaik adalah 0,5 % serbuk kapur atau 5 gram dalam 1 L nira. Penggunaan 1,5 gram serbuk kapur dan natrium bisulfit 0,1 % sebanyak 20 ml untuk setiap liter nira dapat mempertahankan keasaman nira 6,3 – 7,0 (Rumokoi dan Joseph, 1994).

Gula Kelapa
Gula kelapa yang baik berwarna kuning kecoklatan, kering, keras, dan padat. Karakter tersebut akan didapatbila pH nira sebelum dipanaskan berkisar antara 5,5-6,5. Warna coklat pada gula kelapa didapat dari reaksi pencoklatan enzimatis yaitu karamelisasi dan mailard selama proses pemasakan. Selain menghasilkan pigmen warna coklat pada gula, reaksi karamelisasi juga berperan penting dalam menghasilkan citarasa yang khas pada gula kelapa (Balai Besar Industri Hasil Pertanian, 1993).
Menurut Rumokoi (1994), untuk membentuk warna, citarasa, dan aroma namun dapat mengakibatkan perubahan nilai gizi pada komponen proteinnya. Ada tiga macam reaksi pencoklatan enzimatis yang sudah dikenal yaitu reaksi maillard, karamelisasi, dan oksidasi asam askorbat. Penggolongan jenis reaksi tersebut didasrkan pada jenis reaktan yang terlibat dalam proses reaksi tersebut. Pada reaksi maillard yang berperan sebagai reaktan adalah protein/asam amino dan gula pereduksi, pada reaksi karamelisasi yang menjadi reaktan adalah gula pereduksi, dan yang menjadi reaktan pada oksidasi asam askorbat adalah asam askorbat.
Gula kelapa mengandung asam-asam organik yang menyebabkan rasa asam serta memiliki aroma yang khas. Rasa karamel yang timbul pada gula kelapa diduga disebabkan adanya reaksi karamelisasi akibat panas selama pemasakan sehingga timbul warna coklat pada gula kelapa (Nengah, 1990).Syarat mutu gula kelapa menurut SNI-01-7343-1995 dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Syarat Mutu Gula Kelapa
No
Uraian
Satuan
Persyaratan
1
Penampakan:
a.       Bentuk
b.       Warna
c.        Rasa dan Aroma


Padatan normal
Kuning kecoklatan – coklat
Khas gula kelapa
2
Air (%)

Maks 10 %
3
Abu (%)

Maks 2 %
4
Gula Pereduksi (%)

Maks 12 %
5
Jumlah gula dihitung sebagai sukrosa (%)

Min 77 %
6
Bagian yang tidak larut dalam air (%)

Min 1 %
7
SO2 sisa
mg/kg
Maks 300
8
Pemanis buatan : sakarin, siklamat, serta garam-garamnya.

Tidak ditemukan
9
Cemaran logam :
a.       Timbal (Pb)
b.       Tembaga (Cu)
c.        Seng (Zn)

mg/kgt
mg/kg
mg/kg

Tidak ditemukan
Tidak ditemukan
Tidak ditemukan
10
Arsen
mg/kg
Tidak ditemukan
Sumber : Badan Standarisasi Nasional (1995)

Kandungan asam dan gula pereduksi yang tinggi pada gula kelapa dapat mempercepat karamelisasiselama pemanasan dan juga menyebabkan gula merah lebih higroskopis sehingga menjadi cepat lembek selama penyimpanan. Kandungan gula kelapa walaupun sedikit turut berperan dalam pembentukan warna coklat terutama karena adanya gula pereduksi yang cukup tinggi. Molekul-molekul protein yang ikut larut dalam air di dalam gula kelapa akan tersebar di antara kristal-kristal gula yang terbentuk sehingga kekerasan gula kelapa akan berkurang (Santoso, 1993).

a.        Kapur Tohor (CaO)
            Kapur tohor digunakan sebagai bahan pengawet karena mampu membentuk kalsium hidroksida yang bersifat desinfektan, menggumpalkan protein dan asam nukleat serta merusak dinding sel mikrobia. Selain itu kapur juga berfungsi sebagai larutan penyangga untuk mempertahankan derajat keasaman nira “pH” sekitar 6-7, sebab nira dikatakan rusak jika pH kurang dari 6 ditandai rasa yang masam. Biasanya nira yang dipanen sore hari akan direbus hingga mendidih yang berguna untuk mematikan mikroorganisme sebelum diproses pada esok harinya (Pragita, 2010).

b.        Kulit Manggis
(Gopalakrishnan et al.,1997) menemukan senyawa xanton pada kulit buah manggis memiliki aktivitas antimikroba terhadap kapang seperti Fusarium oxysporum, Altemaria tenuis dan Dreschlera oryzae. Linuma et al., (1996) melaporkan α- mangostin, senyawa xanton dari kulit manggis memiliki daya antimikroba terhadap Staphylococcus aureus

Proses pembuatan gula kelapa
            Diagram alir proses pembuatan gula kelapa dapat dilihat pada Gambar 2.
 







           


 





Gambar 2. Diagram alir proses pembuatan gula kelapaSumber: Pragita (2010)

Penyadapan Nira
Kebersihan dan kesegaran nira harus benar-benar diperhatikan. Sebelum penyadapan, bumbung dicuci dengan air dingin kemudian dibilas dengan air panas lalu dikeringkan atau diasapi. Nira dari penyadapan diukur pHnya dan bila keasamaannya tinggi harus dinetralkan sampai pH mencapai angka 6,0-7,0. Sesudah pH nira yang diinginkan tercapai, lalu disaring dengan kain saring untuk menghindari pengendapan kapur atau kotoran di dalam nira (Santoso, 1993).

Pembuangan Kotoran
Sebelum dimasak, nira disaring terlebih dahulu untuk membuang kotoran-kotoran yang berupa bunga kelapa, lebah, dan semut. Penyaringan nira ini hendaknya menggunakan saringan yang bersih, dan hasil saringan langsung ditampung di dalam wajan (Santoso, 1993).

Pemanasan Nira
Nira yang sudah bersih selanjutnya dipanaskan hingga mendidih dengan suhu antara 110-120ºC sambil diaduk. Pada saat nira mendidih, nira berbuih dan  bercampur dengan kotoran halus dan harus dihilangkan dengan diserok. Untuk menjaga agar buih didalam wajan tidak meluap maka ditambahkan 1 sendok makan minyak kelapa atau santan untuk setiap 25 liter nira. Pada saat ini harus dihindari terjadinya pemasakan yang melewati titik end point yakni berkisar 110ºC (Pragita,2010). End point merupakan suhu akhir pemasakan, dimana nira sudah mulai kental dan meletup-letup. Akhir pemasakan juga dapat diketahui secara visual, yaitu nira yang dipanaskan akan menggumpal (memadat dan mengeras) dan tidak bercampur dengan air jika dituang kedalam air dingin. Penentuan end point dapat dilakukan dengan cara memasukkan beberapa tetes masakan ke dalam gelas yang berisi air. End point sudah tercapai apabila masakan tidak larut dalam air (mengendap).
Kerangka Berfikir

  Proses pembuatan gula kelapa ini dimaksudkan untuk menggantikan Na-metabisulfit menggunakan kapur tohor dan kulit manggis sebagai bahan untuk mengawetkan nira. Sifat basa kapur tohor digunakan untuk mempertahankan derajat keasaman nira dan sifat antimikroba dari ekstrak kulit buah manggis digunakan untuk menekan laju pertumbuhan ragi liar pada nira yang diolah. Formulasi kapur tohor dan kulit manggis yang ditambahkan yaitu (95:5)%, (92,5:7,5)%, (90:10)%, (87,5:12,5)%, (85:15)%.  Kemudian dilakukan pengujian pada uji kimia (kadar air, abu, pH, gula pereduksi dan sukrosa pada gula kelapa dengan formulasi penambahan kapur tohor dan kulit manggis, kadar xanthone kulit manggis basah dan kering, kadar xanthone larutan), uji organoleptik dan uji penunjang. Bagan kerangka berfikir dapat dilihat pada Gambar3.



























Text Box: Faktor yang ditelitiKeterangan
Text Box: Faktor yang ditelitiText Box: Faktor yang ditelitiText Box: Faktor yang ditelitiText Box: Faktor yang ditelitiText Box: Faktor yang ditelitiText Box: Faktor yang ditelitiText Box: Faktor yang ditelitiText Box: Faktor yang ditelitiText Box: Faktor yang ditelitiText Box: Faktor yang ditelitiText Box: Faktor yang ditelitiGambar          3. Skema kerangka berfikir pengaruh konsentrasi CaO dan kulit manggis terhadap mutu gula kelapa.
Bahan baku yang digunakan adalah nira kelapa, sedangkan bahan tambahan adalah kapur tohor (CaO) dan kulit manggis. Untuk menghasilkan gula kelapa yang berkualitas baik perlu digunakan bahan baku dan bahan tambahan yang bermutu dengan jumlah yang sesuai.          
           
Perumusan Hipotesis

            Diduga ada perbedaan antara mutu gula kelapa dengan formulasi kapur tohor dan kulit manggis 95%:5%;  92,5%:7,5%; 90%:10%;  87,5%:12,5%; 85%:15%.

Tempat dan waktu Penelitian
             Penelitian dilakukan di petani gula kelapa Desa Sukawera, kecamatan Cilongok, Purwokerto. Uji organoleptik dilakukan di Laboratorium Teknologi Pangan Universitas Sahid, Jakarta dan Laboratorium Organoleptik PT Indofood CBP Sukses Makmur Food Seasoning Division.Uji kimia untuk xanthone dan uji penghambatan bakteri dilakukan di laboratorium jasa sertifikasi PT. Mula Tama Laboratorium, Jakarta timur.  Sedangkan uji kimia pada produk terbaik dilakukan di Laboratorium Kimia PT Indofood CBP Sukses Makmur Food Seasoning Division. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2014 sampai Agustus 2015.

Variabel Bebas
            Variabel bebas pada penelitian ini terdiri dari satu faktor (A). Faktor A adalah formulasi dari konsentrat kapur tohor (CaO) dan kulit manggis dengan lima taraf.
Taraf A1          : Formulasi kapur100% :kulit                                      manggis 0%
Taraf A2          : Formulasi kapur95% : kulit                                                   manggis 5%
Taraf A3          : Formulasi kapur90% :kulit                                                    manggis 10%
Taraf A4          : Formulasi kapur85% :kulit                                                    manggis 15%
Taraf A5          : Formulasi kapur80% :kulit                                                    manggis 20%


Variabel Terikat
             Variabel terikat pada penelitian ini adalah mutu gula kelapa yang ditentukan berdasarkan uji kimia terhadap kadar air, kadar abu, kadar gula pereduksi, total gula; uji organoleptik dengan cara uji mutu hedonik dan uji rangking terhadap penampakan, warna, rasa, tekstur dan aroma gula kelapa.

Variabel Terkontrol
Variabel terkontrol pada penelitian ini yaitu suhu dan waktu pemasakan, waktu penyadapan.
Penelitian Pendahuluan
        Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mempelajari cara membuat gula kelapa yang baik dan benar. Penentuan formula penambahan kapur (CaO) dan kulit manggis dilakukan secara eksploratif dengan menggunakan panelis.Melalui penelitian pendahuluan ditetapkan perbandingan kapur (CaO) dan kulit manggisyang dilakukan pada penelitian utama.
        Uji hedonik dan uji rangking pada penelitian pendahuluan dilakukan oleh 15 orang panelis semi terlatih.Sampel diuji berdasarkan tingkat kesukaan panelis terhadap warna, aroma, rasa dan tekstur.Data hasil organoleptik uji mutu hedonik terhadap gula kelapa cetak dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3.Data hasil organoleptik uji hedonik terhadap gula kelapa cetak

No.
Atribut
Skor Presentase Penambahan Konsentrate Kapur : Kulit Manggis
(100:0)%
(95:5)%
(90:10)%
(85:15)%
(80:20)%
1
Warna
2,6
4,1
3,7
3,4
2,7
2
Aroma
2,9
3,6
3,4
3,2
2,7
3
Rasa
2,7
3,7
4,0
3,3
2,7
4
Tekstur
3,9
3,5
4,1
3,9
4,0





Keterangan skor nilai :
1 = sangat tidak suka
2 = tidak suka
3 = agak suka
4 = suka
5 = sangat suka
6 = amat sangat suka


          Setelah uji mutu hedonik selesai dilakukan, terhadap panelis yang sama diberikan form penilaian uji rangking untuk memberikan penilaian terhadap sampel mana yang paling disukai sampai sampel mana yang tidak disukai. Hasil dari penilaian uji rangking dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Data hasil organoleptik uji rangking terhadap gula kelapa
Hasil
Skor Presentase Penambahan Konsentrate Kapur Tohor : Kulit Manggis
(100:0)%
(95:5)%
(90:10)%
(85:15)%
(80:20)%
Total
-3,5
0,5
5,32
1,5
-3,8
Rata-rata
-0,233
0,111
0,388
0,023
-0,288
Rangking
4
2
1
3
5

          Dari penelitian pendahuluan yang dilakukan untuk pengolahan gula kelapadengan konsentrasikapur tohor : kulit manggis (100:0); (95:5); (90:10); (85:15); (80:20), diperoleh hasil bahwa untuk  uji mutu hedonik yang kemudiandilanjutkan dengan uji rangking, sampel yang masih dapat diterima oleh para panelis adalah pada taraf  konsentrasi (95:5), (90:10) dan (85:15).
       Sehingga dalam penelitian utama akan diteliti pembuatan gula kelapa cetak, kapur tohor :kulit manggis pada konsentrasi (95:5); (92,5:7,5); (90:10); (87,5:12,5); (85:15) untuk mendapatkan gula kelapa mutu terbaik.

Penelitian Utama


            Penelitian utama bertujuan untuk mencari hubungan sebab akibat atau pengaruh konsentrasi pemakaiankapur tohor (CaO) dan kulit manggis (Garciana mangostana) terhadap mutu gula kelapa. Jenis penelitian yang sesuai adalah penelitian eksperimental. Karena variable bebas terdiri dari satu faktor yaitu konsentrasi perbandingan kapur tohor dan kulit manggis dengan lima taraf, maka rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal dengan lima taraf dan tiga kali ulangan.

Teknik Pengambilan Contoh
             Nira yang digunakan dalam penelitian ini adalah nira dari petani di Desa Sukawera, kecamatan Cilongok, Purwokerto.Penyadapan nira pada pohon kelapa dipilih secara sengaja dengan memperhatikan kualitas nira dari kelapa tersebut. Kapur tohor dan kulit manggis diperoleh dari warung Bapak Suroso di Desa Sukawera, kecamatan Cilongok, Purwokerto.Pengambilan contoh untuk perlakuan dan pengujian dilakukan secara acak.

Teknik Pengumpulan Data
             Data yang diteliti berupa data utama dan data penunjang. Data utama meliputi data kimia berupa kadar air,  kadar abu, kadar gula pereduksi, dan  jumlah gula dihitung sebagai sukrosa; data organoleptik berupa uji kesukaan (rangking), dan mutu hedonik warna, aroma, rasa dan  tekstur. Sedangkan data penunjang meliputi uji kadar xanthone, uji penghambatan bakteri dan ALT (Angka Lempeng Total).

Teknik Analisa Data
             Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dan inferensial.Analisa deskriptif dilakukan untuk mengetahui kecenderungan mutu gula kelapa akibat perlakuan perbandingan konsentrasi pemakaian kapur tohor dan kulit manggis. Data disajikan dalam bentuk table dan diagram batang. Analisa data secara inferensial dilakukan untuk menguji hipotesa penelitian. Tehnik analisa yang digunakan adalah analisis varian (ANAVA) faktor tunggal denganlima taraf dan tiga kali ulangan. Tabel ANAVA dapat dilihat padaTabel5.
Tabel 5 .Uji ANAVA pengaruh konsentrasi penambahan kapur tohor dan kulit manggis terhadap mutu gula kelapa.
Sumber keragaman
Db
JK
KT
F-hitung
Sig.





(SPSS)
Perlakuan
4
JKP
KTP=JKP/4
KTP/KTG
Galat
10
JKG
KTG=JKG/10


Total
14
JKT



Parameter
Formulasi kapur tohor dan kulit manggis (%)
95:5
92,5:7,5
90:10
87,5:12,5
85:15
Air (%)
9,79
9,41
8,95
8,79
8,64
Abu (%)
1,81
1,88
1,91
1,89
1,90
Sukrosa (%)
77,42
78,99
80,84
81,88
84,55
Gula reduksi (%)
8,66
8,35
8,32
8,28
7,92
Keterangan: Nilai sig < 0,05 dan 0,01, maka H0 ditolak, Nilai sig > 0,05 dan 0,01, maka H0 diterima

Mutu dan Pembahasan
       Mutu kimia gula kelapa meliputi pengujian kadar air, abu, sukrosa, dan gula reduksi.
Tabel 6 .Nilai mutu kimia gula kelapa dengan formulasi kapur tohor dan kulit manggisyang berbeda



A. Mutu Kimia
1. Kadar Air
            Hasil kadar air gula kelapa juga dapat dilihat pada diagram batang Gambar 4.
            Gambar 7. Diagram batang kadar air gula kelapa dengan formulasi kapur tohor dan kulit manggisyang berbeda
      
       Hasil pengamatan menunjukkan semakin berkurangnya kapur dan bertambahnya kulit manggis yang ditambahkan, kadar air gula kelapa yang dihasilkan semakin turun. Turunnya kadar air tersebut diduga karena kemampuan formulasi masing-masing perlakuan yang mempengaruhi nilai pH nira. Rendahnya pH nira dikarenakan formulasi yang digunakan kurang mampu mempertahankan nira dari kontaminasi mikroba sehingga terjadi hidrolisisis sukrosa pada nira yang menghasilkan gula-gula reduksi dan asam. Terbentuknya gula reduksi tersebut mempengaruhi kadar air pada gula kelapa karena gula reduksi akan menyerap air lebih banyak dibanding dengan sukrosa. Kusnandar (2010) menyatakan bahwa sifat higroskopis gula reduksi disebabkan oleh adanya gugus polihidroksi yang mampu membentuk ikatan hidrogen dengan air. Tabel 7 hasil analisa sidik ragam .
Tabel 7.    Hasil analisis sidik ragam nilai kadar air gula kelapa dengan formulasi kapur tohor dan kulit manggisyang berbeda
Sumber keragaman
Db
JK
KT
F
Sig
α = 0.01
α = 0.05
Perlakuan
4
2.703
0.676
6.916
0.006
0.006
Galat
10
0.977
0.098


Total
14
3.680



Keterangan: Signifikasi < α = 0,01 maka H0 ditolak dan H1 diterima artinya ada                             perbedaan sangat nyata.

            Hasil analisis sidik ragam pada Tabel 7 menunjukkan bahwa terdapat pengaruh sangat nyata karena nilai signifikan lebih kecil daripada α = 0.01. Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima, ini berarti perbandingan formulasi kapur tohor dan kulit manggis yang berbeda berpengaruh sangat nyata terhadap nilai kadar air gula kelapa.
            Kadar air gula kelapa yang ditetapkan pada SNI-01-7343-1995 adalah maksimal 10 % b/b. Hasil kadar air pada semua perlakuan menunjukkan angka di bawah nilai tersebut yang berarti semua perlakuan telah memenuhi syarat SNI.
2. Kadar Abu
            Hasil pengamatan kadar abu dapat dilihat pada Gambar 5 dan Tabel 8.
Gambar 5. Diagram batang kadar abu gula kelapa

Tabel 8.    Hasil analisis sidik ragam kadar abu gula kelapa
Sumber keragaman
Db
JK
KT
F
Sig
α = 0.01
α = 0.05

Perlakuan
4
0.018
0.04
2.843
0.082
0.082
Galat
10
0.016
0.02


Total
14
0.033



Keterangan: Signifikasi < α = 0,01 maka H0 ditolak dan H1 diterima artinya ada                             perbedaan sangat nyata.
                
                 Hasil analisis sidik ragam untuk nilai rata-rata kadar abu gula kelapa pada Tabel 8 menunjukkan bahwa terdapat pengaruh tetapi tidak nyata karena nilai signifikan lebih besar daripada α = 0.01. Dengan demikian H0 diterima dan H1 ditolak, ini berarti perbandingan konsentrasi kapur tohor dan kulit manggis  berpengaruh tapi tidak nyata terhadap nilai kadar abu gula kelapa.
                 Kadar abu merupakan campuran dari komponen anorganik atau mineral yang terdapat pada suatu bahan pangan. Bahan pangan sendiri terdiri dari 96% bahan anorganik dan air, sedangkan sisanya merupakan unsur-unsur mineral.

3. Kadar Sukrosa
                 Nilai kadar sukrosa juga dapat dilihat pada grafik batang Gambar 6.



Gambar 6. Diagram batang nilai kadar sukrosa gula kelapa

            Diagram batang pada Gambar 6 menunjukkan semakin sedikitnya kapur dibandingkan dengan semakin banyaknya kulit manggis yang ditambahkan maka kadar sukrosa semakin tinggi. Kadar sukrosa berkaitan dengan kadar gula reduksi dan pH nira. Sukrosa semakin tinggi artinya gula reduksi semakin rendah. Tingginya kadar sukrosa gula kelapa karena sukrosa dalam nira tidak banyak yang terhidrolisis menjadi gula reduksi. Kadar sukrosa paling tinggi dimiliki oleh gula kelapa dengan formulasi kapur tohor dan kulit manggis sebesar 85%:15% . Pada formulasi tersebut, banyaknya kapur  untuk mempertahankan pH nira dan  ekstrak kulit manggis yang berfungsi sebagai penghambat laju pertumbuhan mikroba berfungsi sangat efektif,  sehingga kerusakan pada nira lebih dapat dicegah.
Hasil analisis pengolahan data lebih lanjut dapat di lihat melalui analisis sidik ragam pada Tabel 9.
Tabel 9.    Hasil analisis sidik ragam kadar sukrosa gula kelapa dengan formulasi kapur tohor dan kulit manggisyang berbeda

Sumber keragaman
Db
JK
KT
F
Sig
α = 0.01
α = 0.05
Perlakuan
4
89.591
22.398
30.457
0.000
0.000
Galat
10
7.354
0.735


Total
14
96.945



Keterangan: Signifikasi < α = 0,01 maka H0 ditolak dan H1 diterima artinya ada                             perbedaan sangat nyata.
                
                 Hasil analisis sidik ragam untuk nilai rata-rata kadar sukrosa gula kelapa pada Tabel 9 menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang sangat nyata pada taraf α = 0.01. Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima, ini berarti perbandingan konsentrasi kapur tohor dan kulit manggis berpengaruh terhadap nilai kadar sukrosa gula kelapa.
                 MenurutSNI-01-7343-1995 tentang syarat mutu gula kelapa kadar sukrosa minimal adalah 77 %, jadi kadar sukrosa gula kelapa pada penelitian ini telah memenuhi syarat mutu gula kelapa

4. Kadar gula reduksi
                 Nilai gula reduksi juga dapat dilihat pada grafik batang Gambar 7.
Gambar 7.Diagram batang kadar gula reduksi gula kelapa dengan formulasi kapur tohor dan kulit manggisyang berbeda

                 Dari Gambar 7 di atas memperlihatkan semakin banyak penambahan kulit manggis maka gula reduksi yang dihasilkan semakin menurun.
Hasil analisis pengolahan data lebih lanjut dapat di lihat melalui analisis sidik ragam pada Tabel 10.
Tabel 10.  Hasil analisis sidik ragam nilai kadar gula pereduksigula kelapa dengan formulasi kapur tohor dan kulit manggisyang berbeda
Sumber keragaman
Db
JK
KT
F
Sig
α = 0.01
α = 0.05
Perlakuan
4
0.824
0.206
2.637
0.097
0.097
Galat
10
0.781
0.078


Total
14
1.606



Keterangan: Signifikasi < α = 0,01 maka H0 ditolak dan H1 diterima artinya ada perbedaan sangat nyata. 


                 Hasil analisis sidik ragam untuk nilai rata-rata kadar gula pereduksi gula kelapa pada Tabel 10 menunjukkan bahwa terdapat pengaruh tetapi tidak nyata karena nilai signifikan lebih besar daripada α = 0.01. Dengan demikian H0 diterima dan H1 ditolak, ini berarti perbandingan konsentrasi kapur tohor dan kulit manggis  berpengaruh tidak nyata terhadap nilai kadar gula pereduksi gula kelapa


5. pH
                 Nilai pH dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8. Diagram batang pH gula kelapa dengan formulasi kapur tohor dan kulit manggisyang berbeda

Diagram batang pada Gambar 8 menunjukkan semakin sedikitnya kapur dibandingkan dengan semakin banyaknya kulit manggis yang ditambahkan maka pH nira semakin naik. Hasil analisis pengolahan data lebih lanjut dapat di lihat melalui analisis sidik ragam pada Tabel 11
Tabel 11.  Hasil analisis sidik ragam pH nira dengan formulasi kapur tohor dan kulit manggisyang berbeda
Sumber keragaman
Db
JK
KT
F
Sig
α = 0.01
α = 0.05
Perlakuan
4
0.879
0.220
93.136
0.000
0.000
Galat
10
0.024
0.002


Total
14
0.903



Keterangan: Signifikasi < α = 0,01 maka H0 ditolak dan H1 diterima artinya ada                                                perbedaan sangat nyata.
                 Hasil analisis sidik ragam untuk nilai pH nira pada Tabel 11 menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang sangat nyata pada taraf α = 0.01. Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima, ini berarti formulasi kapur tohor dan kulit manggis berpengaruh terhadap nilai pH nira kelapa.

6. Xanthone
Hasil analisa xanthone dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Diagram batang xanthone formulasi kapur tohor dan kulit manggisyang berbeda

Diagram batang pada Gambar 9 menunjukkan semakin semakin banyaknya kulit manggis yang ditambahkan maka kadar xanthone juga ikut naik. Hasil analisis pengolahan data lebih lanjut dapat di lihat melalui analisis sidik ragam pada Tabel 12
Tabel 12.  Hasil analisis sidik ragam kadar xanthone dengan formulasi kapur tohor dan kulit manggisyang berbeda




Sumber keragaman
Db
JK
KT
F
Sig
α = 0.01
α = 0.05
Perlakuan
4
2.478
0.620
4040.804
0.000
0.000
Galat
10
0.002
0.000


Total
14
2.480



Keterangan: Signifikasi < α = 0,01 maka H0 ditolak dan H1 diterima artinya ada                 perbedaan sangat nyata.
                
            Hasil analisis sidik ragam untuk kadar xanthone pada Tabel 13  menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang sangat nyata pada taraf α = 0.01. Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima, ini berarti formulasi kapur tohor dan kulit manggis berpengaruh terhadap kadar xanthone tiap formulasi

B. Mutu Organoleptik
    
               Mutu organoleptik gula kelapa dengan formulasi kapur tohor dan kulit manggis berbeda ditentukan berdasarkan penilaian mutu hedonik dan urutan tingkat kesukaan secara umum (uji rangking) oleh 25 panelis semi terlatih. Uji mutu hedonik dilakukan terhadap parameter warna, aroma, rasa dan tekstur (kekerasan). Adapun uji rangking dilakukan untuk mengetahui tingkat kesukaan produk secara keseluruhan.Hasil rata-rata pengujian organoleptik gula kelapa yang berbeda dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Hasil rata – rata pengujian organoleptik gula kelapa dengan formulasi kapur tohor dan kulit manggisyang berbeda
Parameter organoleptik
Formulasi kapur tohor dan kulit manggis (%)
95:5
92,5:7,5
90:10
87,5:12,5
85:15
Warna
3,4
3,6
3,6
4,1
4,6
Aroma
3,3
3,6
3,8
3,7
3,2
Rasa
3,4
3,6
4,0
3,9
3,5
Tekstur
3,3
3,6
3,9
4,1
3,7
Rangking
-0,18
-0,41
-0,27
0,52
0,33

1. Uji Mutu Hedonik warna

Salah satu faktor yang mempengaruhi warna gula kelapa adalah pH. Pada perlakuan penambahan larutan dengan konsentrasi formulasi kapur tohor dan kulit manggis sebanyak (85:15)% menghasilkan warna gula kelapa kuning kecoklatan. Sedangkan pada formulasi (95:5)% warna gula kelapa  merah kecoklatan. Dengan semakin banyaknya formulasi kapur yang ditambahkan, warna gula kelapa semakin coklat. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya kandungan kapur yang bersifat basa. Dengan semakin banyaknya kapur yang ditambahkan, maka semakin basa.
Reaksi pencoklatan umumnya dibagi menjadi dua golongan, yaitu reaksi pencoklatan enzimatik dan reaksi pencoklatan non enzimatik. Reaksi pencoklatan non enzimatik dibagi lagi menjadi tiga macam reaksi, yaitu karamelisasi, reaksi maillard dan pencoklatan akibat pengaruh  vitamin C. Karamelisasi terjadi bila gula dipanaskan di atas titik lelehnya dan berubah menjadi warna coklat disertai dengan perubahan cita rasa. Reaksi maillard terjadi antara amina, asam amino, dan protein dengan gula pereduksi bila dipanaskan. Vitamin C merupakan senyawa reduktor dan dapat juga bertindak sebagai precursor untuk pembentukan warna coklat non enzimatik. Reaksi pencoklatan enzimatik disebabkan karena oksidasi senyawa fenolik oleh enzim. Senyawa fenolik dengan jenis ortohidroksi atau trihidroksi yang saling berdekatan merupakan substrat yang baik untuk proses pencoklatan. Menurut Catrien et al. (2008), reaksi Maillard berlangsung lebih baik pada suasana basa, sehingga warna gula kelapa dengan penambahan kapur lebih banyak menghasilkan gula kelapa menjadi gelap atau cokelat.

2. Mutu Hedonik Aroma

   Banyaknya kapur tohor atau kulit manggis sangat mempengaruhi aroma gula kelapa yang dihasilkan karena apabila terlalu banyak yang ditambahkan, aroma khas yang dimiliki kapur tohor tergantikan oleh aroma kapur atau kulit manggis tersebut. Formulasi kapur tohor 87,5%;12,5% cukup efektif mempertahankan aroma gula kelapa. Aroma pada gula kelapa terbentuk dari hasil reaksi Maillard dan karamelisasi pada proses pemasakan gula kelapa. Karamelisasi memberikan kontribusi pada aroma karena selain menghasilkan warna cokelat juga menghasilkan senyawa maltol dan isomaltol yang memiliki aroma karamel yang kuat dan rasa manis (Tjahjaningsih, 1996). Gula merah memiliki aroma yang khas, hal ini disebabkan reaksi karamelisasi dan kandungan asam-asam organik (Sukardi, 2010).  

3. Mutu Hedonik Rasa

   Rasa adalah faktor sangat penting dalam menentukan keputusan akhir dalam menerima atau menolak suatu makanan, tetapi jika rasanya tidak enak atau tidak disukai maka produk akan ditolak. Pemberian larutan kapur dan kulit buah manggis diduga memberikan rasa getir pada gula kelapa yang dapat mengakibatkan konsumen kurang suka. Ada kemungkinan senyawa dari ekstrak kulit buah manggis yang mampu memberikan rasa getir telah terdegradasi karena adanya suhu tinggi selama pengolahan gula kelapa. Selain itu dengan adanya kapur pada formulasi, menghasilkan gula kelapa dengan rasa agak pahit. Rasa gula kelapa yang ditambahkan kapur menghasilkan gula merah sedikit pahit (Santoso, 1993).

4.  Mutu Hedonik Tekstur

   Tekstur merupakan salah satu kualitas yang paling penting dalam kualitas produk pangan. Tekstur gula kelapa berpengaruh erat dengan kadar air. Semakin tinggi kadar air maka gula kelapa akan semakin lunak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gula kelapa dengan jumlah penambahan konsentrasi kapur lebih sedikit dengan ekstrak kulit manggis yang lebih banyak cenderung memiliki tekstur yang lebih keras. Hal ini dikarenakan pada penambahan tersebut dapat mencegah terjadinya hidrolisis sukrosa menjadi gula reduksi pada nira. Kadar gula reduksi yang semakin rendah menyebabkan sifat higroskopis gula kelapa semakin rendah, akibatnya gula menjadi semakin keras (nilai teksturnya rendah). Gula merah memiliki tekstur dan struktur yang kompak, serta tidak terlalu keras sehingga mudah dipatahkan dan memberikan kesan lunak (Sukardi, 2010).

5. Uji Rangking

            Uji rangking dilakukan untuk mengetahui tingkat penerimaan secara keseluruhan terhadap gula kelapa. Hasil pengamatan terhadap tingkat kesukaan gula kelapa secara umum (rangking) dengan formulasi konsentrasi kapur tohor dan kulit manggis yang berbeda(95%:5%; 92,5%:7,5%; 90%:10%; 87,5%:12,5% dan 85%:15%) secara berurutan yaitu sebesar -0,18; -0,41; -0,27; 0,52 dan 0,33

A.    Data Penunjang
Untuk menunjang hasil akhir produk gula kelapa, beberapa analisa penunjang yang dilakukan yaitu: TPC nira kelapa tanpa penambahan larutan kapur tohor dan kulit manggis,  dan uji penghambatan bakteri. Uji kadar xanthone dan uji penghambatan bakteri dapat dilihat pada Tabel 15. Uji daya hambat mikroba adalah menghambat membasmi atau menyingkirkan mikroorganisme dengan cara mengganggu pertumbuhan dan metabolisme melalui mekanisme penghambatan pertumbuhan mikroorganisme menggunakan zat antibakterial.
Tabel 15. Hasil analisis uji penghambatan bakteri
No
Formulasi larutan (%)
Uji penghambatan bakteri (mm)
1
85:15
2,9 ± 0,3
2
87,5:12,5
2,7 ± 0,1
3
90:10
2.6 ± 0.2
4
92,5:7,5
2,5 ±0,2
5
90:10
2,4 ± 0.3
Diameter zona hambatan pertumbuhan bakteri menunjukan sensitifitas bakteri terhadap zat anti bakteri. Selanjutnya dikatakan bahwa semakin lebar diameter zona tambatan yang terbentuk bakteri tersebut semakin sansitif (Lay, 1992). Dari hasil analisis yang diperoleh bisa disimpulkan bahwa semakin banyak konsentrasi kulit manggis yang digunakan maka uji hambat bakterinya juga semakin tinggi.

Kesimpulan dan Saran

A.           Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang sangat nyata pada mutu gula kelapa dengan formulasi kapur tohor dan kulit manggis yang berbeda yaitu pada uji kimia berupa kadar air, kadar sukrosa, pH dan xanthone. Berbeda sangat nyata juga pada uji mutu hedonik warna, aroma, rasa, tekstur dan uji rangking. Mutu gula kelapa dengan konsentrasi kapur tohor dan kulit manggis yang terbaik berdasarkan uji rangking dan uji kimia adalah pada formulasi 85%:15%.  Berikut adalah hasil keseluruhan mutu kimia dan organoleptik.
1.             Mutu kimia berupa kadar air adalah 8,64%, kadar abu 1,90%, gula reduksi 7,92%, dan kadar sukrosa 84,55%
2.             Mutu organoleptik berupa mutu  hedonik warna gula kelapa dengan skor 4,6 (kuning  kecoklatan), aroma dengan skor 3,2 (agak kuat), rasa dengan skor 3,9 (gurih), tekstur dengan skor 3,7 (keras). Sedangkan uji rangking tingkat kesukaan adalah 0,33.

B.            Saran

Disarankan agar dilakukan penelitian dengan kulit manggis yang dihancurkan (menjadi bubuk) dan dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai aspek mikrobiologi, pengaruh umur simpan dan kemasan terhadap gula kelapa.

Daftar Pustaka

Alamsyah, A. N. 2005. Virgin Coconut Oil. Agromedia, Jakarta

Anonim. 2014. Bagian-bagian pohon kelapa. http://kumpulantugassekolahnyarakabintang.blogspot.com/2014/11/fungsi-dan-manfaatnya-bagi-manusia-dari.html. diakses tanggal 13 Nov 2014

Anonim. 2014. Natrium Metabisulfit.http://en.wikipedia.org/wiki/Sodium_metabisulfite

Anonim. 2012.Sentra Informasi Keracunan Nasional (SIKerNas)Pusat InformasiObat dan Makanan, Badan POM RI Tahun 2012

AOAC. 2006.Official Methods of Analysis.The Association of Official Agricultural Chemists, Washington D.C.

Badan POM RI. 2012. Sentra Informasi Keracunan Nasional (SIKerNas). Pusat Informasi Obat dan Makanan.

Baharuddin, M. Muin, dan H. Bandaso. 2007. Pemanfaatan Nira Aren (Arenga pinnata Merr) sebagai Bahan Pembuatan Gula Putih Kristal. J. Perennial, 3 (2): 40-43

Buckle, K.A., 1987. Ilmu Pangan. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Budi, T. P. 2006. SPSS 13.0 Terapan: Riset Statistik Parametrik. Penerbit Andi.
                   Yogyakarta

Catrien, Y., S. Surya, dan T. Ertanto. 2008. Reaksi Maillard pada Produk Pangan. Program Kreativitas Mahasiswa Penulisan Ilmiah

Cowan, M. 1999. Plant product as antimicrobial agents. Clinical Microbiol. Reviews 12 (4): 564 – 582

Eskin, M., 1990. Biochemistry of Food. 2nd ed., Department of Food and Nutrition. The University of Mani-toba, Winnipeg, Manitoba, Canada, pp. 401-427.

Firmansyah, R.W., 1992. Mempelajari PengaruhPenambahan Bahan Pegawet terhadap Umur Simpan Nira Siwalan (Borassus flaberifera Linn.) serta Mutu Gula Merah, Gula Semut dan Sirup yang Dihasilkan. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Gopalakrishnan, G., B. Banumathi, dan G. Suresh. 1997. Evaluation of the antifungal activity of natural Xanthones from Garcinia mangostana and their synthetic derivates. J. Nat Prod. 60 (5): 519 – 524.

Hamzah, N., Hasbullah. 1997. Evaluasi mutu gula semut yang dibuat dengan menggunakan beberapa bahan pengawet alami. Di dalam Budijanto S, Zakaria F, Haryadi RD, dan Setiawiharja B (eds), Prosiding Seminar Teknologi Pangan. Perhimpunan Ahli Pangan Indonesia (PATPI). Hlm 175 – 180.

Hernani, dan M. Rahadjo. 2005. Tanaman Berkhasiat Antioksidan. Penebar Swadaya, Jakarta.

Intermediate Technology Development Group 2004. Toddy and palm wine -  Fermented plant saps.


Kasemwattanaroj, P., P. Moongkarndi, K. Pattanapanyasat, S. Mangmool, E. Rodpai,J. Samer, J. Konlata, dan K. Sukapirom. 2013. Immunomodulatory activities of alpha-mangostin of peripheral blood mononuclear cells, Pubmed.

Kusnandar, F. 2010. Kimia Pangan Komponen Makro. Dian Rakyat, Jakarta.

Lay, W. Bibiana, dan S. Hastowo. 1992. Mikrobiologi. Rajawali : Jakarta

Iinuma,M., H. Tosa, T. Tanaka, F. Asai, Y. Kobayashi, and R. Shimano. 1996.Antibacterial Activity of Xanthones from Guttiferaeous Plants Againts Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus, J Phamrm Pharmacol, 48: 861-5

Mardiana, Lina. 2012. Ramuan dan Khasiat Kulit Manggis. Penerbit Swadaya, Jakarta.

Mustaufik dan Hidayah. 2007. Rekayasa pembuatan gula kelapa kristal yangdiperkaya dengan vitamin A dan uji preferensinya. Jurnal Teknologi Pertanian Unsoed, Puswekerto.

Mustaufik dan P. Haryanti. 2006. Evaluasi Mutu Gula Kelapa Kristal yang Dibuat dari Bahan Baku Nira dan Gula Kelapa Cetak. Laporan Penelitian. Peneliti Muda Dikti Jakarta. Jurusan Teknologi Pertanian Unsoed. Purwokerto.

Nurhayati, 1992. Bioteknologi Pertanian 2. pusat Antar Universitas
Bioteknologi. IPB. Bogor

Nengah. 1990. Kajian Reaksi Pencoklatan Termal Pada Proses Pembuatan Gula Merah Dari Nira Dan Aren. Tesis. Pogram Pasca Sarjana IPB.

Pedraza, J.C., N. R. Cardenas, M. Orozco, and M.P. Jazmin. 2008, Medicinal Properties of Mangosteen (Garcinia mangostana L.), Journal of Food and Toxicology,3:24-27

Pragita, T.E. 2010. Evaluasi dan Penyimpangan Mutu Gula Kelapa Kristal di Kawasan Home Industri Gula Kelapa Banyumas. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Soedirman. Purwokerto

Rumokoi. 1994. Prospek pengembangan gula kelapa di Indonesia.Jurnal Penelitian dan Pengembangan. 8 (1) : 25.

Rumokoi, M.M.M. dan G.H. Joseph. 1994. Pengaruh perlakuan pada penampung terhadap sifat-sifat nira kelapa hibrida Khina-1 dan perubahannya. Jurnal Penelitian Kelapa. 7 (1): 58-66.

Rumokoi, M.M.M. 1996. Pemanfaatan Nira Kelapa Segar untuk Pembuatan Kecap dan Minuman Ringan. Jurnal Penelitian Tanaman Industri. Volume 1 No. 5. Puslitbangtri, Bogor.

Rumokoi, M.M.M. 1993. Prospek peman-faatan air kelapa di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian. XII (4) : 41 – 45.

Santoso, H. 1988. Kajian sifat-sifat gula merah dari nira palma. Skripsi pada Fakultas Teknologi Pertanian IPB Bogor. 105p.

Santoso, H. 1993. Pembuatan Gula Kelapa. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Saparinto, C dan D. Hidayati. 2006. Bahan Tambahan Pangan. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Soetanto, E. N. 1998. Membuat Gula Kelapa Kristal (Gula kelapa kristal). Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Sukardi. 2010. Gula Merah Tebu: Peluang Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Melalui Pengembangan Agroindustri Pedesaan. J. Pangan. Vol. 19 (4): 317-330

Suksamrarn, S., O. Komutiban, P. Ratananukul, N. Chimnoi, N. Lartpornmatulee, and A. Suksamrarn. 2006, Cytotoxic prenylated xanthones from the young fruit of Garcinia mangostana. Chemical & Pharmaceutical Bulletin. 54: 301-305

Tjahjaningsih, J. 1996. Evaluasi daya simpan dan preferensi berbagai macam gula merah palma tradisional dari beberapa daerah potensi produksi di karesidenan banyumas. Laporan Hasil Penelitian. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto. 74 hal. (Tidak dipublikasikan).

Winarno, F. G. 2002. Ilmu  Pangan Dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.





No comments:

Tugas-tugas kuliah

Laporan PKL bab 3 - Hasil dan Pembahasan

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN A.     Gambaran Umum 1.       Sejarah dan Perkembangan Perusahaan           PT Indofoo...