Paper pembuatan kecap ikan asin

PAPER PRAKTEK PENGEMBANGAN PRODUK DAN KEWIRAUSAHAAN PANGAN (PEMBUATAN KECAP IKAN METODE HIDROLISIS DENGAN MENGUNAKAN SARI BUAH NANAS SEBAGAI SUMBER ENZIM BROMELIN)







DISUSUN OLEH:
Rina Krisnawati                      : 2011340002
Sri Wahyuni                            : 2011340009
Desty Rizki Arifiani                : 2011340054
Alimah Lilis Suryani               : 2011340030
                        Chairunnisa                             : 2011340032             
Deni Setiawan                         : 2011340036
Hidayat Turochim                   : 2011340034
Kristian Silitonga                    : 2013349099
Niken Proboresmi
Mulya Yunita


KATA PENGANTAR

Makalah Praktikum Pengembangan Produk Pangan ini dibuat untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester (UAS) untuk mata kuliah Praktikum Pengembangan Produk Pangan di jurusan Teknologi Pangan, Universitas Sahid Jakarta. Secara umum, makalah ini mengulas tentang pengembangan produk sebuah pangan hingga menjadi suatu pangan yang memiliki kualitas yang baik.
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya dan tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis menyelesaikan laporan ini.
Penulis sangat menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu diharapkan adanya saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan laporan ini di masa yang akan datang.
Akhir kata, penulis mengharapkan agar makalah ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan pembaca dan menambah kemajuan ilmu pengetahuan pembaca umumnya.





                                                                                                Jakarta, Januari 2015

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
                        Ikan merupakan sumber protein hewani utama di banyak Negara-negara di Asia Tenggara. Namun, karena sifat fisik ikan cepat mengalami pembusukan, khususnya pada iklim tropis dan kelembaban tinggi.Fermentasi ikan secara tradisional merupakan salah satu dari metode pengawetan berbiaya rendah dan digunakan secara luas di Asia Tenggara. Kecdap ikan dapat dibuat dari berbagai macam jenis ikan, baik dari ikan tawar maupun dari laut menggunakan berbagai metode pembuatan kecap.Ikan Salem (Elagastis bipinnulatus) (famili Carangidae sp)  merupakan salah satu ikan air laut yang mempunyai kandungan protein cukup tinggi dan memiliki harga yang ekonomis.
                        Dalam pembuatannya, kecap ikan dapat ditambahkan dengan beberapa bahan tambahan. Adapun bahan tambahan itu yaitu  Enzim, pada pembuatan kecap ikan, upaya untuk mempercepat proses fermentasi adalah dengan penambahan enzim yaitu enzim bromelin yang berasal dari ekstrak nanas. Dengan adanya penambahan enzim ini maka proses penguraian protein ikan hanya berlangsung dalam waktu 3 hari (Zaelanie,2004). Adapun penambahan enzim ini ditujukan untuk mempercepat proses pembuatan kecap ikan ini. Menurut Bambang (2005), berdasarkan peraturan menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 235/ MENKES/PER/VI/1979, enzim merupakan jenis dari bahan tambahanmakanan, yang memiliki fungsi spesifik, misalnya hidrolisis protein (protease, papain, bromelain)
                        Nanas (Ananas comosus (L) Merr) merupakan salah satu jenis buah tropis Indonesia, mempunyai sifat mudah rusak dan busuk sehingga tidak tahan lama disimpan. Zat yang terdapat pada nanas yaitu karbohidrat, protein, kanji, lemak, asam nikotin, kalsium, fosfor, besi, asam organic, enzim nanas dan sebagainya. Daging buah bewarna kuning pucat dengan bau yang harum, rasanya manis dan mengandung banyak jus (Dai-yin-Fang dan Liu Cheng-jun, 2001).Buah nenas mengandung enzim proteolitik yaitu bromelin yang merupakan enzim protease yang mampu memcah protein, oleh karena itu dapat meningkatkan kadar protein terlarut.
                        Salah satu produk buah-buahan di Indonesia adalah nanas (Ananas sp.). Ditinjau dari komposisi  Kimiawinya, buah nanas mengandung enzim protease yang memiliki kemampuan untuk menghidrolisis molekul protein besar menjadi molekul yang lebih kecil dan sederhana. Keberadaan enzim ini pun hampir merata pada seluruh bagiannya, yang meliputi buah, tangkai, kulit, daun, hati atau empulur, hingga batangnya (Cooreman et al. 1976; Winarno 1993). Salah satu pemanfaatan enzim ini adalah pada proses pengolahan kecap ikan enzimatis (Handayani dan Ratnadewi 2005). Penggunaan enzim pada proses pengolahan ikan nantinya akan lebih menguntungkan bila dibandingkan dengan penggunaan metode hidrolisis asam.
Enzim bromelin mempunyai arti penting seperti halnya enzim papain yang dihasilkan tanaman papaya(Indrawati, 1992). Berdasarkan penelitian Muhidin (1999), enzim bromelin pada buah nanas dapat digunakan pada proses pengolahan bungkil kacang-kacangan menjadi konsentrasi protein nabati. Sedangkan pada penelitian Dhian Ariyani (2004), lama perendaman dan konsentrasi bromelin berpengaruh terhadap kadar protein dan organoleptik pada daging kambing.Enzim bromelin digunakan secara autolysis pada pH 4.6 tidak hanya dapat menghidrolisis ikatan asam amino tapi juga pada ikatan glisin, alanin dan serin (Boyer, 1970). Bromelin juga merupakan salah satu enzim sulfhidril (mempunyai keaktifan terhadap protein dengan gugus –S-, yaitu sistein dan metionin) yang memerlukan oengaktifan oleh sistein ataupun sianid untuk mencapai keaktifan maksimum (Tokong, 1979). Penguraian suatu senyawa atau substrata tau suatu enzim secara sederhana dapat dilukiskan sebagai berikut:


                                                                            
                        Kecap ikan digemari karena memberikan cita rasa dan aroma khas yang berbeda dengan kecap kedelai.Kecap ikan merupakan produk hasil fermentasi yang dibuat dari sari daging ikan yang sengaja dibuat khusus untuk dibuat kecap ikan atau sari daging ikan yang merupakan hasil sampingan dari proses pengolahan lainnya (misal pemindangan). Selain di Indonesia, kecap ikan sangat terkenal di beberapa Negara asia tenggara. Di Vitnam, kecap ikan dikenal dengan nama nuoc Mam, di Kamboja nuoc mam guacam dan di Philipina patis sedangkan di Jepang kecap ikan terkenal dengan nama shottsuru (zaelanie, 2004)(Rahayu, et al, 1992). Selain itu, dalam pembuatannya kecap ikan tidak selalu memerlukan jenis ikan khusus sebagai bahan baku utamanya. Ikan yang bukan ekonomis tinggi atau bahkan hasil sampingan proses pengolahan lain dapat digunakan untuk memproduksi kecap ikan.kualitas kecap ikan sangat dipengaruhi jumlah garam dan lamanya proses fermentasi.Kecap ikan memiliki warna bening kekuningan sampai coklat muda dengan rasa asin yang relative serta banyak mengandung senyawa nitrogen. Amino nitrogen merupakan unsure gizi yang baik untuk tubuh karena mudah dicerna (afrianto,1989). Selain nitrogen, kecap banyak mengandung mineral-mineral yang penting bagi tubuh, contohnya garam kalsium.
           
           










BAB II
PENGEMBANGAN IDEA PRODUK

A.       Tahapan Pengembangan produk
Sebagian besar perusahaan memilih sistem dan proses formal untuk mengelola program pengembangan produk baru. Secara umum tahapan pengembangan produk baru dapat dijabarkan sebagai berikut:
a.        Pengumpulan Ide
                        Pengembangan konsep produk pangan dapat berasal dari ide-ide kreatif yang dapat berasal dari berbagai pihak. Dapat diketahui bahwa ikan sangat popular di Asia terutama di  Negara seperti Jepang, Thailand, Vietnam, dan Indonesia, bahkan untuk ikan mentah sendiri merupakan bahan pangan favorit di Negara sepeti Jepang dan Korea, mereka mengkonsumsinya dalam keadaan segar.
Untuk mengejar ketertinggalan dalam hal produksi dan penganekaragaman dari ikan tersebut maka diperoleh beberapa ide. Ide dapat dikumpulkan berdasarkan identifikasi peluang pasar dari hasil “market research”, input dari profesional, pimpinan, bagian R&D, pemasaran, produksi, konsumen, dsb. Ide dapat berupa produk baru atau pengembangan dari produk yang sudah ada.Berdasarkan riset di berbagai tempat didapatkan ide sebagi berikut :



Tabel 1. Penganekaragaman produk dari ikan
No.
Produk baru
Pengembangan produk
1
Makanan kesehatan yang murah berbasis ikan
Produk ikan olahan seperti sarden, surimi, kamamboko, baso ikan, vitamin, tepung ikan
2
Makanan yang berbasis ikan
Produk olahan ikan kaleng, tepung ikan
3
Makanan Pendamping
Nugget ikan, empek-empek, sambal ikan, baso, sosis
4
Dried Fish
Keripik ikan, peyek ikan
5
Fish Extract
Pasta ikan
6
Industri Flavor (Perisa)
Fish flavor
7
Industri Snack
Keripik ikan, kerupuk ikan, pellet ikan

b.        Pengembangan Konsep Produk Pangan
                        Ide-ide tersebut selanjutnya harus dirumuskan menjadi “konsep produk”. Konsep produk yang akan dikembangkan perlu mengidentifikasi kekhasan yang ingin dimunculkan dari produk tersebut sesuai dengan potensi yang telah diidentifikasi, misalnya dari aspek potensi target konsumen, potensi pemanfaatan bahan baku/ ingredien baru yang memiliki keunggulan, teknologi proses baru yang lebih efisien dan menghasilkan produk yang lebih baik, kemasan, dsb. Konsep yang dikembangkan harus mempertimbangkan sumberdaya (biaya dan peralatan proses) yang dimiliki dan kelayakan teknis untuk diproses pada skala produksi komersial.
c.    Pengembangan Formula dan Diagram Alir Proses Produksi
Berdasarkan konsep produk yang ingin dihasilkan tersebut, selanjutnya dibuat rancangan formulasi dan diagram alir proses produksinya untuk digunakan pada tahap uji coba proses. Dalam tahap ini dapat dipilih beberapa formulasi atau kondisi proses yang disesuaikan dengan rancangan konsep produk.
Diagram alir proses harus jelas, sederhana dan menggambarkan tahapan proses, kondisi proses di setiap tahapan (misal suhu, waktu, tekanan, kecepatan, dsb), aliran input bahan baku dan ingredien, dan aliran output limbah, produk antara dan produk akhir. Simbol-simbol sering digunakan untuk membedakan antara tahapan proses dan aliran bahan.
d.        Uji Coba Proses untuk Menghasilkan Protocept dan Prototipe
               Bila produk yang dihasilkan masih tahap laboratorium, maka produk yang dihasilkan masih berupa protocept yang merupakan realisasi dari konsep produk yang diinginkan yang belum tentu feasible untuk diproses pada skala proses produksi yang lebih besar. Untuk menjadi produk yang secara teknis feasible untuk diproduksi, maka protocept yang dihasilkan harus diuji coba pada skala proses yang lebih besar (minimal pilot plant) untuk menghasilkan prototipe. Apabila produk yang dikembangkan baru dan memerlukan peralatan produksi tambahan, maka perlu dilakukan juga tahapan uji coba produksi pada skala produksi komersial dengan volume produksi yang diperkecil.
Dari uji coba produksi ini, maka dapat diidentifikasi kondisi proses yang kritis. Agar mencapai kelayakan proses, sering kali pada tahap uji coba ini dilakukan penyesuaian formulasi atau kondisi proses sesuai dengan peralatan yang tersedia. Dari hasil uji coba proses ini, harus dihasilkan standar prosedur baku (SOP) untuk formulasi dan proses produksi (termasuk rencana HACCP) yang akan diterapkan untuk skala produksi komersial.
e.    Perumusan Atribut Produk Pangan
               Konsep produk pangan yang dihasilkan dan telah diuji coba selanjutnya perlu dijabarkan atribut mutunya, seperti sifat fisik produk (cair, padat, atau semi-padat), sifat fisikokimia (misal pH, tekstur, dsb) dan sensori (rasa, warna, penampakan, bentuk), kekhasan/keunggulan yang ingin dimunculkan dibandingkan produk yang sudah ada (misalnya tinggi protein, rendah lemak , jenis dan disain kemasan (plastik, gelas, kaleng, kertas, dsb), perkiraan harga dan umur simpan yang feasible, jenis kemasan, dsb.
f.     Tes Konsumen
               Prototipe produk yang dihasilkan selanjutnya dilakukan uji konsumen (consumer’s testing), baik oleh panelis internal (misal dari bagian R&D) maupun konsumen umum. Sering kali pada tahap ini dilakukan diskusi dengan pimpinan perusahaan untuk menetapkan kelayakan dari produk yang sudah dikembangkan dan membandingkannya dengan konsep awal yang telah ditetapkan. Berdasarkan feedback uji konsumen tersebut, maka dilakukan evaluasi dan tindakan perbaikan (misal formulasi, proses, kemasan, dsb), sehingga produk yang dihasilkan dapat memenuhi keinginan konsumen dan pasar.


g.    Persiapan Proses Produksi Skala Komersial dan Product Launching
Setelah prototipe produk sudah dinyatakan final (dari sisi formulasi dan proses), maka perusahaan harus membuat perencanaan selanjutnya, yang mencakup:
1.    Penyediaan peralatan proses
2.    Seleksi suplier ingredien dan kemasan.
3.    Pengurusan perizinan dari instansi berwenang (misal BPOM untuk         memperoleh kode MD dan LPPOM untuk pencantuman keterangan halal).
4.    Penyiapan kemasan dan label.
5.    Uji komposisi nilai gizi, fisikokimia dan penetapan masa simpan produk.
6.    Analisis biaya dan penetapan harga
7.    Penyusunan SOP-SOP evaluasi mutu.
8.    Strategi pemasaran dan promosi.

h.   Product Launching, Market Testing dan Promosi
Produk yang telah diproduksi pada skala komersial selanjutnya di-launching. Perusahaan sekaligus dapat melakukan market testing dan promosi. Feedback dari market testing dapat digunakan untuk melakukan tindakan perbaikan kualitas produk dan perumusan strategi pemasaran dan promosi.



B.  Seleksi Ide Produk
                        Seleksi ide produk dibagi menjadi tiga tahap screening, yaitu sequential screening, checklist screening, dan probability screening.
a.    Sequential Screening

Tabel 2. Sequential Screening produk olahan ikan
No
Product Ideas
Attributes
Overall
A
B
C
D
E
1
Nugget ikan
R
F
R
R
R
F
2
Abon
R
R
R
F
R
F
3
Sosis
R
R
R
F
R
F
4
Tepung ikan
R
R
R
F
R
F
5
Ikan asin
R
R
R
R
R
R
6
Tahu ikan
R
R
R
F
R
F
7
Peyek tulang ikan
R
R
R
F
R
F
8
Surimi
R
R
R
F
R
F
9
Otak-otak ikan
F
R
R
R
R
F
10
Vitamin
R
R
R
F
R
F
11
Kerupuk ikan
F
R
R
R
R
F
12
Selai ikan
R
R
R
F
R
F
13
Sarden
R
R
F
F
R
F
14
Sambel ikan
F
R
R
R
R
F
15
Kecap ikan
R
R
R
R
R
R
16
Bandeng presto
R
R
R
R
R
R
17
Biskuit ikan dari tepung ikan
R
R
R
F
R
F
18
Jelly
R
R
R
F
R
F
19
Brownies
R
R
R
F
R
F
20
Cereal lele
R
R
R
F
R
F
21
Tahu ikan
R
R
R
R
F
F
22
Pempek
R
R
R
R
R
R
R= Release
F = Failed
 
Keterangan:
A= Bergizi
B= Mudah dibuat
C= Harganya murah
D= Bahan bakunya mudah diperoleh
E= Masa simpanya Lama





Tabel 3. Deskripsi produk yang lolos tahap Sequential Screening
No
Product
Product Description
Processing Requirement
1
Ikan Asin
Ikan asin merupakan produk pengawetan dari ikan segar yang telah dibersihkan dan dibuang isi perutnya untuk kemudian direndam dalam larutan garam pekat   (syarat pengawetan) kemudian dilakukan pengeringan dibawah sinar matahari langsung untuk memperoleh ikan dalam kondisi kering sehingga dapat disimpan untuk jangka waktu yang lama.
Peralatan yang memadai yakni tempat yang luas untuk proses pengeringan (sinar matahari langsung). Drum-drum besar untuk menampung ikan-ikan hasil dari pencucian dan dilakukan perendaman dengan larutan garam pekat. 1. Untuk ikan besar, kandungan garam adalah 20% - 30% dari berat ikan. 2. Untuk ikan sedang, kandungan garam 15-20% . 3. Untuk ikan kecil, kandungan garam 5% dari berat ikan

2
Kecap Ikan
Produk kecap ikan hidrolisis enzimatis ini adalah produk kecap ikan yang dalam pembuatannya ditambahkan enzim yang berfungsi untuk mempercepat hidrolisis protein ikannya sebagai salah satu cara mengatasi waktu fermentasi kecap ikan yang lama (6 sampai 12 bulan).
1). Pencucian ikan (ikan harus dibersihkan dengan baik dan dibuang isi perut dan ingsang untuk menghindari terjadinya kontaminasi selanjutnya, 2). Pemasakan dengan penambahan bumbu-bumbu dan air serta penggunaan sari buah nanas (Bromelin) sebagai pemecah senyawa protein. 3) Penyaringan 4) Pemasakan sambai dihasilkan kecap asin cair dengan warna kecoklatan 5). pembotolan 6). Sterilisasi
3
Bandeng Presto
Bandeng presto dibuat dari ikan bandeng (Chanos chanos) dengan penambahan kunyit, garam, bawang putih dan diolah menggunakan panci bertekanan tinggi  (Preasure cooker) .  Dengan pengolahan seperti ini, duri yang ada di dalam ikan bandeng menjadi lunak, dan dapat di nikmati bersama bandengnya tanpa mengganggu kenikmatan dalam mengkonsumsinya. Kelebihan lain dari mengkonsumsi bersama duri ini adalah kandungan kalsium yang ada dalam Bandeng Presto ini sangat tinggi. Sehingga selain mendapat manfaat protein daging  bandeng, kita juga mendapat manfaat kalsium dari  tulang bandeng yang sudah lunak tersebut.
Pencucian ikan bandeng Dengan mengeluarkan isi perut serta menjaga kebersihan insang. 2). Pelumuran dengan bumbu-bumbu yang telah dibuat agar bumbu dapat meresap kedalam ikan bandeng. 3). Pemasakan dengan menggunakan preasure cooker untuk mendapatkan ikan bandeng dengan tekstur lembut bahkan sampai ketulang-tulang atau
durinya dapat dimakan.
4
Empek-empek
Pempek ikan adalah produk perikanan yang merupakan penyampuran antara daging ikan giling/lumat dengan pati-patian (tepung tapioka/sagu dan terigu) bersama dengan garam dan air sehingga membentuk adonan yang homogen dan bila dikukus/direbus akan menjadi hasil akhir yang kenyal (produk gel).
Penghancuran ikan kemudian ditambahkan tepung dan bumbu-bumbu kemudian dicampur sampai merata sehingga terbentuk adonan yang homogen dan kompak. Pada proses pencampuran dilakukan pengulenan sampai terbentuk adonan yang homogen dan memiliki  tekstur yang kenyal. Bentuk adonan menjadi bentuk yang dikehendaki , kemudian dilakukan perebusan sampai matang. Setelah direbus kemudian empek-empek ditiriskan sampai kering, dan siap untuk digoreng.
Tabel 4. Faktor-faktor ChecklistScreening

No
Faktor-Faktor Awal
Skor
Rata-Rata
Skor Akhir

A
B
C

1
Ability to be rationally balanced (A)
100
100
100
100
11.8
12.0

2
Ability to use 40% or more fish (B)
80
80
75
78
9.2
9.0

3
Ability of raw material (C)
75
80
80
78
9.2
9.0

4
Processing Requirement (D)
75
80
80
78
9.2
9.0

5
Packaging and storage requirement (E)
80
80
80
80
9.4
9.0

6
Product price (F)
70
70
70
70
8.3
8.0

7
Size of market and market potential (G)
60
70
80
70
8.3
8.0

8
Initial capital cost (H)
80
80
80
80
9.4
9.0

9
Product newness (I)
75
80
80
78
9.2
9.0

10
Profitability (J)
75
75
75
75
8.9
9.0

11
Easy of product distribution (K)
70
60
50
60
7.1
7.0


Total
847
100
100




Tabel 5. Hasil Checklist Screening





Tabel 6. Probability Screening of  Salted Fish (Ikan Asin)




No
Faktor
Bobot
Nilai
Tingkat Bobot Yang diinginkan
Kontribusi terhadap total yang diharapkan


10
8
6
4
2


1
Nutritional Value
18
0.4
0.3
0.3
5.4
97.2


2
Product price
18
0.5
0.3
0.2
4.6
82.8


3
Market potential
17
0.6
0.2
0.2
8.8
149.6


4
Packaging and storage requirement
16
0.3
0.3
0.4
7.8
124.8


5
Processing Requirement
15
0.8
0.2
9.6
144


6
Raw Material Usage
15
0.8
0.2
9.6
144




99
742.4


Tabel 7. Probability Screening of Bandeng Presto




No
Faktor
Bobot
Nilai
Tingkat Bobot Yang diinginkan
Kontribusi terhadap total yang diharapkan


10
8
6
4
2


1
Nutritional Value
18
0.5
0.5
9
162


2
Product price
18
0.5
0.4
0.1
8.8
158.4


3
Market potential
17
0.6
0.4
9.2
156.4


4
Packaging and storage requirement
16
0.3
0.3
0.4
7.8
124.8


5
Processing Requirement
15
0.8
0.2
9.6
144


6
Raw Material Usage
15
0.8
0.2
9.6
144


99
889.6


Tabel 8. Probability Screening of Fish Sauce (Kecap Ikan)


No
Faktor
Bobot
Nilai
Tingkat Bobot Yang diinginkan
Kontribusi terhadap total yang diharapkan


10
8
6
4
2


1
Nutritional Value
18
0.7
0.3
9.4
169.2


2
Product price
18
0.8
0.2
9.6
172.8


3
Market potential
17
0.6
0.2
0.2
8.8
149.6


4
Packaging and storage requirement
16
0.5
0.3
0.2
8.6
137.6


5
Processing Requirement
15
0.6
0.4
9.2
138


6
Raw Material Usage
15
0.8
0.2
9.6
144


99
911.2

Tabel 9. Probability Screening of Empek-empek


No
Faktor
Bobot
Nilai
Tingkat Bobot Yang diinginkan
Kontribusi terhadap total yang diharapkan

10
8
6
4
2

1
Nutritional Value
18
0.4
0.3
0.3
8.2
147.6

2
Product price
18
0.6
0.4
9.2
165.6

3
Market potential
17
0.6
0.4
9.2
156.4

4
Packaging and storage requirement
16
0.3
0.3
0.4
7.8
124.8

5
Processing Requirement
15
0.7
0.3
9.4
141

6
Raw Material Usage
15
0.8
0.2
9.6
144

99
879.4




Tabel 10. Result of Probability Screening
Product Ideas
Result
Rangking
Kecap Ikan
911.2
1
Bandeng Peresto
889.6
2
Empek-empek
879.4
3
Ikan Asin
742
4
Untuk proses pengembangan produk kecap ikan, proses pengolahanya dapat dilihat pada Gambar 1.
 
















Gambar 1. Diagram alir proses pengolahan kecap ikan
Gambar 2. Proses pengolahan kecap ikan

Produk hasil pengembangan berupa kecap ikan dengan merek “Wong Jowo” dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 3. Kecap ikan Wong Jowo
Gambar 5. Label kemasan kecap ikan “Wong Jowo”

Gambar 6. Aplikasi dari produk kecap ikan
Untuk analisa biaya pengembangan kecap ikan dari awal proses sampai lauching produk dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Analisa biaya kecap ikan wong Jowo
No
Bahan Baku
Kebutuhan
Harga Pasar (Rp)
Harga persatuan
1
Ikan salem
12  kg
26000 / kg
312000
2
Ikan kembung kecil
3 kg
26000 / kg
78000
3
Air
20 liter
0
0
4
Nanas
14  buah
10000/ buah
140000
5
Gula merah
1 kg
80000/ kg
80000
6
Garam
250 gr
2000/ 500 gr
1000
7
Kluwek
250 gr
5000/ 250 gr
5000
8
Sere
250 gr
5000/ 250 gr
5000
9
Daun Salam
25 lembar
2000
2000
10
Bawang Putih
500 gr
6000/ 250 gr
12000
11
Jahe
100 gr
2000/ 250 gr
160
12
Lengkuas
100 gr
2000/ 250 gr
320
13
Pekak
500 gr
5000/ 250 gr
5000
14
Kayu manis
120 gr
2000
2000
15
Botol Plastik
70 pcs
1100/ pcs
77000
16
Dll
50000
Total Biaya
769480

Analisa Penjualan
Dari proses produksi kecap ikan di atas diperoleh hasil 110 botol kemasan 125 ml
Harga jual per Kemasan yang dapat ditetapkan sebagai berikut:
q  Harga jual per botol dengan 80%  keuntungan                =  Rp. 11.000,-
q  Harga Jual distributor (keuntungan tambahan 10%)     =  Rp. 12.100,-
q  Harga jual ke pembeli langsung                                        =  Rp. 13.000,-





.


KESIMPULAN

                        Dari data quisioner yang dapat dilihat diatas, untuk penerimaan kecap ikan dari 46 panelis dengan masing-masing parameter yang diujikan menunjukkan range penilaian yang cukup luas dengan latar belakan panelis yang berbeda-beda mampu mediskripsikan dan memberikan penilaian yang dapat dilihat pada grafik pada Gambar 7 di atas.
Kriteria/No Panelis
Total
Kebaruan gagasan dan ide produk
67.4
Potensi pasar
67.3
Tampilan produk tanpa kemasan
67.3
Atribut mutu produk ( mutu organolaptik)
65.2
Kelayakan harga produk dibanding produk sejenis
68.2
Nilai tambah produk dibanding produk sejenis
68.8
Pemilihan nama merk
66.6
Pemenuhan persyaratan kemasan
72.7
Pemenuhan persyaratan label pelebelan
72.9
Permo produk secara keseluruhan
74.7

                        Dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk produk kecap ikan hasil dari pengembangan produk yang dilakukan memperoleh penilaian dari mulai pengembangan dari gagasan ide baru, potensi pasarm penampilan dari kemasan , mutu organoleptik, kelayakan harga dibandingkan dengan pesaing, nilai tambah produk dibandingkan dengan produk sejenis, pemilihan merek, pemenuhan persyaratan kemasan, persyaratan label memiliki penilaian dengan range 65 sampai dengan 73. Dan dari keseluruhan penilaian produk kecap ikan tersebut memiliki nilai penerimaan secara kesuluruhan 74,7.









DAFTAR PUSTAKA

            Mathews, C. K., and van Holde, K. E. 1990. Biochemistry. Ed.1. Redwood City: The Benjamin/Cummings Publishing Company. Inc.

            Moeljanto. 1992. Pengalengan Ikan. Penanganan Ikan Segar. Pengawetan Dan Pengolahan Hasil Perikanan. Jakarta: Penebar Swadaya.

            Plummer. D. T. 1971. An Introduction to Practical Biochemistry. Ed.1. New Delhi: Tata McGraw-Hill Publishing Company Ltd.

            Silverstein, R. M., and Kezdy, F. J. 1975. Characterization of the Pineapple Stem Proteases (Bromelains). Archives of Biochemistry and Biophysics. 167: 678-686.

            Subagio, A., Windrati, W. S., Fauzi, M., dan Witono, Y. 2005. Pengaruh Asam Askorbat Terhadap Pembentukan Gel Miofibril Ikan Mata Besar (Selar crumenophthalmus). Jurnal Teknologi dan Industri Pangan XVI: 126-132.

            Suhartono, M. T. 1992. Protease. Pusat Antar Universitas Pangan Dan Gizi Institut Pertanian Bogor. Bogor.

            Whitaker, J. R. 1994. Principles of Enzymology for the Food Sciences. Ed.2. New York: Marcel Dekker. Inc.

            Winarno, F. G. 1980. Kimia Pangan Dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.


            Winarno, F. G. 1993. Pangan. Gizi. Teknologi Dan Konsumen. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

No comments:

Tugas-tugas kuliah

Laporan PKL bab 3 - Hasil dan Pembahasan

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN A.     Gambaran Umum 1.       Sejarah dan Perkembangan Perusahaan           PT Indofoo...