BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum
1. Sejarah dan Perkembangan Perusahaan
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division Cibitung
didirikan pada tanggal 17 Desember 1992. PT Indofood CBP Sukses Makmur Cibitung merupakan anak perusahaan dari
Indofood yang bergerak di bidang bumbu.
Sejak awal mula berdiri, perusahaan ini sempat empat kali berganti nama.
Pertama adalah PT Aneka Pangan Utama yang memproduksi bumbu instan yang
didirikan di Ancol. Tahun 1992-1993 PT Aneka Pangan Utama pindah ke Cikopo
karena saat itu tidak diperbolehkan adanya industri di kawasan Ancol. Kedua,
pada tahun 1994-1999 PT Aneka Pangan Utama berubah namanya menjadi PT Caraka
Pangan Sejati yang memproduksi bumbu instan, bumbu powder, dan kecap. Ketiga, pada
tahun 2000 PT Caraka Pangan Sejati berubah namanya menjadi Indosentra Pelangi dan
pada tahun itu juga didirikan divisi saus sambal dengan produk-produk yang
dihasilkan berada di bawah merek “Indofood”.
PT Indosentra Pelangi Cibitung bekerja
sama dengan PT Indosentra Pelangi Semarang untuk memenuhi kebutuhan konsumen
baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pada tahun 2005, PT Indosentra
Pelangi bekerja sama dengan PT Nestle Indonesia untuk meningkatkan kualitas
produk dan pemasaran produk. Gabungan dari kedua perusahaan tersebut adalah PT
Nestle Indofood Citarasa Indonesia (NICI). Produk yang berada di bawah
pengawasan PT NICI adalah saus dan sambal dengan kemasan botol kaca, bumbu
instan, dan kecap refill. Produk-produk tersebut memiliki label dengan pita
biru atau yang biasa disebut dengan “blue
ribbon” yang bertuliskan “Paduan Mutu Nestle dan Indofood”.
Pada awal bulan Januari 2010,
berdasarkan keputusan management
Indofood pusat dan Keputusan Badan Koordinasi Penanaman Modal no.4 tahun 2010
bahwa PT Indosentra Pelangi digabung dengan beberapa perusahaan grup Indofood
lain seperti PT Indobiskuit, PT Cipta Kemas Abadi, PT Gizindo Prima Nusantara
dan PT Indofood Sukses Makmur menjadi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Dengan
demikian mulai Januari 2010 PT Indosentra Pelangi berubah nama menjadi PT
Indofood CBP Sukses Makmur- Divisi bumbu.
2. Lokasi dan Tata Letak
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division Cibitung
terletak di Kampung Jarakosta RT 05 / RW 02, Desa Sukadanau, Kecamatan
Cibitung, Bekasi. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division Cibitung terletak satu area dengan PT
Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Noodle Division Cibitung, namun memiliki wilayah
tutorial sendiri yang dibatasi oleh pagar. Peta lokasi PT Indofood CBP Sukses
Makmur Tbk Food Seasoning Division
Cibitung dapat dilihat pada Lampiran 1.
Pada bagian depan area pabrik terdapat
gudang penerimaan raw material (RM)
dan Packaging Material (PM). Letak
gudang RM/PM di bagian depan area
pabrik bertujuan untuk meningkatkan efisiensi kerja, memenuhi kriteria tata
letak pabrik yang sesuai dengan alur proses, dan membatasi area lalu lalang
kendaraan yang membawa RM/PM di dalam
pabrik sehingga dapat mengurangi kemungkinan kontaminasi terhadap produk.
Kantor divisi personalia, divisi purchasing
atau accounting, divisi pemasaran,
divisi product planning and inventory
control, divisi tehnik, divisi QA,
divisi QC, dan product development (PD), serta ruang auditorium terletak pada sisi
kanan pabrik yang mudah dicapai dari pintu masuk pabrik. Bagian produksi kecap,
bumbu instant berada satu bangunan dengan gudang RM/PM, kantor, laboratorium, dan gudang finish good. Laboratorium mikrobiologi, kimia, dan panelis
organoleptik terletak bersebelahan. Bagian produksi sambal memiliki bangunan
tersendiri yang memiliki tata letak ruang sesuai dengan alur proses, yaitu
ruang RM/PM, ruang produksi, ruang
pengemasan, dan ruang FG. Tata letak PT
Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food
Seasoning Division Cibitung dapat dilihat pada Lampiran 2. Kantin dan
musholla terletak bersebelahan dengan bangunan produksi sambal. Tempat
pengolahan limbah pabrik, boiler, workshop, klinik, dan area parkir terletak
pada bagian kiri pabrik.
3. Visi dan Misi Perusahaan
Visi dari PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division Cibitung adalah
menjadi produsen barang-barang konsumsi terkemuka. Sedangkan misinya adalah
dengan senantiasa melakukan inovasi, fokus pada kebutuhan pelanggan, menawarkan
merek-merek unggulan dengan kinerja yang tidak tertandingi; menyediakan produk
berkualitas yang merupakan pilihan pelanggan; senantiasa meningkatkan
kompetensi karyawan, proses produksi dan teknologi kami; memberikan kontribusi
bagi kesejahteraan masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan; meningkatkan
stakeholder’s value secara
berkesinambungan.
4. Struktur Organisasi
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division dipimpin oleh
seorang Kepala Divisi yang membawahi
beberapa manager yang memimpin
masing-masing departemen. Setiap departemen dibagi lagi menjadi beberapa
tingkat pekerjaan seperti administrasi, supervisor,
dan staf. Beberapa departemen yang ada di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division adalah
Departemen Personalia, Departemen Finance
& Accounting, Departemen Purchasing,
Departemen Sales & Marketing,
Departemen Teknik, Departemen Warehouse,
Departemen Quality Assurance,
Departemen Quality Control,
Departemen Product Development,
Departemen Produksi Saus Tomat & Saus Sambal, Departemen Produksi Bumbu
Instan, Departemen Kecap. Diagram Struktur Organisasi PT Indofood CBP Sukses
Makmur Tbk Food Seasoning Division
secara umum dapat dilihat pada Lampiran 3. Tugas dan tanggungjawab dari
masing-masing departemen di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division yang berhubungan
dengan produksi adalah:
a.
Departemen Personalia: bertanggungjawab
dalam mengendalikan kegiatan personalia yang meliputi hubungan industri,
administrasi kepegawaian, keamanan, dan pelayanan umum untuk mendukung proses
pencapain sasaran perusahaan, termasuk mengkoordinasi kegiatan pelatihan untuk
menambah pengetahuan dan wawasan karyawan terutama di bidang mutu, keamanan
pangan dan K3.
b.
Departemen Finance dan Accounting:
bertanggungjawab terhadap segala hal yang menyangkut financial pabrik seperti dana yang dibutuhkan untuk pengembangan
plan, pajak-pajak, serta biaya produksi dan transportasi.
c.
Departemen purchasing: melakukan kegiatan purchasing yang meliputi pembelian RM/PM serta spare part / non spare part dan administrasi.
d.
Departemen PPIC (Production Planning and Inventory Control): mengatur
perencanaan produksi, pengadaan dan pengendalian bahan baku, bahan kemasan,
barang setengah jadi, dan barang jadi.
e.
Departemen sales dan marketing:
bertanggungjawab untuk menangani pemasaran dari produk-produk yang dihasilkan
pabrik.
f.
Departemen teknik: melakukan kegiatan
yang berhubungan dengan departemen teknik yaitu preventive maintenance workshop, utility, dan kalibrasi untuk
mendukung proses pencapain sasaran perusahaan.
g.
Departemen Warehouse: melakukan kegiatan penggudangan yang meliputi
penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran prosedur untuk mendukung kelancaran proses
produksi dan pengiriman barang ke distributor.
h.
Departemen QA (Quality Assurance): bertanggungjawab terhadap jaminan mutu
produk dan klaim produk yang bersangkutan terhadap pihak eksternal, baik
konsumen maupun pihak-pihak lain yang bersangkutan seperti badan-badan yang
memberikan sertifikasi tertentu kepada pabrik.
i.
Departemen QC (Quality Control): melakukan proses pengendalian kualitas
terhadap bahan baku, bahan kemas, dan produk jadi.
j.
Departemen PD (Product Development): mengembangkan potensi dan fasilitas dalam
rangka menciptakan produk baru ataupun mencapai efisiensi dalam proses
pembuatan produk.
k.
Departemen Produksi: memproduksi bahan
baku menjadi produk akhir serta melakukan proses pengendalian selama proses
produksi berlangsung.
5.
Produk-produk
Perusahaan dan Sistem Distribusi
Produk-produk PT Indofood CBP Sukses
Makmur Tbk Food Seasoning Division secara
garis besar dapat dilihat pada Tabel 2. Produk-produk yang dihasilkan tersebut
diproduksi dengan berbagai merek. Produk-produk
yang dihasilkan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division Cibitung didistribusikan ke wilayah
Indonesia bagian barat, seperti Sumatera, Kalimantan dan Jawa Barat. Selain itu
ada juga beberapa produk yang diekspor ke luar negeri yaitu ke Jeddah (Arab
Saudi), Belanda, Australia, Afrika, dan Kanada.
6. Sistem Management
Mutu
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division menjalankan 3
sistem management mutu, yaitu ISO
9001 : 2000, ISO 22000 : 2005 dan SMK3L (Sistem Manajemen Keselamatan Kerja
serta Lingkungan). ISO 9001 : 2000 berhubungan dengan kualitas produk yang
terkait dengan keinginan konsumen.
|
Tabel 2.
|
Produk-produk
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food
Seasoning Division
|
|
|
Produk Sambal
dan Bumbu
|
|
|
|
Produk Saus
dan Sambal
|
|
|
|
Produk Kecap
|
|
|
Sumber :
Dokumentasi PT Indofood CBP Sukses Makmur Food
Seasoning
Dalam menjalankan sistem ISO 9001 : 2000
ini, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food
Seasoning Division menganut prinsip “apa yang ditulis itu dikerjakan, apa
yang dikerjakan itu ditulis, dalam arti semua yang dikerjakan dalam produksi
harus dicatat dan manual mutu yang telah ditetapkan serta hal yang telah
dikerjakan dalam produksi dan pengawasan mutu harus dicatat sebagai rekaman
data atau dokumentasi. ISO 22000 : 2005 berhubungan dengan keamanan pangan (food safety) yang juga mencakup ISO 9001
atau bisa juga disebut dengan Food Safety
Management System (FSMS). FSMS terdiri dari 10 elemen, yaitu:
a.
Management
Commitment, yaitu komitmen untuk menciptakan kualitas dan
keamanan produk yang dituangkan dalam slogan “CONSISTENT”, maklumat mutu, dan
tekad mutu.
b.
Regulation
Compliance, yaitu kesesuaian dengan peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku.
c.
Hazard
Analysis and Critical Control Point (HACCP), yaitu sistem
keamanan pangan yang bersifat pencegahan yang bertujuan untuk menghasilkan
produk yang aman untuk dikonsumsi.
d.
Good
Manufacturing Practices (GMP), acuan dan cara
pengolahan pangan yang baik yang terkait dengan segala aspek produksi mulai
dari perorangan, bangunan dan fasilitas, peralatan, hingga pengendalian proses
produksi itu sendiri.
e.
Pest
Control, yaitu pengendalian terhadap hama dan serangga yang
dapat mencemari atau merusak produk.
f.
Pathogen
Monitoring, yaitu proses pengendalian dan pengawasan jumlah
mikroba pathogen.
g.
Traceability,
yaitu kemudahan produk untuk dilacak jika terjadi sesuatu hal yang tidak
diinginkan sehingga dapat dicari penyebabnya.
h.
Calibration,
yaitu kalibrasi alat yang dilakukan secara berkala untuk menjamin kebenaran
pengukuran yang dilakukan dengan alat tersebut.
i.
Quality
Monitoring Scheme, yaitu prosedur dan persyaratan untuk
memonitor kualitas produk.
j.
Hygiene,
kebersihan yang berhubungan dengan manusia atau perorangan, lingkungan, serta
produksi yang terkait dengan kualitas dan keamanan pangan yang akan dimiliki
oleh produk yang dihasilkan.
B. Ketenagakerjaan
1. Jumlah dan Jenis Tenaga Kerja
Karyawan PT Indofood CBP Sukses Makmur
Tbk Food Seasoning Division sampai
dengan bulan Oktober 2014 seluruhnya berjumlah 612 orang dari seluruh
departemen. Persyaratan penerimaan tenaga kerja atau karyawan di PT Indofood
CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning
Division berbeda-beda sesuai dengan jabatan atau kedudukan yang diinginkan.
Sistem hubungan kerja kepegawaiannya dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu
karyawan tetap dan karyawan kontrak. Karyawan tetap adalah karyawan yang
mempunyai hubungan kerja untuk waktu tidak tertentu yang pelaksanaannya
berpedoman pada perundangan yang berlaku.
Secara struktural, karyawan tetap
perusahaan dibagi menjadi 4 kategori, yaitu level manager, level supervisor,
level staf, dan level operatif. Karyawan kontrak adalah karyawan yang mempunyai
hubungan kerja untuk waktu tertentu yang pelaksanaannya berpedoman pada
peraturan perundangan yang berlaku.
Waktu
kerja yang berlaku di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division dibagi menjadi dua kelompok yaitu waktu
kerja regular dan waktu kerja shift. Waktu
kerja regular berlaku sistem kerja 5 hari yaitu waktu kerja hari Senin sampai
dengan hari Jum’at dari pukul 08.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB. Waktu istirahat
kerja adalah 60 menit yaitu pada pukul 12.00 WIB sampai 13.00 WIB. Apabila
dalam kalender terdapat libur nasional dan pada tangggal tersebut merupakan
tanggal untuk waktu kerja aktif, maka karyawan yang masuk kerja dihitung
sebagai lembur. Untuk waktu kerja shift,
dibagi menjadi 3 (tiga) shift setiap
harinya. Waktu kerja shift berlaku
sistem kerja 6 hari kerja, yaitu waktu kerja hari Senin sampai dengan hari
Sabtu. Waktu kerja shift ini biasa
digunakan oleh produksi atau departemen terkait lainnya. Setiap karyawan
bergiliran menurut pembagian shiftnya,
yaitu shift pagi selama satu minggu,
dilanjutkan shift malam selama satu
minggu dan dilanjutkan
dengan shift siang selama satu
minggu. Pembagian waktu untuk
karyawan dengan jadwal kerja shift
dapat dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4.
|
Tabel 3.
|
Pembagian
waktu kerja karyawan dengan sistem shift
(hari Senin – Jumat)
|
||
|
Jadual
Kerja (Senin – Jum’at)
|
Pukul
|
||
|
Shift
pagi
|
07.00 – 15.00
|
||
|
Shift
siang
|
15.00 – 23.00
|
||
|
Shift
malam
|
23.00 – 07.00
|
||
|
Tabel 4.
|
Pembagian
waktu kerja karyawan dengan sistem shift
(hari Sabtu)
|
||
|
Jadual
Kerja (Sabtu)
|
Pukul
|
||
|
Shift
pagi
|
07.00 – 12.00
|
||
|
Shift
siang
|
12.00 – 17.00
|
||
|
Shift
malam
|
17.00 – 23.00
|
||
Untuk jam kerja karyawan bagian staff
kantor berlaku sistem 5 hari kerja, yaitu hari Senin sampai Jumat dengan jam
kerja yaitu 08.00 – 17.00, hari Sabtu
dan Minggu libur. Waktu istirahat masing-masing periode adalah 60 menit dan
diatur oleh koordinator tiap bagian yang bersangkutan, sehingga produktivitas
dan kualitas produk yang dihasilkan terjaga dengan baik dan lancar. Waktu kerja
dapat berubah sewaktu-waktu disesuaikan dengan kondisi dan situasi perusahaan dengan
tetap memperhatikan peraturan pemerintah yang berlaku.
2. Pendidikan
Tingkat pendidikan pegawai PT Indofood
CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning
Division beragam sesuai dengan pangkat, golongan, dan jabatannya.
Pendidikan merupakan syarat yang mutlak, khususnya untuk bagian-bagian tertentu
yang penting seperti tingkat manager,
supervisor, koordinator dan jabatan
lainnya. Latar belakang pendidikan yang baik tidak mutlak melalui jalan formal,
tetapi juga dapat diperoleh dari pengalaman, pelatihan, dan keterampilan. Untuk
pekerja bagian produksi seperti operator
dan helper batas pendidikan terakhir
adalah SMA atau sederajat. Untuk laboran dan beberapa bagian tertentu
pendidikan terakhir adalah D3, sedangkan untuk supervisor dan manager
tingkat pendidikan minimal adalah sarjana. Latar belakang pendidikan terakhir
untuk karyawan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division dapat dilihat pada Tabel 5.
|
Tabel 5.
|
Jumlah tenaga
kerja PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food
Seasoning Division sampai dengan
bulan Oktober 2014
|
|||||
|
Jenis
pekerjaan
|
Pendidikan
|
Jenis
Kelamin
|
||||
|
SLTA<
|
D3
|
S1>
|
L
|
P
|
||
|
Manufacturing
|
404
|
32
|
39
|
374
|
101
|
|
|
Marketing
& sales
|
2
|
4
|
7
|
8
|
5
|
|
|
Administrasi
|
31
|
11
|
15
|
48
|
9
|
|
|
Research
Development
|
41
|
15
|
11
|
50
|
17
|
|
|
TOTAL
|
478
|
62
|
72
|
480
|
132
|
|
|
GRAND TOTAL
|
612
|
612
|
||||
3. Penerimaan Pegawai
Rekruitmen atau penerimaan pegawai,
yaitu suatu proses kegiatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pegawai
baru sesuai dengan kebutuhan. Tujuannya yaitu untuk memperoleh karyawan yang
berkualitas baik dan sesuai dengan tuntutan pekerjaan. Perekrutan ini melalui
seleksi pegawai. Seleksi merupakan proses memilih karyawan dari sekelompok
pelamar yang memenuhi kriteria seleksi untuk posisi yang tersedia berdasarkan
kondisi yang ada. Tujuan dari perekrutan ini bukan sekedar untuk menghasilkan
sejumlah orang tertentu, tetapi juga untuk mendapatkan karyawan yang memenuhi
kualifikasi jabatan yang telah dipersyaratkan perusahaan. Perekrutan yang
efektif tersedia informasi yang akurat dan berkelanjutan mengenai jumlah dan kualifikasi individu yang
diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dalam perusahaan. Penerimaan pegawai PT
Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food
Seasoning Division dilakukan dengan dua cara yaitu secara internal dan
secara eksternal. Cara internal yaitu dengan cara mengambil karyawan yang ada
dalam perusahaan yang memang cocok untuk menduduki posisi yang lebih tinggi
melalui proses promosi dan mutasi, termasuk di dalamnya adalah karyawan kontrak
yang memiliki etos dan etika kerja yang baik. Cara eksternal yaitu dengan
merekrut calon tenaga kerja baru di luar perusahaan. Perusahaan akan
mengutamakan pegawai yang ada terlebih dahulu, apabila tidak ada pegawai yang
dapat memenuhi kriteria untuk jabatan tersebut maka baru dilakukan rekrutmen
secara eksternal. Penempatan pegawai disesuikan dengan kebutuhan perusahaan dan
memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan perusahaan. Secara umum proses
penerimaan pegawai meliputi wawancara, psikotes, tes kesehatan yang ditentukan
oleh perusahaan.
4. Pelatihan
Pelatihan dilakukan dengan tujuan untuk
mewujudkan sumber daya manusia yang memiliki sikap, perilaku, pengabdian dan
keterampilan serta pengetahuan yang dibutuhkan dalam menjalankan tugas dan
pekerjaannya. Untuk pelatihan karyawan baru di PT Indofood CBP Sukses Makmur
Tbk Food Seasoning Division diberikan
beberapa pelatihan dasar seperti K3 dan HACCP sebelum karyawan terjun langsung
ke lapangan tempat karyawan tersebut bekerja. Apabila karyawan baru tersebut
lolos dari ujian pelatihan yang diberikan trainner,
maka karyawan tersebut baru boleh memulai pekerjaan di PT Indofood CBP Sukses
Makmur Tbk Food Seasoning Division.
Untuk pelatihan rutin (biasanya
dilakukan setahun sekali) di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division baik karyawan
baru maupun lama dilakukan oleh supervisor,
manager atau kepala departemen yang
bersangkutan dengan tema-tema yang disesuaikan dengan lingkup pekerjaan. Trainner tidak mutlak dari karyawan dari
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food
Seasoning Division saja, kadang didatangkan trainner dari luar seperti supplier
untuk bahan-bahan kimia maupun mikrobiologi. Peserta pelatihan juga dapat
berasal dari departemen lain untuk memperluas wawasan dan pengetahuan.
Tema-tema pelatihan dapat berupa: K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), HACCP, Limbah B3, GMP, dan tema-tema lain seiring dengan perkembangan perusahaan. Topik
dan waktu pelatihan yang perlu diadakan disesuaikan dengan kebutuhan dan
perkembangan departemen.
5. Gaji dan Jaminan Sosial
Gaji adalah sejumlah uang yang diberikan
perusahaan kepada pekerja sebagai imbalan suatu pekerjaan atau jasa yang telah
atau akan dilakukan, ditetapkan menurut suatu persetujuan atau peraturan
perundang-undangan dan dibayarkan atas dasar suatu perjanjian antara pekerja
dan perusahaan. Penetapan gaji di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division pada dasarnya
dilakukan berdasarkan jabatan, pangkat, golongan, kompetensi,
keahlian/kecakapan, prestasi kerja, perkembangan indeks biaya hidup dan
kemampuan perusahaan dan tidak akan lebih rendah dari peraturan pemerintah
tentang upah minimum.
Terdapat skala penggolongan gaji pada
pekerja di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division yaitu golongan 3 – 10 untuk pekerja
operatif (pelaksana), dan golongan 11 – 13 untuk pekerja staf (penunjang). Peninjauan
kenaikan gaji dilakukan setahun sekali dengan mempertimbangkan beberapa faktor,
seperti kemampuan perusahaan, kompetensi pekerja, prestasi pekerja, tingkat
inflasi dan peraturan pemerintah yang ada. Gaji bagi pekerja kontrak maupun
tetap dibayarkan paling lambat pada hari kerja setiap bulan. Dalam gaji yang
diberikan, karyawan mendapat tunjangan makan dan tunjangan transport yang
diberikan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division. Tunjangan makan diberikan dalam bentuk
natura / makan di kantin perusahaan dengan tujuan untuk menjamin kesehatan dan
standart gizi karyawan, sedangkan tunjangan transport diberikan dengan tujuan
untuk membantu setiap pekerja yang akan bekerja dapat datang ke tempat kerja
serta pulang kembali ke tempat tinggal dengan baik. Dengan demikian tidak akan
ada alasan bagi karyawan untuk tidak datang bekerja karena kehabisan uang untuk
biaya transportasi. Karyawan tetap maupun karyawan kontrak mendapatkan gaji
bulanan, kecuali untuk karyawan harian atau borongan mendapatkan gaji harian.
Karyawan yang bekerja melebihi waktu kerjanya akan diberikan tambahan gaji
sesuai dengan kelebihan jam kerja karena dihitung sebagai jam kerja lembur
dengan syarat karyawan tersebut harus memiliki Surat Perintah Lembur (SPL).
Selain gaji pokok, tenaga kerja juga
mendapatkan tunjangan dari PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division. Tunjangan yang
diberikan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division meliputi tunjangan kesehatan (rawat inap
maupun rawat jalan), tunjangan hari raya, tunjangan nikah, tunjangan
transportasi (antar jemput), dan tunjangan makan.
Karyawan yang telah bekerja lebih dari
satu tahun memiliki hak untuk mengambil cuti sebanyak 16 hari dalam 1 tahun.
Jika jumlah hari cuti yang diambil melebihi jumlah yang dipersyaratkan maka
karyawan tersebut dapat mengajukan cuti tanpa upah sesuai jumlah
ketidakhadirannya sesuai ketentuan yang berlaku. Cuti menikah, cuti hamil dan
melahirkan, cuti keluarga karyawan meninggal, dan lain-lain dapat mengajukan permohonan
izin cuti dengan tetap mendapatkan upah. Selain gaji dan tunjangan tersebut, PT
Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food
Seasoning Division juga memberikan jaminan sosial, bantuan pemeliharaan
kesehatan dan kompensasi kepada para karyawannya. Jaminan sosial yang diberikan
antara lain program Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja), sumbangan duka,
sumbangan pernikahan, dan program pensiun. Setiap pekerja diikutsertakan dalam BPJS
ketenagakerjaan yang meliputi: Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian,
dan Jaminan Hari Tua (JHT). Sumbangan duka diberikan apabila pekerja dan
anggota keluarga pekerja meninggal dunia. Sumbangan pernikahan diberikan kepada
karyawan yang melangsungkan pernikahannya yang diatur dalam perjanjian bersama
antara serikat pekerja dengan management.
Program pensiun adalah fasilitas perusahaan bagi pekerja tetap. Pekerja yang
berhak mendapatkan manfaat pensiun adalah pekerja yang telah memenuhi
persyaratan, dan usia pekerja telah mencapai 55 tahun. Fasilitas yang diberikan
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food
Seasoning Division diantaranya adalah klinik kesehatan, kantin, musholla,
koperasi, tempat ibadah, dan juga tempat merokok. Bantuan pemeliharaan
kesehatan adalah bantuan yang diberikan perusahaan dalam rangka memelihara
dan/atau memulihkan pekerja dan/atau keluarganya yang berhak. Bantuan pemeliharaan
kesehatan ini meliputi rawat jalan, rawat inap, bantuan kacamata, dan paket
persalinan. Biaya rawat jalan apabila dalam setahun tidak digunakan, maka pada
akhir tahun dana tersebut akan diberikan kepada karyawan sepenuhnya sesuai
dengan aturan yang berlaku.
Kompensasi yang diberikan PT Indofood
CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning
Division kepada karyawannya antara lain: kerja lembur, Tunjangan Hari Raya
(THR), biaya perjalanan dinas, biaya pemondokan, dan bantuan biaya pendidikan. Lembur merupakan
kompensasi untuk pekerjaan yang dilakukan di luar jam kerja atau pada hari
libur. Tarif upah lembur mengikuti UU N0.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan.
Tunjangan Hari Raya (THR) diberikan oleh perusahaan sebagai tambahan uang
kepada setiap pekerja menjelang hari raya keagamaan. Tunjangan tersebut
diberikan paling lambat 2 minggu sebelum hari raya. Perjalanan dinas adalah
perjalanan tugas luar kota yang dilakukan oleh pekerja atas nama perusahaan dan
atas persetujuan kepala divisi yang bersangkutan. Biaya perjalanan dinas adalah
semua biaya yang timbul karena perjalanan dinas bukan karena keperluan pribadi.
Biaya pemondokan diberikan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division untuk pekerja
yang ditugaskan ke kota yang ditetapkan untuk waktu yang cukup lama
sekurang-kurangnya 1 bulan untuk kepentingan perusahaan, di mana diperlukan
biaya tambahan untuk sarana tempat tinggal pekerja di tempat karyawan ditugaskan.
Bantuan biaya pendidikan (beasiswa) diberikan oleh PT Indofood CBP Sukses
Makmur Tbk Food Seasoning Division
kepada anak karyawan yang berprestasi.
C. Aspek Umum: Analisa Mikrobiologik
Produk PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food
Seasoning Division
Pengujian mikrobiologik produk-produk PT
Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food
Seasoning Division memerlukan tahap-tahap tertentu sehingga menghasilkan
hasil analisa yang akurat sesuai harapan. Hal ini ditunjang dengan adanya
sarana analisa, alat analisa, media yang digunakan, dan teknologi proses untuk
menghasilkan keakuratan hasil analisa.
1. Sarana analisa
Proses analisa mikrobiologi yang
dilakukan pada produk-produk PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division diperlukan
adanya sarana dan peralatan yang cukup memadai sehingga dihasilkan hasil
analisa yang akurat. Sarana yang dibutuhkan untuk kelancaran proses analisa di
lab PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food
Seasoning Division adalah air yang digunakan dan sumber listrik.
a.
Air yang digunakan
Terdapat tiga jenis air yang digunakan
di lab mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division, yaitu air tanah, air aquades dan air
aquabides. Air tanah digunakan untuk sanitasi peralatan yang digunakan dalam
proses analisa. Sedangkan untuk membuat media mikrobiologi digunakan aquadest
maupun aquabides.
b.
Sumber Listrik
Tenaga listrik PT Indofood CBP Sukses
Makmur Tbk Food Seasoning Division
didapat dari PLN (Perusahaan Listrik Negara) sebagai salah satu kebutuhan utama
dalam kelangsungan kelistrikan di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division.
2. Peralatan Proses Analisa
a. Autoklaf
Autoklaf adalah alat pemanas tertutup
yang digunakan untuk mensterilisasi suatu benda menggunakan uap bersuhu dan
bertekanan tinggi (121 ºC, 15 lbs) selama kurang lebih 15 menit. Penurunan
tekanan pada autoklaf tidak dimaksudkan untuk membunuh mikroorganisme,
melainkan meningkatkan suhu dalam autoklaf. Suhu yang tinggi inilah yang akan
membunuh mikroorganisme. Autoklaf terutama ditujukan untuk membunuh endospora, yaitu sel resisten yang
diproduksi oleh bakteri. Sel ini tahan terhadap pemanasan, kekeringan, dan
antibiotik. Endospora dapat dibunuh pada suhu 100 °C,
yang merupakan titik didih air pada tekanan atmosfer normal. Pada suhu 121 °C,
endospora dapat dibunuh dalam waktu 4-5 menit, di mana sel vegetatif bakteri
dapat dibunuh hanya dalam waktu 6-30 detik pada suhu 65 °C.
Perhitungan waktu sterilisasi autoklaf
dimulai ketika suhu di dalam autoklaf mencapai 121 °C. Jika objek yang
disterilisasi cukup tebal atau banyak, transfer panas pada bagian dalam
autoklaf akan melambat, sehingga terjadi perpanjangan waktu pemanasan total
untuk memastikan bahwa semua objek bersuhu 121 °C untuk waktu 10-15 menit.
Perpanjangan waktu juga dibutuhkan ketika cairan dalam volume besar akan
diautoklaf karena volume yang besar membutuhkan waktu yang lebih lama untuk
mencapai suhu sterilisasi. Performa autoklaf di laboratorium mikrobiologi PT
Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food
Seasoning Division diuji dengan indikator biologi, yaitu Bacillus stearothermophilus. Selain itu,
untuk menjaga keakuratan panas dari autoklaf dilakukan juga kalibrasi secara
berkala oleh bagian Quality Assurance.
Penampakan autoklaf dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar
1. Autoklaf
b. Inkubator
Inkubator adalah alat dengan suhu atau kelembaban
tertentu yang digunakan untuk menginkubasi atau memeram mikroba. Kisaran suhu
untuk inkubator produksi “Heraeus B5042” misalnya adalah 10-70oC.
Suhu di dalam inkubator konstan dan dapat diatur sesuai dengan
tujuan inkubasi. Inkubator mempertahankan
suhu optimal, kelembaban dan kondisi lain seperti karbon dioksida (CO2)
dan kandungan oksigen dari atmosfer di dalam. Inkubator sangat penting untuk
banyak pekerjaan eksperimental dalam biologi sel, mikrobiologi dan biologi
molekuler dan digunakan untuk kultur bakteri baik serta sel eukariotik. Di dalam
laboratorium mikrobiologi digunakan untuk menumbuhkan bakteri pada suhu
tertentu, menumbuhkan ragi dan jamur, menyimpan biakan murni mikroorganisme
pada suhu rendah.
Ciri dari inkubator yaitu memiliki sekat untuk
menumbuh kembangkan mikroba, terdapat sekat kaca pada pintunya yang
berfungsi untuk mempermudah melihat mikroba yang sedang diinkubasi tanpa
membuka dan menutup bagian dalam dari inkubator sehingga suhunya tetap
terjaga. Prinsip kerjanya yaitu mengubah energi listrik menjadi energi
panas. Kawat nikelin akan menghambat aliran elektron yang mengalir sehingga
mengakibatkan peningkatan suhu kawat (Taiyeb, 2001). Mesin inkubator
mikrobiologi dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar
2. Inkubator
c. Erlenmeyer
Erlenmeyer merupakan alat gelas dalam
laboratorium di mana dalam laboratorium mikrobiologi berfungsi untuk membuat
media yang membutuhkan pemanasan pendahuluan seperti PCA, GLUCOSE, YGCA dan lain-lain. Labu Erlenmeyer dapat digunakan
untuk meracik dan menghomogenkan bahan-bahan komposisi media, menampung
akuades, kultivasi mikroba dalam kultur cair, dll. Terdapat beberapa pilihan
berdasarkan volume cairan yang dapat ditampungnya yaitu 25 ml, 50 ml, 100 ml,
250 ml, 300 ml, 500 ml, 1000 ml, dsb. Di laboratorium mikrobiologi PT Indofood
CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning
Division digunakan erlenmeyer sampai ukuran volume 2000 ml. Penggunaanya
disesuaikan dengan media yang akan dibuat. Kenampakan erlenmeyer dapat dilihat
pada Gambar 3.
Gambar 3. Erlenmeyer
d.
Hot
plate stirrer dan stirrer bar
Hot
plate stirrer dan
Stirrer bar (magnetic stirrer) berfungsi untuk menghomogenkan suatu larutan
dengan pengadukan. Pelat yang terdapat dalam alat ini dapat dipanaskan sehingga
mampu mempercepat proses homogenisasi. Pengadukan dengan bantuan batang magnet Hot plate dan magnetic stirrer misalnya mampu menghomogenkan sampai 10 Liter,
dengan kecepatan sangat lambat sampai 1600 rpm dan dapat dipanaskan sampai 400 áµ’
C. Dalam prakteknya setting suhu hot plate dalam pembuatan media di PT Indofood
CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division
maksimal adalah pada suhu 315áµ’ C. Maksud dan tujuan dari pengaturan suhu
tersebut adalah menjaga agar tidak terjadi pemanasan yang berlebihan pada media
yang dibuat dan menjaga agar hot plate
tidak mudah rusak. Kenampakan hot plate
& stirrer bar dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar
4. Hot plate & stirrer bar
e. Gelas Timbang
Gelas timbang merupakan gelas yang
digunakan di laboratorium mikrobiologi di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division sebagai wadah
media agar, maupun pengencer. Terdapat 4 jenis gelas timbang yang digunakan di
laboratorium PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division, yaitu gelas timbang ukuran 50 ml, 250 ml,
500 ml dan 1000 ml. Beberapa gelas timbang yang biasa digunakan dapat dilihat
pada Gambar 5.
Gambar
5. Gelas timbang
f. Timbangan
Timbangan yang digunakan dalam
laboratorium terdiri dari berbagai jenis dan merk. Yang terpenting adalah
kapasitas serta ketelitiannya. Laboratorium mikrobiologi PT
Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food
Seasoning Division dilengkapi
dengan 2 buah timbangan yang memiliki kapasitas 2000 gr dengan ketelitian sampai
0,01 gr. Untuk menjaga akurasi
timbangan ini, dilakukan kalibrasi alat yang dilakukan oleh bagian Quality Assurance secara berkala. Kenampakan
timbangan yang digunakan pada laboratorium mikrobiologi PT
Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food
Seasoning Division dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6.
Timbangan
g.
Gelas
Ukur
Gelas ukur berguna untuk mengukur volume
suatu cairan. Seperti labu erlenmeyer, gelas ukur memiliki beberapa pilihan
berdasarkan skala volumenya.
Terdapat 2 tipe ukuran gelas ukur di laboratorium mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division yaitu ukuran 100 ml dan 1000 ml. Untuk gelas ukur 100 ml digunakan untuk mengukur dan menuang aquades dan/atau cairan pengencer ke gelas timbang. Sedangkan gelas ukur 1000 ml digunakan untuk mengukur dan menuang aquades ke erlenmeyer dalam pembuatan media yang akan dilakukan pemanasan pendahuluan. Kenampakan gelas ukur dapat dilihat pada Gambar 7.
Terdapat 2 tipe ukuran gelas ukur di laboratorium mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division yaitu ukuran 100 ml dan 1000 ml. Untuk gelas ukur 100 ml digunakan untuk mengukur dan menuang aquades dan/atau cairan pengencer ke gelas timbang. Sedangkan gelas ukur 1000 ml digunakan untuk mengukur dan menuang aquades ke erlenmeyer dalam pembuatan media yang akan dilakukan pemanasan pendahuluan. Kenampakan gelas ukur dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar
7. Gelas ukur
h. Beaker
Glass
Beaker
glass merupakan alat yang memiliki banyak fungsi. Di
dalam laboratorium mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division biasa digunakan
untuk preparasi media-media, menampung akuades dll. Beaker glass memiliki banyak ukuran. Di laboratorium mikrobiologi
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food
Seasoning Division sendiri memiliki 4 tipe beaker glass yaitu volume 500
ml, 3000 ml, 4000 ml, dan 5000 ml. Penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan.
Kenampakan beaker glass dapat dilihat
pada Gambar 8.
Gambar
8. Beaker glass
i.
Colony Counter
Alat ini berguna untuk mempermudah
perhitungan koloni yang tumbuh setelah diinkubasi di dalam cawan karena adanya
kaca pembesar. Selain itu alat tersebut dilengkapi dengan skala/ kuadran yang
sangat berguna untuk pengamatan pertumbuhan koloni sangat banyak. Jumlah koloni
pada cawan petri dan dihitung otomatis yang dapat direset. Coloni counter untuk penghitungan koloni dapat dilihat pada Gambar
9.
Gambar
9. Coloni counter
j.
Termometer
Termometer adalah alat untuk mengukur panas atau suhu.
Pada umumnya, termometer terbuat dari tabung kaca yang diisi zat cair
termometrik. Termometer berasal dari bahasa Latin thermo yang artinya panas, dan meter yang
artinya untuk mengukur. Zat cair termometrik adalah zat cair yang mudah
mengalami perubahan fisis jika dipanaskan atau didinginkan, misalnya air raksa dan alkohol. Termometer mempunyai banyak jenis, antara lain
termometer klinis, termometer dinding, termometer bimetal, dan termometer
maksimum-minimum. Termometer yang digunakan di laboratorium mikrobiologi
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food
Seasoning Division adalah termometer air
raksa. Fungsi thermometer di laboratorium mikrobiologi khususnya
adalah untuk mengukur suhu suatu larutan atau ruang inkubator. Prinsip kerjanya
yaitu mengukur suhu sesuai laju air raksa di dalam termometer. Kenampakan termometer
dapat dilhat pada Gambar 10.
Gambar
10. Termometer
k. Lemari pendingin
Lemari
pendingin di laboratorium
mikrobiologi berguna untuk menyimpan kultur media, buffer pH/konduktivity,
sampel yang membutuhkan perlakuan khusus dan beberapa media yang mudah menguap
dan media yang tidak tahan terhadap panas. Lemari pendingin dapat dilihat pada
Gambar 11.
Gambar
11. Lemari pendingin
l.
Kompor
Kompor di laboratorium mikrobiologi
digunakan untuk remelt (mencairkan
kembali media agar) yang telah sudah berbentuk agar. Kenampakan kompor dapat
dilihat pada Gambar 12.
Gambar 12.
Kompor
m. Spatula
Alat ini berfungsi khususnya pada
pembuatan media yang digunakan untuk analisa, sehingga membantu tercapainya
berat timbangan media yang benar. Spatula untuk laboratorium mikrobiologi dapat
dilihat pada Gambar 13.
Gambar 13.
Spatula
n. Water
bath (penangas
air)
Water
Bath (penangas air) berfungsi untuk menyimpan media agar
(yang digunakan untuk analisa dengan teknik tuang / pour plate ) supaya media tetap dalam kondisi leleh/cair, biasanya
suhu diatur pada kisaran 40-45ºC. Gambar peralatan ini dapat dilihat pada
Gambar 14.
Gambar 14. Water Bath
o. Pembakar Bunsen
Salah satu alat yang berfungsi untuk
menciptakan kondisi yang steril adalah pembakar bunsen. Api yang menyala dapat
membuat aliran udara karena oksigen dikonsumsi dari bawah dan diharapkan
kontaminan ikut terbakar dalam pola aliran udara tersebut. Untuk sterilisasi
jarum ose atau yang lain, bagian api yang paling cocok untuk memijarkannya
adalah bagian api yang berwarna biru (paling panas). Bahan bakar bunsen dapat
menggunakan bahan bakar gas atau metanol. Akan tetapi sekarang penggunaan
bunsen kurang dianjurkan untuk laboratorium mikrobiologi karena residu yang
dihasilkan oleh pembakaran tersebut dan sisa gas yang dihasilkan dari bunsen
bisa berdampak bahaya bagi analis. Sehingga, sekarang laboratorium mikrobiologi
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food
Seasoning Division mengarahkan pemakaian alat tersebut diganti dengan
menggunakan incenerator. Kenampakan
pembakar bunsen dapat dilihat pada Gambar 15.
Gambar 15.
Pembakar bunsen
p. Incenerator
Incenerator
merupakan alat pengganti bunsen yang lebih aman, karena energi panas dihasilkan
dari listrik. Prinsip kerjanya hampir sama dengan hot plate yang menghasilkan panas, akan tetapi panas yang
dihasilkan cukup tinggi sehingga dapat memijarkan ose. Residu yang dihasilkan
dari pembakaran ose akan terbakar di dalam alat tersebut sehingga resiko
kontaminasi akan sangat mudah dihindari. Alat tersebut dapat dilihat pada
Gambar 16.
Gambar 16. Incenerator
q. Pipet
Di laboratorium mikrobiologi
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food
Seasoning Division digunakan pipet gelas. Pipet gelas merupakan pipet yang
terbuat dari gelas mempunyai garis-garis skala, cairan dapat dikeluarkan
berdasarkan jumlah yang diperlukan. Pipet gelas di laboratorium mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses
Makmur Tbk Food Seasoning Division
memiliki beberapa tipe dari skala volumenya yaitu volume 2 ml, 5 ml dan 10 ml.
Penggunaan pipet-pipet tersebut disesuaikan dengan kebutuhan. Pipet ukur yang
digunakan dapat dilihat pada Gambar 17
Gambar 17. Pipet
r. Mikroskop Cahaya (Brightfield
Microscope)
Salah satu alat untuk melihat sel
mikroorganisme adalah mikroskop cahaya. Dengan mikroskop kita dapat mengamati
sel bakteri yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Pada umumnya, mata
tidak mampu membedakan benda dengan diameter lebih kecil dari 0,1 mm.
Kenampakan mikroskop cahaya dapat dilihat pada Gambar 18.
Gambar
18. Mikroskop Cahaya
s. Cawan Petri (petri dish)
Cawan petri berfungsi untuk membiakkan (kultivasi) mikroorganisme. Medium dapat
dituang ke cawan bagian bawah dan cawan bagian atas sebagai penutup. Cawan
petri tersedia dalam berbagai macam ukuran, diameter cawan yang biasa
berdiameter 15 cm dapat menampung media sebanyak 15-20 ml, sedangkan cawan
berdiameter 9 cm kira-kira cukup diisi media sebanyak 10 ml. Cawan petri untuk
analisa mikrobiologi dapat dilihat pada Gambar 19.
Gambar 19. Cawan
Petri
t.
Batang L (L
Rod)
Batang L bermanfaat untuk menyebarkan
cairan di permukaan media agar supaya bakteri yang tersuspensi dalam cairan
tersebut tersebar merata. Alat ini juga disebut spreader, dapat dilihat pada
Gambar 20.
Gambar 20.
Batang L
u. Tabung Durham (Durham Tube)
Tabung durham yaitu tabung yang memiliki
bentuk yang sama dengan tabung reaksi tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil
dibanding tabung reaksi, dapat dilihat pada Gambar 21. Fungsi tabung durham
untuk menampung hasil fermentasi mikroorganisme berupa gas. Dalam
penggunaannya, maka tabung durham itu ditempatkan terbalik di dalam tabung
reaksi yang lebih besar dan tabung ini kemudian diisi dengan medium cair.
Setelah seluruhnya disterilkan dan medium sudah dingin, maka dapat dilakukan
inokulasi. Jika bakteri yang ditumbuhkan dalam media tersebut memang
menghasilkan gas, maka gas akan tampak sebagai gelembung pada dasar tabung
durham.
Gambar 21.
Tabung Durham
v.
Tabung
reaksi (Reaction Tube / Test Tube)
Di dalam mikrobiologi, tabung reaksi
digunakan untuk uji-uji biokimiawi dan menumbuhkan mikroba. Tabung reaksi dapat
diisi media padat maupun cair, dapat dilihat pada Gambar 22. Tutup tabung
reaksi dapat berupa kapas, tutup metal, tutup plastik atau aluminium foil.
Media padat yang dimasukkan ke tabung reaksi dapat diatur menjadi 2 bentuk
menurut fungsinya, yaitu media agar tegak dan agar miring. Untuk membuat agar
miring, perlu diperhatikan tentang kemiringan media yaitu luas permukaan yang
kontak dengan udara tidak terlalu sempit atau tidak terlalu lebar dan hindari
jarak media yang terlalu dekat dengan mulut tabung karena memperbesar resiko kontaminasi.
Untuk alasan efisiensi, media yang ditambahkan berkisar 10-12 ml tiap tabung.
Gambar 22.
Tabung reaksi
w. Ose / Jarum Inokulum (inoculating
loop)
Jarum inokulum berfungsi untuk
memindahkan biakan untuk ditanam/ditumbuhkan ke media baru. Jarum inokulum
biasanya terbuat dari kawat nichrome atau platinum sehingga dapat berpijar jika
terkena panas. Bentuk ujung jarum dapat berbentuk lingkaran (loop) dan
disebut ose atau inoculating loop/transfer loop, dan yang berbentuk
lurus disebut inoculating needle/transfer
needle. Inoculating loop cocok
untuk melakukan streak di permukaan agar, sedangkan inoculating needle cocok digunakan untuk inokulasi secara tusukan
pada agar tegak (stab inoculating). Kenampakan ose / jarum inokulum
dapat dilihat pada Gambar 23.
Gambar 23.
Ose/Jarum inokulum
x. Oven
Oven Berfungsi untuk sterilisasi kering.
Alat-alat yang disterilkan menggunakan oven antara lain peralatan gelas seperti
cawan petri, tabung reaksi, batang L, dan pipet. Sterilisasi kering dengan oven
dilakukan dengan cara memanaskan dengan suhu 180áµ’C selama 1,5 sampai 2 jam.
Oven mikrobiologi dapat dilihat pada Gambar 24.
Gambar 24. Oven
Mikrobiologi
y. pH dan Konduktivity meter
pH meter berfungsi untuk mencek derajat
keasaman / pH media, karena derajat keasaman sangan berpengaruh terhadap
pertumbuhan mikroba. Konduktivity meter digunakan untuk mencek konduktivity
dari aquades yang dipakai untuk pembuatan media. pH dan konduktivity meter
dapat dilihat pada Gambar 25
Gambar 25. pH
dan konduktivity meter
z.
Pompa Vakum
Pompa vakum (alat
sterilisasi dengan filtrasi) digunakan untuk menyaring mikroba yang terdapat dalam suatu cairan,
kenampakan pompa vakum dapat dilihat pada Gambar 26. Penggunaan di laboratorium
mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur Devisi
Bumbu adalah untuk menyaring air
bilasan.
Gambar 26. Pompa vakum
aa. Biological Safety
Cabinet / Laminar Air Flow
Biological
Safety Cabinet (BSC) atau dapat juga disebut Laminar Air Flow (LAF) adalah alat yang
berguna untuk bekerja secara aseptis karena BSC
mempunyai pola pengaturan dan penyaring aliran udara sehingga menjadi steril
dan aplikasi sinar UV beberapa jam
sebelum digunakan. Di laboratorium mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur
Tbk Food Seasoning Division alat ini
biasanya digunakan untuk proses analisa swab EB (Enterobacter) dan kontrol positif/negatif. Peralatan ini dapat dilihat pada Gambar 27.
Gambar 27. Biological Safety Cabinet
bb. Fortex
Fortex
merupakan alat yang digunakan di laboratorium untuk menghomogenkan larutan yang
dimasukkan dalam tabung reaksi, dapat dilihat pada Gambar 28. Penggunaan di
laboratorium mikrobiologi yaitu untuk menghomogenkan larutan pengencer.
Gambar 28. Fortex
3. Media yang Digunakan
Beberapa
media yang digunakan dalam pengujian mikrobiologi di PT Indofood CBP Sukses
Makmur Food Seasoning Cibitung yaitu:
a.
PCA
(Plate Count Agar), digunakan untuk analisa APC.
b.
YGCA(Yeast
Extract Chloramphenicol Agar) , digunakan untuk analisa
.
c.
DG(Dichloran
Glyserol) 18, digunakan untuk analisa .
d.
LST(Lauryl
Triptose Broth), media cair yang digunakan untuk uji
penduga E.coli dan Coliform.
e.
VRBA(Violet
Red Bile Agar), media padat yang digunakan untuk uji
penduga E.coli dan Coliform.
f.
VRBG(Violet
Red Bile Glucose), digunakan untuk uji penduga Enterobacter.
g.
BGLB(Brilliant
Green Lactose Bile), digunakan untuk konfirmasi Coliform.
h.
EC(E.Coli)
Broth, digunakan untuk uji penguat pada E.Coli.
i.
Pepton
Water, digunakan untuk uji penegas pada E.coli.
j.
NA(Nutrien
Agar), digunakan untuk konfirmasi Enterobacter.
k.
Glukose
OF,
digunakan untuk konfirmasi lanjutan Enterobacter.
Beberapa pengencer yang digunakan
yaitu TS(Tripton Salt), PS(Pepton Salt), Glukose, dan BPW.
Penggunaannya disesuaikan dengan media yang digunakan dan jenis analisa yang
akan dilakukan.
4. Proses Pengujian
Pada pengujian secara mikrobiologi ada 2 tipe pengujian yang dilakukan
yaitu secara kuantitatif dan kualitatif. Pengujian
kuantitatif antara lain analisa TPC, Escherichia coli, Coliform, Vibrio parahaemolyticus, dan Stapylococcus aureus, sedangkan pengujian kualitatif
adalah analisa Salmonella, Vibrio cholera, dll.
Pengujian
mikrobiologi yang dilakukan pada produk PT Indofood CBP Sukses
Makmur Tbk Food Seasoning Division
Cibitung antara lain analisa TPC, , E.
Coli, Coliform, dan Enterobachter.
Untuk mendapatkan hasil analisa, beberapa tahap perlu dilaksanakan. Tahap-tahap
yang dilaksanakan meliputi: pembuatan media, pendataan sampel, inokulasi, inkubasi,
pengamatan hasil analisa, dekontaminasi, pencucian/sanitasi, pembuangan limbah.
a.
Pembuatan
media
Terdapat beberapa macam media yang biasa digunakan di
laboratorium mikrobiologi antara lain: 1) media umum, yaitu media yang dapat dipergunakan
untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan satu atau lebih
kelompok mikroba secara umum; 2) media pengaya, yaitu dipergunakan dengan
maksud “memberikan kesempatan” terhadap suatu jenis atau kelompok mikroba untuk
tumbuh menjadi cepat; 3) media selektif, yaitu media yang hanya dapat ditumbuhi oleh satu
atau lebih jenis mikroba tertentu tetapi akan menghambat atau mematikan untuk
jenis-jenis lainnya; 4) media diferensiasi, yaitu media yang dipergunakan untuk
pengujian senyawa atau benda tertentu dengan bantuan mikroba; 5) media penguji,
yaitu media yang dipergunakan untuk pengujian senyawa atau benda tertentu
dengan bantuan mikroba; 6) media enumerasi, yaitu media yang dipergunakan untuk menghitung jumlah
mikroba pada suatu bahan (Suriawiria, 2005); 7) media selektif, yaitu media
yang hanya dapat ditumbuhi oleh satu atau lebih jenis mikroba tertentu tetapi
akan menghambat atau mematikan untuk jenis-jenis lainnya.
Garis besar pembuatan media yang
tersusun atas beberapa bahan diawali dengan mencampur bahan-bahan, dilarutkan
dalam air suling dan dipanaskan dalam pemanas air supaya larutannya
homogen. Kemudian dilanjutkan dengan
menentukan dan mengatur pH. Setelah itu masukkan media ke dalam tempat
tertentu. Sebelum disterilkan, media dimasukkan ke dalam erlenmeyer atau wadah
lain yang bersih, kemudian ditutup kapas atau kertas sampul (kertas perkamen)
supaya tidak basah sewaktu disterilkan. Sterilisasi umumnya dilakukan dengan
udara panas dalam autoklaf pada suhu121° C selama 15- 30 menit. pH merupakan faktor yang
sangat mempengaruhi suatu keberhasilan dalam pembuatan medium sehingga kondisi
pH yang terlalu basa atau terlalu asam tidak cocok untuk dijadikan medium
mikroba karena mikroba tidak dapat hidup pada kondisi tersebut. Medium
didiamkan atau disimpan selama 2 x 24 jam untuk menyakinkan bahwa medium masih
steril, karena selain pH sebagai penentu tumbuhnya mikroba, alat dan medium
yang steril juga menentukan. Sterilisasi adalah proses atau kerja untuk
membebaskan suatu bahan seperti medium pertumbuhan mikroba atau peralatan
laboratorium dari semua kehidupan. Sterilisasi merupakan suatu proses untuk
membunuh semua jasad renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu
medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang biak. Sterilisasi harus
membuat jasad renik yang paling tahan terhadap panas seperti spora bakteri
mati. Hampir semua tindakan yang dilakukan dalam diagnosa mikrobiologis,
sterilisasi sangat diutamakan baik alat-alat yang siap pakai maupun medianya.
Suatu alat atau bahan dikatakan steril apabila alat atau bahan tersebut bebas
dari mikroba baik dalam bentuk vegetatif maupun spora. Oleh karena itu, bagi
seorang pemula di bidang mikrobiologi sangat perlu mengenal teknik sterilisasi,
pembuatan media serta teknik penanaman, hal ini semua merupakan dasar-dasar
kerja dalam laboratorium mikrobiologi. Sterilisasi berarti proses
pemusnahan bakteri dengan cara membunuh mikroorganisme. Dalam kegiatan
penelitian mikroba, digunakan alat dan medium yang steril,
maka sterilisasi ini adalah usaha untuk membebaskan alat atau bahan-bahan dari
segala macam kehidupan atau kontaminasi oleh mikroba (Suriawiria, 2005). Proses
sterilisasi media padat, cair maupun semi padat di laboratorium PT Indofood CBP
Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division
dilakukan dengan menggunakan autoklaf. Suhu yang digunakan untuk sterilisasi
media tersebut adalah 121áµ’C selama 15 menit, tekanan 1,1 bar. Akan tetapi untuk
media berupa glucose yang digunakan
untuk dilution/pengencer, digunakan
sterilisasi pada suhu 115áµ’C dengan tekanan 0,75 bar selama 10 menit. Media yang
telah dilakukan sterilisasi dan pHnya sesuai bisa langsung digunakan. Akan
tetapi apabila tidak langsung digunakan dapat disimpan pada lemari (ruang
gelap) atau disimpan di dalam kulkas, di mana umur simpan dari media tersebut
harus diperhatikan. Waktu penyimpanan media jadi sangat beragam. Menurut ISO/TS
11133-1 (2009:7) media jadi disimpan pada suhu 5±3 °C dan disarankan untuk
disimpan tidak melebihi 2-4 minggu untuk media cawan dan 3-6 bulan untuk media
cair. Media yang ditambah suplemen sebaiknya dipakai pada hari yang sama saat
pembuatan. Media jadi sebaiknya disimpan dalam suatu kemasan
yang berguna untuk meminimalisasi kehilangan air dalam media agar, melindungi
dari cahaya dan juga melindungi dari kontaminasi. Secara umum plastik tahan
panas cocok untuk membungkus media cawan (tidak peka cahaya) yang telah jadi.
Pada keadaan terbungkus inilah media dapat disimpan atau dipindahkan keluar
dari kondisi aseptis. Media padat yang disimpan terlalu lama pada suhu ruang
akan kehilangan kadar airnya sehingga media semakin mengeras, menipis,
pecah-pecah dan jika kehilangan semua air maka akan menjadi kerak di cawan
petri. Penyimpanan pada suhu refrigerator lebih dapat mempertahankan kandungan
air dalam media agar. Terdapat juga bahan dapat berubah
menjadi beracun ketika terpapar cahaya seperti beberapa pewarna (dye). Dengan alasan inilah sebaiknya media tersebut
disimpan pada keadaan gelap (Corry et al.,2003:388).
b. Pendataan
sampel
Pendataan sampel merupakan hal yang
cukup vital dilakukan sebelum analisa. Pendataan dilakukan oleh bagian
administrasi sampel di mana sampel
produk diperoleh dari bagian QC field.
Tata cara pengambilan sampel produk memiliki prosedur yang sistematis agar
sampel uji yang diambil dapat mewakili batch produk yang dihasilkan oleh bagian
produksi. Dilakukan pendataan sampel agar memudahkan dalam releasing produk dan memudahkan penelusuran apabila suatu saat
ditemukan masalah.
c.
Inokulasi
Sampel
yang telah didata oleh bagian administrasi sampel dan diperlukan analisa
mikrobiologi, selanjutnya diserahkan ke analis di laboratorium mikrobiologi
untuk diinokulasi. Secara umum pengertian inokulasi adalah pekerjaan memindahkan bakteri
dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang sangat
tinggi. Inokulasi pada produk memiliki prinsip yang sama, akan tetapi medium
lama tersebut merupakan sampel yang diuji.
Untuk melakukan penanaman bakteri (inokulasi) terlebih dahulu diusakan agar
semua alat yang ada dalam hubungannya dengan medium agar tetap steril, hal ini
agar menghindari terjadinya kontaminasi (Dwijoseputro, 1998). Sebelum melakukan
inokulasi, perlu diperhatikan juga ruang tempat inokulasi harus bersih dan
keadannya harus steril agar tidak terjadi kesalahan dalam pengamatan atau
percobaaan, begitu juga personil yang berada dalam ruangan inokulasi tersebut. Dalam prakteknya, di laboratorium
mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division terdapat beberapa metode inokulasi, yaitu: Spread Plate (agar
tabur ulas) dan Pour Plate (agar tuang). Spread plate merupakan teknik menanam dengan menyebarkan suspensi
sampel produk di permukaan agar. Adapun prosedur kerja yang dapat dilakukan
yaitu ambil suspensi cairan sebanyak 1 ml dengan pipet ukur kemudian teteskan
diatas permukaan agar yang telah memadat (digunakan media padat DG 18) dengan
membagi 1 ml cairan suspensi tersebut ke dalam 3 petri yang berisi media padat
tersebut (0,3ml, 0,3 ml dan 0,4 ml). Kemudian disebarkan dengan menggosokkan
batang L atau batang drugal yang sebelumnya telah disterilisasi pada permukaan agar tetesan suspensi merata.
Teknik penanaman dengan metode spread
plate dapat dilihat pada Gambar 29.
Gambar
29. Teknik penanaman mikroba dengan metode spread
plate
Dalam
teknik penanaman Pour Plate (agar tuang) memerlukan agar yang
belum padat (>45oC) untuk dituang bersama cairan suspensi sampel
ke dalam cawan petri kemudian dihomogenkan dan dibiarkan memadat. Hal ini akan menyebarkan
sel-sel bakteri tidak hanya pada permukaan agar saja melainkan sel terendam
agar (di dalam agar) sehingga terdapat sel yang tumbuh dipermukaan agar yang
kaya O2 dan ada yang tumbuh di dalam agar yang tidak begitu
banyak mengandung oksigen. Adapun prosedur kerja yang dilakukan yaitu siapkan
cawan steril, tabung pengenceran yang akan ditanam dan media padat yang masih
cair (>45oC). Kemudian teteskan 1 ml secara aseptis suspensi
sampel kedalam cawan kosong. Setelah itu tuangkan media yang masih cair ke
cawan kemudian putar cawan untuk menghomogenkan suspensi bakteri dan media,
kemudian diinkubasi. Metode ini dilakukan pada analisa TPC dan coliform.
d. Inkubasi
Inkubasi merupakan
suatu teknik perlakuan bagi mikroorganisme yang telah diinokulasikan pada
madia (padat, cair maupun semisolid), kemudian di simpan pada suhu tertentu
untuk dapat melihat pertumbuhannya. Bila suhu inkubasi tidak sesuai dengan yang
diperlukan, biasanya mikroorganisme tidak dapat tumbuh dengan baik. Suhu dan
waktu inkubasi pada beberapa analisadi laboratorium PT Indofood CBP Sukses
Makmur Tbk Food Seasoning Division
dapat dilihat pada tabel 6.
|
Tabel
6.
|
Suhu dan waktu
inkubasi analisa mikrobiologi di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division
|
||
|
Jenis Analisa
|
Suhu
|
Waktu
|
|
|
APC (Cawan Petri)
|
30áµ’C ± 1áµ’C
|
72 jam ± 3 jam
|
|
|
APC (Petrifilm)
|
30áµ’C ± 1áµ’C
|
72 jam ± 3 jam
|
|
|
Kapang/khamir (Cawan
Petri)
|
25áµ’C ± 1áµ’C
|
120 jam ± 5
jam
|
|
|
Enterobacter, Coliform, E.coli
|
37áµ’C ± 1áµ’C
|
22 - 24 jam
|
|
|
Bio indikator
|
55áµ’C ± 1áµ’C
|
Max 72 jam
|
|
|
E.coli, Coliform (konfirmasi)
|
44áµ’C ± 1áµ’C
|
24 ± 2 jam
|
|
|
Kapang/khamir (rapid)
|
25áµ’C ± 1áµ’C
|
48 jam ± 2 jam
|
|
e.
Pengamatan Hasil
Analisa
Setelah waktu inkubasi tercapai,
dilakukan pengamatan koloni mikroorganisme. Beberapa metode penghitungan koloni
yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1)
APC
Uji Aerobic
Plate Count (APC) merupakan uji mikrobiologi untuk mengetahui total jumlah sel hidup atau coloni forming unit (CFU)
yang ada pada makanan khususnya mikrobia
mesofilik aerob. Prinsip kerja dari uji ini adalah sampel diencerkan dengan
larutan pengencer sampai faktor pengenceran tertentu (misal:10-1 , 10-2 , 10-3,
dst). Media
yang digunakan untuk uji APC adalah PCA (Plate
Count Agar). Masa inkubasi dilakukan
dengan membalik cawan petri yang berisi biakan. Hal ini dimaksudkan untuk
menghindari jatuhnya butir air hasil pengembunan disebabkan suhu inkubator.
Apabila sampai terdapat air yang jatuh maka akan merusak pembacaan APC dari
sampel yang diuji. Cara inokulasi yang dipilih adalah cara tuang, di mana hal
ini dimaksudkan untuk melihat pertumbuhan bakteri
aerob mesofil, yang membutuhkan
oksigen dalam pertumbuhannya, sehingga akan teramati bahwa pertumbuhan bakteri aerob mesofil tersebut akan
berada di permukaan
lempeng agar, karena pertumbuhannya yang mencari oksigen. Oleh karena itu, pada pengamatan APC ini,
dicari hanya koloni bakteri yang tumbuh di permukaan lempeng agar. Seiring
dengan perkembangan teknolologi, pengujian APC
dengan menggunakan cawan petri sudah dapat digantikan dengan metode pengujian
yang lebih mudah dan ringkas. Petrifilm adalah salah satu ready to use media yang banyak digunakan di Indonesia. Caranya dengan
membuka petrifilm dan teteskan sample diatasnya. Tutup petrifilm dan inkubasi
selama 72 jam. Koloni yang tumbuh berwarna merah muda sampai merah tua.
2)
Uji kapang dan khamir
Pengujian dilakukan dengan menggunakan metode cawan
hitung cara tuang (pour plate) dengan
media selektif Yeast Extract Chloramphenicol Agar (YGCA) atau cara
permukaan dengan media DG 18. Chloramphenicol dalam media
berfungsi untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang dapat mengganggu
pertumbuhan . Selain itu, pertumbuhan bakteri dapat menyulitkan dalam perhitungan
jumlah koloni khamir, karena penampakan koloni bakteri dan khamir secara
umum hampir sama sehingga sulit untuk dibedakan satu sama lain. Pertumbuhan
bakteri lebih cepat daripada , sehingga apabila tidak dihambat akan mengganggu
pertumbuhan kapang dan khamir. Inkubasi
sampel dilakukan pada suhu 20-250C yang merupakan suhu optimum untuk
pertumbuhan kapang dan khamir. Inkubasi sampel tidak boleh diposisikan terbalik karena
yeast/mould akan tumbuh dan memiliki spora yang terus berkembang
biak, jika posisi cawan dibalik maka spora fungi tersebut akan bertebaran dan
tumbuh di mana-mana pada media agar,
sehingga jumlah koloni fungi yang tumbuh akan semakin banyak dari jumlah koloni
sebenarnya, hal ini dapat menyebabkan kesalahan perhitungan koloni kapang dan khamir. Koloni kapang dan khamir
pada media tersebut dapat dibedakan dengan mudah, karena koloni kapang membentuk
filamen halus berwarna putih sampai kelabu, koloni tampak datar mempunyai
fokus (pusat koloni yang gelap) di tengah koloni. Pada pengujian kapang dan
khamir pada produk-produk PT Indofood CBP Sukses Makmur devisi bumbu, koloni
yang terbentuk biasanya berwarna hijau. Koloni khamir berbentuk seperti koloni
bakteri berwarna putih dan licin, tampak cembung, biasanya tidak berfokus dan
berbau wangi, tepi koloni licin dan rata.
3)
Uji Coliform
Bakteri
coliform adalah golongan bakteri
intestinal, yaitu hidup dalam saluran pencernaan manusia. Bakteri coliform adalah bakteri indikator
keberadaan bakteri patogenik lain. Lebih tepatnya bakteri coliform fekal
adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri patogen. Contoh bakteri coliform adalah, Esherechia
coli dan Enterobacter aerogenes.
Jadi, coliform adalah indikator
kualitas air. Makin sedikit kandungan coliform,
artinya, kualitas air semakin baik. Teknik Most
Probable Number (MPN) merupakan
metode untuk memperkirakan populasi mikroorganisme terutama pada situasi di
mana mikroorganisme ada dalam jumlah yang sangat sedikit. Untuk mendeteksi
kelompok coliform digunakan media Brilliant Green Lactose 2% Bile (BGLB) broth.
Di dalam media ini mengandung lactose
dan garam empedu (bile salt) yang hanya mengizinkan coliform untuk tumbuh. Jika terdapat
ketidaksesuaian jenis media dan bakteri yang diinginkan maka metode MPN akan menghitung bukan bakteri yang
dituju. Untuk menghitung coliform
dapat menggunakan Lauryl Sulphate
Tryptose (LST) broth, sedangkan untuk menghitung E.coli diperlukan
media EC (Escherichia coli) broth. Pengujian MPN Coliform
dan Escherichia coli menggunakan
media Lauryl Triptose (LST) Broth. Terbentuknya gas /
gelembung-gelembung udara menandakan adanya bakteri dalam sampel tersebut.
Tahap ini merupakan uji presumtif. Sampel yang menunjukkan uji presumtif
positif dilanjutkan ke uji konfirmasi. Uji konfirmasi Coliform menggunakan media Brilliant
Green Lactose Bile (BGLB) dengan melihat terbentuknya gas dalam tabung durham.
Uji konfirmasi Escherichia coli dilanjutkan
ke Escherichia
coli Broth (ECB) dan
diinkubasi pada suhu optimum Escherichia
coli yaitu 440C. Uji konfirmasi dinyatakan positif bila
terbentuknya gas dalam tabung Durham. Apabila hasil konfirmasi menyatakan
positif, dilanjutkan dengan uji penegasan dengan inokulasi pada pepton water
menggunakan jarum ose steril pada suhu 40ºC selama 24 ± 2 jam. Uji positif
ditandai dengan terbentuknya cincin yang berwarna merah cerry di permukaan
biakan apabila ditambahkan beberapa tetes pereaksi Kovac’s. Pengujian Escherichia
coli, media Violet Red Bile Agar (VRBA)
dibuat sebanyak dua lapis karena E. coli bersifat anaerob fakultatif, yaitu dapat
tumbuh baik pada keadaan aerobik dan anaerobik. Gas-gas utama yang mempengaruhi
pertumbuhan bakteri adalah oksigen dan karbondioksida. MPN adalah suatu metode enumerasi
mikroorganisme yang menggunakan data dari hasil pertumbuhan mikroorganisme pada
medium cair spesifik dalam seri tabung yang ditanam dari sampel padat atau cair
yang ditanam berdasarkan jumlah sampel atau diencerkan menurut tingkat seri
tabungnya sehingga dihasilkan kisaran jumlah mikroorganisme yang diuji dalam MPN/satuan volume atau massa sampel.
Prinsip utama metode ini adalah mengencerkan sample sampai tingkat tertentu
sehingga didapatkan konsentrasi mikroorganisme yang sesuai dan jika ditanam
dalam tabung menghasilkan frekuensi pertumbuhan tabung positif. Semakin besar
jumlah sampel yang dimasukkan (semakin rendah pengenceran yang dilakukan) maka
semakin “sering” tabung positif yang muncul. Semakin kecil jumlah sample yang
dimasukkan (semakin tinggi pengenceran) maka semakin “jarang” tabung positif
yang muncul. Semua tabung positif yang dihasilkan sangat tergantung dengan
probabilitas sel yang terambil oleh pipet saat memasukkannya kedalam media. Oleh
karena itu homogenisasi sangat mempengaruhi metode ini.
4) Enterobacter
Pengujian
Enterobacter dilakukan dengan metode
pour plate pada media Violet red bile glucose (VRBG) agar dan dibuat dua lapis seperti halnya pada pengujian E.coli media VRB Agar dan inkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam ± 2 jam. Indentifikasi
karakteristik koloni yang berwarna pink ke merah atau ungu (dengan atau tanpa
presipitasi halo). Subkultur koloni pilihan dengan menggores media nutrient
agar dengan koloni yang dipilih untuk konfirmasi. Inkubasi kultur pada suhu
37°C selama 24 jam ± 2 jam. Koloni yang terbentuk pada media Nutrient Agar dilakukan konfirmasi
biokimia yaitu dengan uji reagen oksidase dan uji fermentasi. Uji reagen
oksidase dilakukan dengan mengambil sebagian koloni kultur pada media Nutrient Agar dengan menggunakan loop
atau kawat, gunakan oksidase kit. Hasil
uji dikatakan negatif apabila warna kertas filter tidak berubah menjadi gelap
dalam 10 detik. Uji fermentasi dilakukan dengan mengambil koloni kultur pada
media Nutrient Agar yang sama dengan
koloni yang digunakan untuk uji reagen oksidase dan inokulasikan pada tabung
berisi Glucose OF Agar. Kemudian
inkubasi dalam inkubator pada 37°C selama 24 jam ± 2 jam. Jika terjadi
perubahan warna kuning ke seluruh isi tabung, maka reaksi dianggap positif. Interprestasi
uji biokimia, Enterobactericeae akan
dianggap positif apabila koloni pada reagen oksidase negatif dan positif pada
reaksi glikosa.
f.
Dekontaminasi
Dekontaminasi yaitu suatu upaya yang dilakukan untuk
memusnahkan/mematikan mikroorganisme yang pathogen sehingga aman untuk
penanganan selanjutnya. Proses dekontaminasi pada peralatan laboratorium
mikrobiologi pangan adalah untuk memusnahkan mikroorganisme pathogen yang
terdapat dalam peralatan analisa. Selain itu, dekontaminasi juga bertujuan
untuk meminimalkan jumlah mikroorganisme yang ada sehingga limbah yang di
hasilkan laboratorium mikrobiologi tetap aman. Proses dekontaminasi dilakukan
dengan menggunakan autoklaf pada suhu 121áµ’C, tekanan 1,1 bar selama 15-20
menit.
g.
Sanitasi
Peralatan
Peralatan seperti tabung dan
petri yang didekontaminasi selanjutnya dilakukan pencucian dan pembuangan media
yang terkandung di dalamnya. Pembuangan media dipisahkan pada plastik khusus
yang selanjutnya dibuang ke limbah B3. Petri dan tabung yang
telah dipisahkan dari media dicuci dengan menggunakan sabun cair dan bilas
dengan menggunakan air mengalir. Untuk pipet dan batang L yang digunakan saat
analisa, sanitasi dilakukan dengan merendam peralatan tersebut pada larutan hipochlorid 2%
dan sabun, yang selanjutnya dibilas dengan menggunakan air sampai bersih.
Peralatan yang telah tercuci bersih dilakukan sterilisasi kering menggunakan
oven pada suhu 180áµ’C selama 1,5-2 jam.
Sanitasi peralatan lain seperti botol
timbang, erlenmeyer, beaker glass,dan lain-lain
selain yang disebutkan dilakukan dengan pencucian menggunakan sabun dan
air mengalir tanpa sterilisasi kering.
h.
Pembuangan
limbah
Limbah adalah buangan yang dihasilkan
dari suatu proses produksi baik industri, rumah tangga (domestik) maupun rumah
sakit, yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki
lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Pembuangan limbah B3
laboratorium mikrobiologi dilakukan dengan menyediakan tempat sampah dan wadah
khusus untuk menampungnya. Untuk pembuangan/pemusnahannya selanjutnya
diserahkan kepada bagian yang berwenang pada limbah B3 tersebut.
D. Tugas Khusus : Validasi Pengujian Yeast/Mould dengan menggunakan Rapid Film Yeast/Mould pada Produk Sambal
Saat ini perkembangan metode pengujian
cepat (rapid test) dengan menggunakan media selektif sudah makin berkembang di
mana pada media sudah ditambahkan suatu indikator/ bahan kimia tertentu yang
dapat menandai adanya hasil reaksi enzimatis sehingga terbetuk warna atau
fluoresensi sehingga media tersebut lebih spesifik lagi (misalnya media
kromokult dan fluorokult). Contohnya media fluorogenik untuk deteksi E.coli dan kromogenik untuk deteksi E .sakazakii yang sangat spesifik. Metode penghitungan koloni tradisional untuk kapang dan khamir memerlukan waktu 5-7 hari untuk
mendapatkan hasil pengujian. Metode pengujian cepat dapat memangkas penggunaan
waktu tersebut hingga 50% atau lebih. Metode Rapid Y/M memiliki potensi untuk memberikan waktu yang signifikan
dan penghematan biaya untuk pengujian kapang dan khamir di laboratorium
mikrobiologi. Salah satu
langkah dalam prosedur untuk mendapatkan derajat kepercayaan ialah melalui
validasi, yang dalam penelitian kualitatif disukai dengan istilah verifikasi.
Validasi
adalah suatu tindakan yang membuktikan bahwa suatu proses/metode dapat
memberikan hasil yang konsisten sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan
dan terdokumentasi dengan baik. Validasi dilakukan bila ada perubahan yang
mempengarui produk secara langsung (major
modification), produk baru atau produk lama dengan metode baru, exiting dan
legacy product. Validasi metode analisis adalah proses pembuktian atau konfirmasi
pengujian yang obyektif di laboratorium, dan bahwa metode itu memenuhi
persyaratan yang telah ditentukan, yang sesuai dengan tujuan penggunaannya. Tujuan
dari validasi metode analisa adalah: mengevaluasi kinerja metode (kepekaan,
selektivitas, akurasi, presisi, dll), sekaligus menguji kelemahan dan
keterbatasan metode; menguji faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja
metode dan mengetahui besarnya pengaruh itu terhadap hasil analisis; melakukan
verifikasi atau membuktikan kinerja metode analisis baku yang
diadopsi/digunakan laboratorium. Beberapa jenis validasi metode: 1) validasi
primer, dilakukan jika laboratorium menggunakan metode analisis “baru” hasil
pengembangan, atau metode yang dimodifikasi terhadap suatu metode standart; 2) validasi
sekunder, dilakukan untuk verifikasi, jika laboratorium menggunakan atau
mengadopsi metode standart yang telah divalidasi. Parameter validasi metode
analisis mikrobiologi: 1) akurasi (kecermatan), yaitu kemampuan metode untuk
mengukur dan mendeteksi nilai aktual atau nilai sebenarnya dari mikroorganisme
target dalam sampel. Akurasi merupakan ukuran ketepatan atau kedekatan hasil
pengujian dengan hasil yang sebenarnya; 2) presisi (keseksamaan), yaitu tingkat
kesesuaian antara hasil pengujian individual dengan hasil rata-rata pengujian
berulang pada sampel yang homogen dengan kondisi pengujian yang sama; 3) sensifitas
(kepekaan), yaitu kemampuan metode untuk mendeteksi/mengukur mikroorganisme
target dalam jumlah sekecil mungkin. Spesifisitas, yaitu kemampuan metode untuk
mendeteksi/mengukur mikroorganisme tertentu secara cermat dan seksama dengan
adanya mikroorganisme asing atau bahan/matriks lain; 4) Rentang hasil pengujian
yang menunjukkan nilai terrendah dan tertinggi hasil pengujian yang dapat
ditentukan dengan cermat dan seksama. Prosedur validasi Rapid Y/M mikrobiologi dapat dilihat pada Tabel 7.
Kultur
murni yang digunakan adalah kultur murni dari yeast Saccharomyces
cereviceae. Kultur yang digunakan harus dalam keadaan baik karena akan
mempengaruhi hasil validasi. Peremajaan
kultur murni Saccharomyces cereviceae
dan diisolasikan pada agar miring PCA,
inkubasi pada inkubator suhu 30ºC selama 72 jam. Inkubasi kultur turunan
dilakukan dengan mengambil koloni pada agar miring PCA menggunakan jarum ose kemudian digoreskan pada petri yang
berisi media padat PCA, kemudian
inkubasikan 30ºC selama 24 jam. Setelah itu, ambil koloni terpisah pada hasil
inkubasi tersebut kemudian diisolasi/inkubasikan. Lakukan inokulasi pada
pengenceran 10⁰ - 10⁻⁹ (media
tumbuh=PCA) dan inkubasi pada suhu
30ºC selama 72 jam, hitung jumlah koloni yang tumbuh. Hasil inkubasi kultur turunan dapat dilihat pada Tabel 8.
Setelah
diketahui jumlah koloni pada kultur turunan, dilakukan penghitungan mikroba
yang akan dibubuhkan ke dalam sampel uji. Rumus yang dipakai adalah
= (a X b X p)/ s, di mana:
“a” adalah jumlah koloni yang
dikehendaki
“b” adalah ml sampel yang
diinokulasikan,
”p” adalah tetapan (100), dan “s” adalah jumlah sampel + pengencer.
Jumlah koloni yeast yang akan
ditanamkan dalam sampel yang didapatkan dari perhitungan sebelumnya disuntikkan
ke dalam sampel uji.
Tabel 7. Prosedur validasi Rapid Y/M mikrobiologik
|
BAGAN METODE VALIDASI
|
KETERANGAN
|
|
|
Kultur Saccharomyces cereviceae yang digunakan masih dalam keadaan baik.
Peremajaan kultur Saccharomyces cereviceae dan diisolasi
ke dalam media agar yang sesuai.
Inkubasi turunan selama 24 jam.
Penetapan angka lempeng total
dengan melakukan analisa pada pengenceran 10º sampai 10⁻⁹.
Ditentukan bubuhan yang akan
disuntikkan.
Mikroba disuntikkan ke dalam
matriks sampel SAM (Saus Asam Manis) dan dihomogenisasi.
Inokulasi sampel ke dalam
petridisk steril yang berisi agar dan ke rapid
Yeast/Mould.
Inkubasi di dalam inkunbator pada suhu
yang sesuai.
Pengamatan dilakukan dengan
mengamati mikroba uji yang tumbuh dengan ciri spesifik.
Menghitung statistik hasil
analisa.
|
Tabel 8. Hasil inkubasi kultur turunan
|
Pengenceran
|
Hasil
|
|
10⁰
|
TNTC
|
|
10⁻¹
|
TNTC
|
|
10⁻²
|
116
|
|
10⁻³
|
11
|
|
10⁻⁴
|
2
|
|
10⁻⁵
|
1
|
|
10⁻⁶
|
0
|
|
10⁻⁷
|
0
|
|
10⁻⁸
|
0
|
|
10⁻⁹
|
0
|
Keterangan : TNTC (Too Numerous to Count / terlalu
banyak untuk dihitung)
Dalam satu botol timbang berisi 90 gr pengencer (BPW/Glukose) + 1 gr sampel uji + suntikan koloni yeast 1 ml. Inokulasi sampel dilakukan dengan menggunakan 2 pengencer, yaitu Glukose (untuk media agar
DG 18) dan BPW (untuk media rapid Y/M).
Proses inokulasi pada kedua media dan pengencer tersebut pada dasarnya sama yaitu diambil masing-masing 1 ml. Proses inokulasi pada sampel yang sudah diberikan kultur dilakukan 2 kali inokulasi dengan sampel yang berbeda. Hal tersebut
dikarenakan sampel yang digunakan pertama adalah SAM (saus asam manis) di mana kemungkinan bahan pengawet yang terkandung di dalamnya dapat
mengganggu pertumbuhan Saccharomyces
cereviceae yang disuntikkan dalam sampel. Selain itu proses pengujian pada
tahap pertama ini dilakukan oleh 1 analis, sehingga tidak ada pembanding pada
hasil analisa yang dilakukan. Selain itu, dilakukan percobaan inokulasi dengan menggunakan rapid Y/M di mana pengencer yang digunakan adalah glukose. Pada pengujian ke dua, sampel yang digunakan adalah bumbu opor MHT di mana
kemungkinan pengawet akan menghambat pertumbuhan koloni relativ lebih kecil.
Pada pengujian ke dua ini ada 2 analis (analis A dan analis B) yang melakukan pengujian, sehingga hasil pengamatan dapat dibandingkan
antara analis 1 dengan yang lain. Inkubasi
sampel uji dilakukan dengan menggunakan inkubator pada suhu 25ºC ± 1 ºC. Dilakukan pengamatan setiap
harinya pada pertumbuhan koloni yang tumbuh pada masing-masing media yang
digunakan. Hasil pengamatan pada masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel 9 - 11.
Untuk perhitungan statistik dari pengamatan dapat dilihat pada Lampiran 4 – 12.
Tabel 9. Jumlah koloni hasil pembubuhan mikroba ke
matrix sampel SAM menggunakan media DG 18
dan Rapid Y/M
|
Jumlah koloni metode
"DG 18" (cfu)
|
Jumlah koloni metode
"Rapid Y/M" (cfu)
|
|||||
|
10⁻¹
|
10⁻²
|
10⁻³
|
10⁻¹
|
10⁻²
|
10⁻³
|
|
|
1
|
73
|
10
|
0
|
105
|
15
|
0
|
|
2
|
99
|
12
|
0
|
67
|
8
|
0
|
|
3
|
110
|
16
|
0
|
61
|
7
|
0
|
|
4
|
89
|
14
|
0
|
41
|
8
|
2
|
|
5
|
85
|
10
|
0
|
65
|
7
|
2
|
|
6
|
91
|
9
|
0
|
70
|
14
|
0
|
|
7
|
92
|
8
|
1
|
63
|
13
|
0
|
|
8
|
97
|
12
|
1
|
63
|
13
|
1
|
|
9
|
106
|
11
|
0
|
64
|
14
|
1
|
|
10
|
106
|
10
|
0
|
65
|
7
|
0
|
|
Tabel 10.
|
Jumlah koloni hasil pembubuhan
mikroba ke matriks sampel BOP MHT pada media “DG 18” hari ke- 1 (24 jam) sampai hari ke- 5 (120 jam)
|
|
Ul (n)
|
Hari 1
|
Hari 2
|
Hari 3
|
Hari 4
|
Hari 5
|
Analis
|
|||||
|
Plate 1
|
Plate 2
|
Plate 1
|
Plate 2
|
Plate 1
|
Plate 2
|
Plate 1
|
Plate 2
|
Plate 1
|
Plate 2
|
||
|
1
|
0
|
0
|
0
|
0
|
7
|
8
|
9
|
10
|
9
|
10
|
A
|
|
2
|
0
|
0
|
0
|
0
|
5
|
6
|
9
|
9
|
9
|
9
|
B
|
|
3
|
0
|
0
|
0
|
0
|
7
|
7
|
10
|
9
|
10
|
9
|
A
|
|
4
|
0
|
0
|
0
|
0
|
13
|
13
|
14
|
13
|
14
|
13
|
B
|
|
5
|
0
|
0
|
0
|
0
|
12
|
12
|
12
|
12
|
12
|
12
|
A
|
|
6
|
0
|
0
|
0
|
0
|
13
|
13
|
13
|
13
|
13
|
13
|
B
|
|
7
|
0
|
0
|
0
|
0
|
15
|
15
|
15
|
15
|
15
|
15
|
A
|
|
8
|
0
|
0
|
0
|
0
|
14
|
12
|
14
|
12
|
14
|
12
|
B
|
|
9
|
0
|
0
|
0
|
0
|
8
|
7
|
10
|
10
|
10
|
10
|
A
|
|
10
|
0
|
0
|
0
|
0
|
8
|
6
|
8
|
6
|
8
|
10
|
B
|
|
11
|
0
|
0
|
0
|
0
|
6
|
9
|
8
|
9
|
8
|
10
|
A
|
|
12
|
0
|
0
|
0
|
0
|
11
|
9
|
11
|
10
|
11
|
10
|
B
|
|
13
|
0
|
0
|
0
|
0
|
8
|
7
|
10
|
11
|
10
|
10
|
A
|
|
14
|
0
|
0
|
0
|
0
|
7
|
7
|
8
|
8
|
8
|
10
|
B
|
|
15
|
0
|
0
|
0
|
0
|
11
|
10
|
11
|
13
|
11
|
10
|
A
|
|
16
|
0
|
0
|
0
|
0
|
6
|
6
|
6
|
10
|
6
|
10
|
B
|
|
17
|
0
|
0
|
0
|
0
|
7
|
10
|
9
|
11
|
9
|
10
|
A
|
|
18
|
0
|
0
|
0
|
0
|
11
|
11
|
12
|
11
|
12
|
10
|
B
|
|
19
|
0
|
0
|
0
|
0
|
9
|
9
|
10
|
9
|
10
|
10
|
A
|
|
20
|
0
|
0
|
0
|
0
|
6
|
8
|
8
|
8
|
8
|
8
|
B
|
|
Tabel 11.
|
Jumlah koloni hasil pembubuhan
mikroba ke matriks sampel BOP MHT pada media “Rapid Y/M” hari ke -1
(24 jam) sampai hari ke – 5 (120 jam)
|
|
Ulangan (n)
|
Jumlah koloni (cfu)
|
Analis
|
||||
|
Hari 1
|
Hari 2
|
Hari 3
|
Hari 4
|
Hari 5
|
||
|
1
|
0
|
0
|
7
|
7
|
7
|
A
|
|
2
|
0
|
0
|
4
|
4
|
4
|
B
|
|
3
|
0
|
0
|
5
|
5
|
5
|
A
|
|
4
|
0
|
0
|
8
|
9
|
9
|
B
|
|
5
|
0
|
0
|
5
|
6
|
6
|
A
|
|
6
|
0
|
0
|
5
|
5
|
5
|
B
|
|
7
|
0
|
0
|
5
|
6
|
6
|
A
|
|
8
|
0
|
0
|
5
|
6
|
6
|
B
|
|
9
|
0
|
0
|
9
|
9
|
9
|
A
|
|
10
|
0
|
0
|
9
|
10
|
11
|
B
|
|
11
|
0
|
0
|
4
|
5
|
5
|
A
|
|
12
|
0
|
0
|
9
|
10
|
10
|
B
|
|
13
|
0
|
0
|
7
|
3
|
7
|
A
|
|
14
|
0
|
0
|
10
|
7
|
10
|
B
|
|
15
|
0
|
0
|
5
|
11
|
5
|
A
|
|
16
|
0
|
0
|
5
|
6
|
5
|
B
|
|
17
|
0
|
0
|
4
|
7
|
4
|
A
|
|
18
|
0
|
0
|
9
|
10
|
10
|
B
|
|
19
|
0
|
0
|
10
|
9
|
10
|
A
|
|
20
|
0
|
0
|
9
|
10
|
10
|
B
|
No comments:
Post a Comment