Laporan PKL bab 3 - Hasil dan Pembahasan

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN



A.    Gambaran Umum


1.      Sejarah dan Perkembangan Perusahaan


          PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division Cibitung didirikan pada tanggal 17 Desember 1992. PT Indofood CBP Sukses Makmur  Cibitung merupakan anak perusahaan dari Indofood yang bergerak di bidang bumbu. Sejak awal mula berdiri, perusahaan ini sempat empat kali berganti nama. Pertama adalah PT Aneka Pangan Utama yang memproduksi bumbu instan yang didirikan di Ancol. Tahun 1992-1993 PT Aneka Pangan Utama pindah ke Cikopo karena saat itu tidak diperbolehkan adanya industri di kawasan Ancol. Kedua, pada tahun 1994-1999 PT Aneka Pangan Utama berubah namanya menjadi PT Caraka Pangan Sejati yang memproduksi bumbu instan, bumbu powder, dan kecap. Ketiga, pada tahun 2000 PT Caraka Pangan Sejati berubah namanya menjadi Indosentra Pelangi dan pada tahun itu juga didirikan divisi saus sambal dengan produk-produk yang dihasilkan berada di bawah merek “Indofood”.
          PT Indosentra Pelangi Cibitung bekerja sama dengan PT Indosentra Pelangi Semarang untuk memenuhi kebutuhan konsumen baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pada tahun 2005, PT Indosentra Pelangi bekerja sama dengan PT Nestle Indonesia untuk meningkatkan kualitas produk dan pemasaran produk. Gabungan dari kedua perusahaan tersebut adalah PT Nestle Indofood Citarasa Indonesia (NICI). Produk yang berada di bawah pengawasan PT NICI adalah saus dan sambal dengan kemasan botol kaca, bumbu instan, dan kecap refill. Produk-produk tersebut memiliki label dengan pita biru atau yang biasa disebut dengan “blue ribbon” yang bertuliskan “Paduan Mutu Nestle dan Indofood”.
          Pada awal bulan Januari 2010, berdasarkan keputusan management Indofood pusat dan Keputusan Badan Koordinasi Penanaman Modal no.4 tahun 2010 bahwa PT Indosentra Pelangi digabung dengan beberapa perusahaan grup Indofood lain seperti PT Indobiskuit, PT Cipta Kemas Abadi, PT Gizindo Prima Nusantara dan PT Indofood Sukses Makmur menjadi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Dengan demikian mulai Januari 2010 PT Indosentra Pelangi berubah nama menjadi PT Indofood CBP Sukses Makmur- Divisi bumbu.

2.      Lokasi dan Tata Letak


          PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division Cibitung terletak di Kampung Jarakosta RT 05 / RW 02, Desa Sukadanau, Kecamatan Cibitung, Bekasi. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division Cibitung terletak satu area dengan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Noodle Division Cibitung, namun memiliki wilayah tutorial sendiri yang dibatasi oleh pagar. Peta lokasi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division Cibitung dapat dilihat pada Lampiran 1.
          Pada bagian depan area pabrik terdapat gudang penerimaan raw material (RM) dan Packaging Material (PM). Letak gudang RM/PM di bagian depan area pabrik bertujuan untuk meningkatkan efisiensi kerja, memenuhi kriteria tata letak pabrik yang sesuai dengan alur proses, dan membatasi area lalu lalang kendaraan yang membawa RM/PM di dalam pabrik sehingga dapat mengurangi kemungkinan kontaminasi terhadap produk. Kantor divisi personalia, divisi purchasing atau accounting, divisi pemasaran, divisi product planning and inventory control, divisi tehnik, divisi QA, divisi QC, dan product development (PD), serta ruang auditorium terletak pada sisi kanan pabrik yang mudah dicapai dari pintu masuk pabrik. Bagian produksi kecap, bumbu instant berada satu bangunan dengan gudang RM/PM, kantor, laboratorium, dan gudang finish good. Laboratorium mikrobiologi, kimia, dan panelis organoleptik terletak bersebelahan. Bagian produksi sambal memiliki bangunan tersendiri yang memiliki tata letak ruang sesuai dengan alur proses, yaitu ruang RM/PM, ruang produksi, ruang pengemasan, dan ruang FG. Tata letak PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division Cibitung dapat dilihat pada Lampiran 2. Kantin dan musholla terletak bersebelahan dengan bangunan produksi sambal. Tempat pengolahan limbah pabrik, boiler, workshop, klinik, dan area parkir terletak pada bagian kiri pabrik.

3.      Visi dan Misi Perusahaan


   Visi dari PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division Cibitung adalah menjadi produsen barang-barang konsumsi terkemuka. Sedangkan misinya adalah dengan senantiasa melakukan inovasi, fokus pada kebutuhan pelanggan, menawarkan merek-merek unggulan dengan kinerja yang tidak tertandingi; menyediakan produk berkualitas yang merupakan pilihan pelanggan; senantiasa meningkatkan kompetensi karyawan, proses produksi dan teknologi kami; memberikan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan; meningkatkan stakeholder’s value secara berkesinambungan.

4.      Struktur Organisasi


          PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division dipimpin oleh seorang  Kepala Divisi yang membawahi beberapa manager yang memimpin masing-masing departemen. Setiap departemen dibagi lagi menjadi beberapa tingkat pekerjaan seperti administrasi, supervisor, dan staf. Beberapa departemen yang ada di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division adalah Departemen Personalia, Departemen Finance & Accounting, Departemen Purchasing, Departemen Sales & Marketing, Departemen Teknik, Departemen Warehouse, Departemen Quality Assurance, Departemen Quality Control, Departemen Product Development, Departemen Produksi Saus Tomat & Saus Sambal, Departemen Produksi Bumbu Instan, Departemen Kecap. Diagram Struktur Organisasi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division secara umum dapat dilihat pada Lampiran 3. Tugas dan tanggungjawab dari masing-masing departemen di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division yang berhubungan dengan produksi adalah:
a.       Departemen Personalia: bertanggungjawab dalam mengendalikan kegiatan personalia yang meliputi hubungan industri, administrasi kepegawaian, keamanan, dan pelayanan umum untuk mendukung proses pencapain sasaran perusahaan, termasuk mengkoordinasi kegiatan pelatihan untuk menambah pengetahuan dan wawasan karyawan terutama di bidang mutu, keamanan pangan dan K3.
b.      Departemen Finance dan Accounting: bertanggungjawab terhadap segala hal yang menyangkut financial pabrik seperti dana yang dibutuhkan untuk pengembangan plan, pajak-pajak, serta biaya produksi dan transportasi.
c.       Departemen purchasing: melakukan kegiatan purchasing yang meliputi pembelian RM/PM serta spare part / non spare part dan administrasi.
d.      Departemen PPIC (Production Planning and Inventory Control): mengatur perencanaan produksi, pengadaan dan pengendalian bahan baku, bahan kemasan, barang setengah jadi, dan barang jadi.
e.       Departemen sales dan marketing: bertanggungjawab untuk menangani pemasaran dari produk-produk yang dihasilkan pabrik.
f.       Departemen teknik: melakukan kegiatan yang berhubungan dengan departemen teknik yaitu preventive maintenance workshop, utility, dan kalibrasi untuk mendukung proses pencapain sasaran perusahaan.
g.      Departemen Warehouse: melakukan kegiatan penggudangan yang meliputi penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran prosedur untuk mendukung kelancaran proses produksi dan pengiriman barang ke distributor.
h.      Departemen QA (Quality Assurance): bertanggungjawab terhadap jaminan mutu produk dan klaim produk yang bersangkutan terhadap pihak eksternal, baik konsumen maupun pihak-pihak lain yang bersangkutan seperti badan-badan yang memberikan sertifikasi tertentu kepada pabrik.
i.        Departemen QC (Quality Control): melakukan proses pengendalian kualitas terhadap bahan baku, bahan kemas, dan produk jadi.
j.        Departemen PD (Product Development): mengembangkan potensi dan fasilitas dalam rangka menciptakan produk baru ataupun mencapai efisiensi dalam proses pembuatan produk.
k.      Departemen Produksi: memproduksi bahan baku menjadi produk akhir serta melakukan proses pengendalian selama proses produksi berlangsung.

5.      Produk-produk Perusahaan dan Sistem Distribusi


          Produk-produk PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division secara garis besar dapat dilihat pada Tabel 2. Produk-produk yang dihasilkan tersebut diproduksi dengan berbagai merek. Produk-produk yang dihasilkan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division Cibitung didistribusikan ke wilayah Indonesia bagian barat, seperti Sumatera, Kalimantan dan Jawa Barat. Selain itu ada juga beberapa produk yang diekspor ke luar negeri yaitu ke Jeddah (Arab Saudi), Belanda, Australia, Afrika, dan Kanada.

6. Sistem Management Mutu


          PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division menjalankan 3 sistem management mutu, yaitu ISO 9001 : 2000, ISO 22000 : 2005 dan SMK3L (Sistem Manajemen Keselamatan Kerja serta Lingkungan). ISO 9001 : 2000 berhubungan dengan kualitas produk yang terkait dengan keinginan konsumen.



Tabel 2.
Produk-produk PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division
Produk Sambal dan Bumbu
Produk Saus dan Sambal
Produk Kecap
Sumber : Dokumentasi PT Indofood CBP Sukses Makmur Food Seasoning
Dalam menjalankan sistem ISO 9001 : 2000 ini, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division menganut prinsip “apa yang ditulis itu dikerjakan, apa yang dikerjakan itu ditulis, dalam arti semua yang dikerjakan dalam produksi harus dicatat dan manual mutu yang telah ditetapkan serta hal yang telah dikerjakan dalam produksi dan pengawasan mutu harus dicatat sebagai rekaman data atau dokumentasi. ISO 22000 : 2005 berhubungan dengan keamanan pangan (food safety) yang juga mencakup ISO 9001 atau bisa juga disebut dengan Food Safety Management System (FSMS). FSMS terdiri dari 10 elemen, yaitu:
a.       Management Commitment, yaitu komitmen untuk menciptakan kualitas dan keamanan produk yang dituangkan dalam slogan “CONSISTENT”, maklumat mutu, dan tekad mutu.
b.      Regulation Compliance, yaitu kesesuaian dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
c.       Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), yaitu sistem keamanan pangan yang bersifat pencegahan yang bertujuan untuk menghasilkan produk yang aman untuk dikonsumsi.
d.      Good Manufacturing Practices (GMP), acuan dan cara pengolahan pangan yang baik yang terkait dengan segala aspek produksi mulai dari perorangan, bangunan dan fasilitas, peralatan, hingga pengendalian proses produksi itu sendiri.
e.       Pest Control, yaitu pengendalian terhadap hama dan serangga yang dapat mencemari atau merusak produk.
f.       Pathogen Monitoring, yaitu proses pengendalian dan pengawasan jumlah mikroba pathogen.
g.      Traceability, yaitu kemudahan produk untuk dilacak jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan sehingga dapat dicari penyebabnya.
h.      Calibration, yaitu kalibrasi alat yang dilakukan secara berkala untuk menjamin kebenaran pengukuran yang dilakukan dengan alat tersebut.
i.        Quality Monitoring Scheme, yaitu prosedur dan persyaratan untuk memonitor kualitas produk.
j.        Hygiene, kebersihan yang berhubungan dengan manusia atau perorangan, lingkungan, serta produksi yang terkait dengan kualitas dan keamanan pangan yang akan dimiliki oleh produk yang dihasilkan.

B.     Ketenagakerjaan


1.      Jumlah dan Jenis Tenaga Kerja


          Karyawan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division sampai dengan bulan Oktober 2014 seluruhnya berjumlah 612 orang dari seluruh departemen. Persyaratan penerimaan tenaga kerja atau karyawan di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division berbeda-beda sesuai dengan jabatan atau kedudukan yang diinginkan. Sistem hubungan kerja kepegawaiannya dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu karyawan tetap dan karyawan kontrak. Karyawan tetap adalah karyawan yang mempunyai hubungan kerja untuk waktu tidak tertentu yang pelaksanaannya berpedoman pada perundangan yang berlaku.
          Secara struktural, karyawan tetap perusahaan dibagi menjadi 4 kategori, yaitu level manager, level supervisor, level staf, dan level operatif. Karyawan kontrak adalah karyawan yang mempunyai hubungan kerja untuk waktu tertentu yang pelaksanaannya berpedoman pada peraturan perundangan yang berlaku.
Waktu kerja yang berlaku di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division dibagi menjadi dua kelompok yaitu waktu kerja regular dan waktu kerja shift. Waktu kerja regular berlaku sistem kerja 5 hari yaitu waktu kerja hari Senin sampai dengan hari Jum’at dari pukul 08.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB. Waktu istirahat kerja adalah 60 menit yaitu pada pukul 12.00 WIB sampai 13.00 WIB. Apabila dalam kalender terdapat libur nasional dan pada tangggal tersebut merupakan tanggal untuk waktu kerja aktif, maka karyawan yang masuk kerja dihitung sebagai lembur. Untuk waktu kerja shift, dibagi menjadi 3 (tiga) shift setiap harinya. Waktu kerja shift berlaku sistem kerja 6 hari kerja, yaitu waktu kerja hari Senin sampai dengan hari Sabtu. Waktu kerja shift ini biasa digunakan oleh produksi atau departemen terkait lainnya. Setiap karyawan bergiliran menurut pembagian shiftnya, yaitu shift pagi selama satu minggu, dilanjutkan shift malam selama satu minggu dan dilanjutkan dengan shift siang selama satu minggu. Pembagian waktu untuk karyawan dengan jadwal kerja shift dapat dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4.

Tabel 3.
Pembagian waktu kerja karyawan dengan sistem shift (hari Senin – Jumat)

Jadual Kerja (Senin – Jum’at)
Pukul

Shift pagi
07.00 – 15.00

Shift siang
15.00 – 23.00

Shift malam
23.00 – 07.00



Tabel 4.
Pembagian waktu kerja karyawan dengan sistem shift (hari Sabtu)

Jadual Kerja (Sabtu)
Pukul

Shift pagi
07.00 – 12.00

Shift siang
12.00 – 17.00

Shift malam
17.00 – 23.00

Untuk jam kerja karyawan bagian staff kantor berlaku sistem 5 hari kerja, yaitu hari Senin sampai Jumat dengan jam kerja yaitu 08.00 – 17.00, hari  Sabtu dan Minggu libur. Waktu istirahat masing-masing periode adalah 60 menit dan diatur oleh koordinator tiap bagian yang bersangkutan, sehingga produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan terjaga dengan baik dan lancar. Waktu kerja dapat berubah sewaktu-waktu disesuaikan dengan kondisi dan situasi perusahaan dengan tetap memperhatikan peraturan pemerintah yang berlaku.

2.      Pendidikan


Tingkat pendidikan pegawai PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division beragam sesuai dengan pangkat, golongan, dan jabatannya. Pendidikan merupakan syarat yang mutlak, khususnya untuk bagian-bagian tertentu yang penting seperti tingkat manager, supervisor, koordinator dan jabatan lainnya. Latar belakang pendidikan yang baik tidak mutlak melalui jalan formal, tetapi juga dapat diperoleh dari pengalaman, pelatihan, dan keterampilan. Untuk pekerja bagian produksi seperti operator dan helper batas pendidikan terakhir adalah SMA atau sederajat. Untuk laboran dan beberapa bagian tertentu pendidikan terakhir adalah D3, sedangkan untuk supervisor dan manager tingkat pendidikan minimal adalah sarjana. Latar belakang pendidikan terakhir untuk karyawan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5.
Jumlah tenaga kerja PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food  Seasoning Division sampai dengan bulan Oktober 2014
Jenis pekerjaan
Pendidikan
Jenis Kelamin
SLTA<
D3
S1>
L
P
Manufacturing
404
32
39
374
101
Marketing & sales
2
4
7
8
5
Administrasi
31
11
15
48
9
Research Development
41
15
11
50
17
TOTAL
478
62
72
480
132
GRAND TOTAL
612
612

3.      Penerimaan Pegawai
Rekruitmen atau penerimaan pegawai, yaitu suatu proses kegiatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pegawai baru sesuai dengan kebutuhan. Tujuannya yaitu untuk memperoleh karyawan yang berkualitas baik dan sesuai dengan tuntutan pekerjaan. Perekrutan ini melalui seleksi pegawai. Seleksi merupakan proses memilih karyawan dari sekelompok pelamar yang memenuhi kriteria seleksi untuk posisi yang tersedia berdasarkan kondisi yang ada. Tujuan dari perekrutan ini bukan sekedar untuk menghasilkan sejumlah orang tertentu, tetapi juga untuk mendapatkan karyawan yang memenuhi kualifikasi jabatan yang telah dipersyaratkan perusahaan. Perekrutan yang efektif tersedia informasi yang akurat dan berkelanjutan  mengenai jumlah dan kualifikasi individu yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dalam perusahaan. Penerimaan pegawai PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division dilakukan dengan dua cara yaitu secara internal dan secara eksternal. Cara internal yaitu dengan cara mengambil karyawan yang ada dalam perusahaan yang memang cocok untuk menduduki posisi yang lebih tinggi melalui proses promosi dan mutasi, termasuk di dalamnya adalah karyawan kontrak yang memiliki etos dan etika kerja yang baik. Cara eksternal yaitu dengan merekrut calon tenaga kerja baru di luar perusahaan. Perusahaan akan mengutamakan pegawai yang ada terlebih dahulu, apabila tidak ada pegawai yang dapat memenuhi kriteria untuk jabatan tersebut maka baru dilakukan rekrutmen secara eksternal. Penempatan pegawai disesuikan dengan kebutuhan perusahaan dan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan perusahaan. Secara umum proses penerimaan pegawai meliputi wawancara, psikotes, tes kesehatan yang ditentukan oleh perusahaan.

4.      Pelatihan


Pelatihan dilakukan dengan tujuan untuk mewujudkan sumber daya manusia yang memiliki sikap, perilaku, pengabdian dan keterampilan serta pengetahuan yang dibutuhkan dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya. Untuk pelatihan karyawan baru di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division diberikan beberapa pelatihan dasar seperti K3 dan HACCP sebelum karyawan terjun langsung ke lapangan tempat karyawan tersebut bekerja. Apabila karyawan baru tersebut lolos dari ujian pelatihan yang diberikan trainner, maka karyawan tersebut baru boleh memulai pekerjaan di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division.
Untuk pelatihan rutin (biasanya dilakukan setahun sekali) di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division baik karyawan baru maupun lama dilakukan oleh supervisor, manager atau kepala departemen yang bersangkutan dengan tema-tema yang disesuaikan dengan lingkup pekerjaan. Trainner tidak mutlak dari karyawan dari PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division saja, kadang didatangkan trainner dari luar seperti supplier untuk bahan-bahan kimia maupun mikrobiologi. Peserta pelatihan juga dapat berasal dari departemen lain untuk memperluas wawasan dan pengetahuan. Tema-tema pelatihan dapat berupa: K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), HACCP, Limbah B3, GMP, dan tema-tema lain seiring dengan perkembangan perusahaan. Topik dan waktu pelatihan yang perlu diadakan disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan departemen.

5.      Gaji dan Jaminan Sosial


Gaji adalah sejumlah uang yang diberikan perusahaan kepada pekerja sebagai imbalan suatu pekerjaan atau jasa yang telah atau akan dilakukan, ditetapkan menurut suatu persetujuan atau peraturan perundang-undangan dan dibayarkan atas dasar suatu perjanjian antara pekerja dan perusahaan. Penetapan gaji di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division pada dasarnya dilakukan berdasarkan jabatan, pangkat, golongan, kompetensi, keahlian/kecakapan, prestasi kerja, perkembangan indeks biaya hidup dan kemampuan perusahaan dan tidak akan lebih rendah dari peraturan pemerintah tentang upah minimum.
Terdapat skala penggolongan gaji pada pekerja di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division yaitu golongan 3 – 10 untuk pekerja operatif (pelaksana), dan golongan 11 – 13 untuk pekerja staf (penunjang). Peninjauan kenaikan gaji dilakukan setahun sekali dengan mempertimbangkan beberapa faktor, seperti kemampuan perusahaan, kompetensi pekerja, prestasi pekerja, tingkat inflasi dan peraturan pemerintah yang ada. Gaji bagi pekerja kontrak maupun tetap dibayarkan paling lambat pada hari kerja setiap bulan. Dalam gaji yang diberikan, karyawan mendapat tunjangan makan dan tunjangan transport yang diberikan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division. Tunjangan makan diberikan dalam bentuk natura / makan di kantin perusahaan dengan tujuan untuk menjamin kesehatan dan standart gizi karyawan, sedangkan tunjangan transport diberikan dengan tujuan untuk membantu setiap pekerja yang akan bekerja dapat datang ke tempat kerja serta pulang kembali ke tempat tinggal dengan baik. Dengan demikian tidak akan ada alasan bagi karyawan untuk tidak datang bekerja karena kehabisan uang untuk biaya transportasi. Karyawan tetap maupun karyawan kontrak mendapatkan gaji bulanan, kecuali untuk karyawan harian atau borongan mendapatkan gaji harian. Karyawan yang bekerja melebihi waktu kerjanya akan diberikan tambahan gaji sesuai dengan kelebihan jam kerja karena dihitung sebagai jam kerja lembur dengan syarat karyawan tersebut harus memiliki Surat Perintah Lembur (SPL).
Selain gaji pokok, tenaga kerja juga mendapatkan tunjangan dari PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division. Tunjangan yang diberikan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division meliputi tunjangan kesehatan (rawat inap maupun rawat jalan), tunjangan hari raya, tunjangan nikah, tunjangan transportasi (antar jemput), dan tunjangan makan.
Karyawan yang telah bekerja lebih dari satu tahun memiliki hak untuk mengambil cuti sebanyak 16 hari dalam 1 tahun. Jika jumlah hari cuti yang diambil melebihi jumlah yang dipersyaratkan maka karyawan tersebut dapat mengajukan cuti tanpa upah sesuai jumlah ketidakhadirannya sesuai ketentuan yang berlaku. Cuti menikah, cuti hamil dan melahirkan, cuti keluarga karyawan meninggal, dan lain-lain dapat mengajukan permohonan izin cuti dengan tetap mendapatkan upah. Selain gaji dan tunjangan tersebut, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division juga memberikan jaminan sosial, bantuan pemeliharaan kesehatan dan kompensasi kepada para karyawannya. Jaminan sosial yang diberikan antara lain program Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja), sumbangan duka, sumbangan pernikahan, dan program pensiun. Setiap pekerja diikutsertakan dalam BPJS ketenagakerjaan yang meliputi: Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian, dan Jaminan Hari Tua (JHT). Sumbangan duka diberikan apabila pekerja dan anggota keluarga pekerja meninggal dunia. Sumbangan pernikahan diberikan kepada karyawan yang melangsungkan pernikahannya yang diatur dalam perjanjian bersama antara serikat pekerja dengan management. Program pensiun adalah fasilitas perusahaan bagi pekerja tetap. Pekerja yang berhak mendapatkan manfaat pensiun adalah pekerja yang telah memenuhi persyaratan, dan usia pekerja telah mencapai 55 tahun. Fasilitas yang diberikan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division diantaranya adalah klinik kesehatan, kantin, musholla, koperasi, tempat ibadah, dan juga tempat merokok. Bantuan pemeliharaan kesehatan adalah bantuan yang diberikan perusahaan dalam rangka memelihara dan/atau memulihkan pekerja dan/atau keluarganya yang berhak. Bantuan pemeliharaan kesehatan ini meliputi rawat jalan, rawat inap, bantuan kacamata, dan paket persalinan. Biaya rawat jalan apabila dalam setahun tidak digunakan, maka pada akhir tahun dana tersebut akan diberikan kepada karyawan sepenuhnya sesuai dengan aturan yang berlaku.
Kompensasi yang diberikan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division kepada karyawannya antara lain: kerja lembur, Tunjangan Hari Raya (THR), biaya perjalanan dinas, biaya pemondokan,  dan bantuan biaya pendidikan. Lembur merupakan kompensasi untuk pekerjaan yang dilakukan di luar jam kerja atau pada hari libur. Tarif upah lembur mengikuti UU N0.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Tunjangan Hari Raya (THR) diberikan oleh perusahaan sebagai tambahan uang kepada setiap pekerja menjelang hari raya keagamaan. Tunjangan tersebut diberikan paling lambat 2 minggu sebelum hari raya. Perjalanan dinas adalah perjalanan tugas luar kota yang dilakukan oleh pekerja atas nama perusahaan dan atas persetujuan kepala divisi yang bersangkutan. Biaya perjalanan dinas adalah semua biaya yang timbul karena perjalanan dinas bukan karena keperluan pribadi. Biaya pemondokan diberikan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division untuk pekerja yang ditugaskan ke kota yang ditetapkan untuk waktu yang cukup lama sekurang-kurangnya 1 bulan untuk kepentingan perusahaan, di mana diperlukan biaya tambahan untuk sarana tempat tinggal pekerja di tempat karyawan ditugaskan. Bantuan biaya pendidikan (beasiswa) diberikan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division kepada anak karyawan yang berprestasi.

C.    Aspek Umum: Analisa Mikrobiologik Produk PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division

Pengujian mikrobiologik produk-produk PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division memerlukan tahap-tahap tertentu sehingga menghasilkan hasil analisa yang akurat sesuai harapan. Hal ini ditunjang dengan adanya sarana analisa, alat analisa, media yang digunakan, dan teknologi proses untuk menghasilkan keakuratan hasil analisa.

1.      Sarana analisa


          Proses analisa mikrobiologi yang dilakukan pada produk-produk PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division diperlukan adanya sarana dan peralatan yang cukup memadai sehingga dihasilkan hasil analisa yang akurat. Sarana yang dibutuhkan untuk kelancaran proses analisa di lab PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division adalah air yang digunakan dan sumber listrik.

a.       Air yang digunakan

Terdapat tiga jenis air yang digunakan di lab mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division, yaitu air tanah, air aquades dan air aquabides. Air tanah digunakan untuk sanitasi peralatan yang digunakan dalam proses analisa. Sedangkan untuk membuat media mikrobiologi digunakan aquadest maupun aquabides.



b.      Sumber Listrik

Tenaga listrik PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division didapat dari PLN (Perusahaan Listrik Negara) sebagai salah satu kebutuhan utama dalam kelangsungan kelistrikan di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division.

2.      Peralatan Proses Analisa
a.      Autoklaf

Autoklaf adalah alat pemanas tertutup yang digunakan untuk mensterilisasi suatu benda menggunakan uap bersuhu dan bertekanan tinggi (121 ºC, 15 lbs) selama kurang lebih 15 menit. Penurunan tekanan pada autoklaf tidak dimaksudkan untuk membunuh mikroorganisme, melainkan meningkatkan suhu dalam autoklaf. Suhu yang tinggi inilah yang akan membunuh mikroorganisme. Autoklaf terutama ditujukan untuk membunuh endospora, yaitu sel resisten yang diproduksi oleh bakteri. Sel ini tahan terhadap pemanasan, kekeringan, dan antibiotik.  Endospora dapat dibunuh pada suhu 100 °C, yang merupakan titik didih air pada tekanan atmosfer normal. Pada suhu 121 °C, endospora dapat dibunuh dalam waktu 4-5 menit, di mana sel vegetatif bakteri dapat dibunuh hanya dalam waktu 6-30 detik pada suhu 65 °C.
Perhitungan waktu sterilisasi autoklaf dimulai ketika suhu di dalam autoklaf mencapai 121 °C. Jika objek yang disterilisasi cukup tebal atau banyak, transfer panas pada bagian dalam autoklaf akan melambat, sehingga terjadi perpanjangan waktu pemanasan total untuk memastikan bahwa semua objek bersuhu 121 °C untuk waktu 10-15 menit. Perpanjangan waktu juga dibutuhkan ketika cairan dalam volume besar akan diautoklaf karena volume yang besar membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai suhu sterilisasi. Performa autoklaf di laboratorium mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division diuji dengan indikator biologi, yaitu Bacillus stearothermophilus. Selain itu, untuk menjaga keakuratan panas dari autoklaf dilakukan juga kalibrasi secara berkala oleh bagian Quality Assurance. Penampakan autoklaf dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Autoklaf
b.      Inkubator

Inkubator adalah alat dengan suhu atau kelembaban tertentu yang digunakan untuk menginkubasi atau memeram mikroba. Kisaran suhu untuk inkubator produksi “Heraeus B5042” misalnya adalah 10-70oC. Suhu di dalam  inkubator konstan dan dapat diatur sesuai dengan  tujuan  inkubasi.   Inkubator mempertahankan suhu optimal, kelembaban dan kondisi lain seperti karbon dioksida (CO2) dan kandungan oksigen dari atmosfer di dalam. Inkubator sangat penting untuk banyak pekerjaan eksperimental dalam biologi sel, mikrobiologi dan biologi molekuler dan digunakan untuk kultur bakteri baik serta sel eukariotik. Di dalam laboratorium mikrobiologi digunakan untuk menumbuhkan bakteri pada suhu tertentu, menumbuhkan ragi dan jamur, menyimpan biakan murni mikroorganisme pada suhu rendah. 
Ciri dari inkubator yaitu memiliki sekat untuk menumbuh kembangkan mikroba, terdapat sekat kaca pada pintunya yang berfungsi untuk mempermudah melihat mikroba yang sedang diinkubasi tanpa membuka dan menutup bagian dalam dari inkubator sehingga suhunya tetap terjaga. Prinsip kerjanya yaitu mengubah energi listrik menjadi energi panas. Kawat nikelin akan menghambat aliran elektron yang mengalir sehingga mengakibatkan peningkatan suhu kawat (Taiyeb, 2001). Mesin inkubator mikrobiologi dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Inkubator
c.       Erlenmeyer

Erlenmeyer merupakan alat gelas dalam laboratorium di mana dalam laboratorium mikrobiologi berfungsi untuk membuat media yang membutuhkan pemanasan pendahuluan seperti PCA, GLUCOSE, YGCA dan lain-lain. Labu Erlenmeyer dapat digunakan untuk meracik dan menghomogenkan bahan-bahan komposisi media, menampung akuades, kultivasi mikroba dalam kultur cair, dll. Terdapat beberapa pilihan berdasarkan volume cairan yang dapat ditampungnya yaitu 25 ml, 50 ml, 100 ml, 250 ml, 300 ml, 500 ml, 1000 ml, dsb. Di laboratorium mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division digunakan erlenmeyer sampai ukuran volume 2000 ml. Penggunaanya disesuaikan dengan media yang akan dibuat. Kenampakan erlenmeyer dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Erlenmeyer
d.      Hot plate stirrer dan stirrer bar 

Hot plate stirrer dan Stirrer bar (magnetic stirrer) berfungsi untuk menghomogenkan suatu larutan dengan pengadukan. Pelat yang terdapat dalam alat ini dapat dipanaskan sehingga mampu mempercepat proses homogenisasi. Pengadukan dengan bantuan batang magnet Hot plate dan magnetic stirrer misalnya mampu menghomogenkan sampai 10 Liter, dengan kecepatan sangat lambat sampai 1600 rpm dan dapat dipanaskan sampai 400 áµ’ C. Dalam prakteknya setting suhu hot plate dalam pembuatan media di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division maksimal adalah pada suhu 315áµ’ C. Maksud dan tujuan dari pengaturan suhu tersebut adalah menjaga agar tidak terjadi pemanasan yang berlebihan pada media yang dibuat dan menjaga agar hot plate tidak mudah rusak. Kenampakan hot plate & stirrer bar dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Hot plate & stirrer bar
e.       Gelas Timbang

Gelas timbang merupakan gelas yang digunakan di laboratorium mikrobiologi di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division sebagai wadah media agar, maupun pengencer. Terdapat 4 jenis gelas timbang yang digunakan di laboratorium PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division, yaitu gelas timbang ukuran 50 ml, 250 ml, 500 ml dan 1000 ml. Beberapa gelas timbang yang biasa digunakan dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5. Gelas timbang
f.       Timbangan


Timbangan yang digunakan dalam laboratorium terdiri dari berbagai jenis dan merk. Yang terpenting adalah kapasitas serta ketelitiannya. Laboratorium mikrobiologi  PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division dilengkapi dengan 2 buah timbangan yang memiliki kapasitas 2000 gr dengan ketelitian sampai 0,01 gr. Untuk menjaga akurasi timbangan ini, dilakukan kalibrasi alat yang dilakukan oleh bagian Quality Assurance secara berkala. Kenampakan timbangan yang digunakan pada laboratorium mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Timbangan
g.      Gelas Ukur

Gelas ukur berguna untuk mengukur volume suatu cairan. Seperti labu erlenmeyer, gelas ukur memiliki beberapa pilihan berdasarkan skala volumenya.
Terdapat 2 tipe ukuran gelas ukur di laboratorium mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division yaitu ukuran 100 ml dan 1000 ml. Untuk gelas ukur 100 ml digunakan untuk mengukur dan menuang aquades dan/atau cairan pengencer ke gelas timbang. Sedangkan gelas ukur 1000 ml digunakan untuk mengukur dan menuang aquades ke erlenmeyer dalam pembuatan media yang akan dilakukan pemanasan pendahuluan. Kenampakan gelas ukur dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Gelas ukur
h.      Beaker Glass

Beaker glass merupakan alat yang memiliki banyak fungsi. Di dalam laboratorium mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division biasa digunakan untuk preparasi media-media, menampung akuades dll. Beaker glass memiliki banyak ukuran. Di laboratorium mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division sendiri memiliki 4 tipe beaker glass yaitu volume 500 ml, 3000 ml, 4000 ml, dan 5000 ml. Penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan. Kenampakan beaker glass dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8. Beaker glass
i.        Colony Counter
Alat ini berguna untuk mempermudah perhitungan koloni yang tumbuh setelah diinkubasi di dalam cawan karena adanya kaca pembesar. Selain itu alat tersebut dilengkapi dengan skala/ kuadran yang sangat berguna untuk pengamatan pertumbuhan koloni sangat banyak. Jumlah koloni pada cawan petri dan dihitung otomatis yang dapat direset. Coloni counter untuk penghitungan koloni dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9. Coloni counter
j.        Termometer

Termometer adalah alat untuk mengukur panas atau suhu. Pada umumnya, termometer terbuat dari tabung kaca yang diisi zat cair termometrik. Termometer berasal dari bahasa Latin thermo yang artinya panas, dan meter yang artinya untuk mengukur. Zat cair termometrik adalah zat cair yang mudah mengalami perubahan fisis jika dipanaskan atau didinginkan, misalnya air raksa dan alkohol. Termometer mempunyai banyak jenis, antara lain termometer klinis, termometer dinding, termometer bimetal, dan termometer maksimum-minimum. Termometer yang digunakan di laboratorium mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division adalah termometer air raksa.  Fungsi thermometer di laboratorium mikrobiologi khususnya adalah untuk mengukur suhu suatu larutan atau ruang inkubator. Prinsip kerjanya yaitu mengukur suhu sesuai laju air raksa di dalam termometer. Kenampakan termometer dapat dilhat pada Gambar 10.
Gambar 10. Termometer
k.      Lemari pendingin

          Lemari pendingin di laboratorium mikrobiologi berguna untuk menyimpan kultur media, buffer pH/konduktivity, sampel yang membutuhkan perlakuan khusus dan beberapa media yang mudah menguap dan media yang tidak tahan terhadap panas. Lemari pendingin dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11. Lemari pendingin
l.        Kompor

Kompor di laboratorium mikrobiologi digunakan untuk remelt (mencairkan kembali media agar) yang telah sudah berbentuk agar. Kenampakan kompor dapat dilihat pada Gambar 12.
Gambar 12. Kompor


m.    Spatula

Alat ini berfungsi khususnya pada pembuatan media yang digunakan untuk analisa, sehingga membantu tercapainya berat timbangan media yang benar. Spatula untuk laboratorium mikrobiologi dapat dilihat pada Gambar 13.
Gambar 13. Spatula


n.      Water bath (penangas air)

Water Bath (penangas air) berfungsi untuk menyimpan media agar (yang digunakan untuk analisa dengan teknik tuang / pour plate ) supaya media tetap dalam kondisi leleh/cair, biasanya suhu diatur pada kisaran 40-45ºC. Gambar peralatan ini dapat dilihat pada Gambar 14.
Gambar 14. Water Bath


o.      Pembakar Bunsen

Salah satu alat yang berfungsi untuk menciptakan kondisi yang steril adalah pembakar bunsen. Api yang menyala dapat membuat aliran udara karena oksigen dikonsumsi dari bawah dan diharapkan kontaminan ikut terbakar dalam pola aliran udara tersebut. Untuk sterilisasi jarum ose atau yang lain, bagian api yang paling cocok untuk memijarkannya adalah bagian api yang berwarna biru (paling panas). Bahan bakar bunsen dapat menggunakan bahan bakar gas atau metanol. Akan tetapi sekarang penggunaan bunsen kurang dianjurkan untuk laboratorium mikrobiologi karena residu yang dihasilkan oleh pembakaran tersebut dan sisa gas yang dihasilkan dari bunsen bisa berdampak bahaya bagi analis. Sehingga, sekarang laboratorium mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division mengarahkan pemakaian alat tersebut diganti dengan menggunakan incenerator. Kenampakan pembakar bunsen dapat dilihat pada Gambar 15.
Gambar 15. Pembakar bunsen


p.      Incenerator
Incenerator merupakan alat pengganti bunsen yang lebih aman, karena energi panas dihasilkan dari listrik. Prinsip kerjanya hampir sama dengan hot plate yang menghasilkan panas, akan tetapi panas yang dihasilkan cukup tinggi sehingga dapat memijarkan ose. Residu yang dihasilkan dari pembakaran ose akan terbakar di dalam alat tersebut sehingga resiko kontaminasi akan sangat mudah dihindari. Alat tersebut dapat dilihat pada Gambar 16.
Gambar 16. Incenerator


q.      Pipet
Di laboratorium mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division digunakan pipet gelas. Pipet gelas merupakan pipet yang terbuat dari gelas mempunyai garis-garis skala, cairan dapat dikeluarkan berdasarkan jumlah yang diperlukan. Pipet gelas di laboratorium mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division memiliki beberapa tipe dari skala volumenya yaitu volume 2 ml, 5 ml dan 10 ml. Penggunaan pipet-pipet tersebut disesuaikan dengan kebutuhan. Pipet ukur yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 17
Gambar 17. Pipet



r.       Mikroskop Cahaya (Brightfield Microscope) 
Salah satu alat untuk melihat sel mikroorganisme adalah mikroskop cahaya. Dengan mikroskop kita dapat mengamati sel bakteri yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Pada umumnya, mata tidak mampu membedakan benda dengan diameter lebih kecil dari 0,1 mm. Kenampakan mikroskop cahaya dapat dilihat pada Gambar 18.
Gambar 18. Mikroskop Cahaya
s.       Cawan Petri (petri dish) 
Cawan petri berfungsi untuk membiakkan (kultivasi) mikroorganisme. Medium dapat dituang ke cawan bagian bawah dan cawan bagian atas sebagai penutup. Cawan petri tersedia dalam berbagai macam ukuran, diameter cawan yang biasa berdiameter 15 cm dapat menampung media sebanyak 15-20 ml, sedangkan cawan berdiameter 9 cm kira-kira cukup diisi media sebanyak 10 ml. Cawan petri untuk analisa mikrobiologi dapat dilihat pada Gambar 19.
Gambar 19. Cawan Petri
t.        Batang L (L Rod) 

Batang L bermanfaat untuk menyebarkan cairan di permukaan media agar supaya bakteri yang tersuspensi dalam cairan tersebut tersebar merata. Alat ini juga disebut spreader, dapat dilihat pada Gambar 20.
Gambar 20. Batang L

u.      Tabung Durham (Durham Tube) 
Tabung durham yaitu tabung yang memiliki bentuk yang sama dengan tabung reaksi tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil dibanding tabung reaksi, dapat dilihat pada Gambar 21. Fungsi tabung durham untuk menampung hasil fermentasi mikroorganisme berupa gas. Dalam penggunaannya, maka tabung durham itu ditempatkan terbalik di dalam tabung reaksi yang lebih besar dan tabung ini kemudian diisi dengan medium cair. Setelah seluruhnya disterilkan dan medium sudah dingin, maka dapat dilakukan inokulasi. Jika bakteri yang ditumbuhkan dalam media tersebut memang menghasilkan gas, maka gas akan tampak sebagai gelembung pada dasar tabung durham.
Gambar 21. Tabung Durham
v.      Tabung reaksi (Reaction Tube / Test Tube) 
Di dalam mikrobiologi, tabung reaksi digunakan untuk uji-uji biokimiawi dan menumbuhkan mikroba. Tabung reaksi dapat diisi media padat maupun cair, dapat dilihat pada Gambar 22. Tutup tabung reaksi dapat berupa kapas, tutup metal, tutup plastik atau aluminium foil. Media padat yang dimasukkan ke tabung reaksi dapat diatur menjadi 2 bentuk menurut fungsinya, yaitu media agar tegak dan agar miring. Untuk membuat agar miring, perlu diperhatikan tentang kemiringan media yaitu luas permukaan yang kontak dengan udara tidak terlalu sempit atau tidak terlalu lebar dan hindari jarak media yang terlalu dekat dengan mulut tabung karena memperbesar resiko kontaminasi. Untuk alasan efisiensi, media yang ditambahkan berkisar 10-12 ml tiap tabung.
Gambar 22. Tabung reaksi

w.    Ose / Jarum Inokulum (inoculating loop) 
Jarum inokulum berfungsi untuk memindahkan biakan untuk ditanam/ditumbuhkan ke media baru. Jarum inokulum biasanya terbuat dari kawat nichrome atau platinum sehingga dapat berpijar jika terkena panas. Bentuk ujung jarum dapat berbentuk lingkaran (loop) dan disebut ose atau inoculating loop/transfer loop, dan yang berbentuk lurus disebut inoculating needle/transfer needle. Inoculating loop cocok untuk melakukan streak di permukaan agar, sedangkan inoculating needle cocok digunakan untuk inokulasi secara tusukan pada agar tegak (stab inoculating). Kenampakan ose / jarum inokulum dapat dilihat pada Gambar 23.
Gambar 23. Ose/Jarum inokulum


x.      Oven 
Oven Berfungsi untuk sterilisasi kering. Alat-alat yang disterilkan menggunakan oven antara lain peralatan gelas seperti cawan petri, tabung reaksi, batang L, dan pipet. Sterilisasi kering dengan oven dilakukan dengan cara memanaskan dengan suhu 180áµ’C selama 1,5 sampai 2 jam. Oven mikrobiologi dapat dilihat pada Gambar 24.
Gambar 24. Oven Mikrobiologi

y.      pH dan Konduktivity meter
pH meter berfungsi untuk mencek derajat keasaman / pH media, karena derajat keasaman sangan berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroba. Konduktivity meter digunakan untuk mencek konduktivity dari aquades yang dipakai untuk pembuatan media. pH dan konduktivity meter dapat dilihat pada Gambar 25
Gambar 25. pH dan konduktivity meter


z.       Pompa Vakum
Pompa vakum (alat sterilisasi dengan filtrasi) digunakan untuk menyaring mikroba yang terdapat dalam suatu cairan, kenampakan pompa vakum dapat dilihat pada Gambar 26. Penggunaan di laboratorium mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur Devisi Bumbu  adalah untuk menyaring air bilasan.
Gambar 26. Pompa vakum

aa.  Biological Safety Cabinet / Laminar Air Flow
Biological Safety Cabinet (BSC) atau dapat juga disebut Laminar Air Flow (LAF) adalah alat yang berguna untuk bekerja secara aseptis karena BSC mempunyai pola pengaturan dan penyaring aliran udara sehingga menjadi steril dan aplikasi sinar UV beberapa jam sebelum digunakan. Di laboratorium mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division alat ini biasanya digunakan untuk proses analisa swab EB (Enterobacter) dan kontrol positif/negatif.  Peralatan ini dapat dilihat pada Gambar 27.
Gambar 27. Biological Safety Cabinet

bb.  Fortex
Fortex merupakan alat yang digunakan di laboratorium untuk menghomogenkan larutan yang dimasukkan dalam tabung reaksi, dapat dilihat pada Gambar 28. Penggunaan di laboratorium mikrobiologi yaitu untuk menghomogenkan larutan pengencer.

Gambar 28. Fortex


3.      Media yang Digunakan
Beberapa media yang digunakan dalam pengujian mikrobiologi di PT Indofood CBP Sukses Makmur Food Seasoning Cibitung yaitu:
a.       PCA (Plate Count Agar), digunakan untuk analisa APC.
b.      YGCA(Yeast Extract Chloramphenicol Agar) , digunakan untuk analisa .
c.       DG(Dichloran Glyserol) 18, digunakan untuk analisa .
d.      LST(Lauryl Triptose Broth), media cair yang digunakan untuk uji penduga E.coli dan Coliform.
e.       VRBA(Violet Red Bile Agar), media padat yang digunakan untuk uji penduga E.coli dan Coliform.
f.       VRBG(Violet Red Bile Glucose), digunakan untuk uji penduga Enterobacter.
g.      BGLB(Brilliant Green Lactose Bile), digunakan untuk konfirmasi Coliform.
h.      EC(E.Coli) Broth, digunakan untuk uji penguat pada E.Coli.
i.        Pepton Water, digunakan untuk uji penegas pada E.coli.
j.        NA(Nutrien Agar), digunakan untuk konfirmasi Enterobacter.
k.      Glukose OF, digunakan untuk konfirmasi lanjutan Enterobacter.
          Beberapa pengencer yang digunakan yaitu TS(Tripton Salt), PS(Pepton Salt), Glukose, dan BPW. Penggunaannya disesuaikan dengan media yang digunakan dan jenis analisa yang akan dilakukan.

4.      Proses Pengujian
Pada pengujian secara mikrobiologi ada 2 tipe pengujian yang dilakukan yaitu secara kuantitatif dan kualitatif.  Pengujian kuantitatif antara lain analisa TPC Escherichia coli, Coliform, Vibrio parahaemolyticus, dan Stapylococcus aureus, sedangkan pengujian kualitatif adalah analisa Salmonella, Vibrio cholera, dll. Pengujian mikrobiologi yang dilakukan pada produk PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division Cibitung antara lain analisa TPC, ,  E. Coli, Coliform, dan Enterobachter. Untuk mendapatkan hasil analisa, beberapa tahap perlu dilaksanakan. Tahap-tahap yang dilaksanakan meliputi: pembuatan media, pendataan sampel, inokulasi, inkubasi, pengamatan hasil analisa, dekontaminasi, pencucian/sanitasi, pembuangan limbah.
a.      Pembuatan media
Terdapat beberapa macam media yang biasa digunakan di laboratorium mikrobiologi antara lain: 1) media umum, yaitu media yang dapat dipergunakan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan satu atau lebih kelompok mikroba secara umum; 2) media pengaya, yaitu dipergunakan dengan maksud “memberikan kesempatan” terhadap suatu jenis atau kelompok mikroba untuk tumbuh menjadi cepat; 3) media selektif, yaitu media yang hanya dapat ditumbuhi oleh satu atau lebih jenis mikroba tertentu tetapi akan menghambat atau mematikan untuk jenis-jenis lainnya; 4) media diferensiasi, yaitu media yang dipergunakan untuk pengujian senyawa atau benda tertentu dengan bantuan mikroba; 5) media penguji, yaitu media yang dipergunakan untuk pengujian senyawa atau benda tertentu dengan bantuan mikroba; 6) media enumerasi, yaitu media yang dipergunakan untuk menghitung jumlah mikroba pada suatu bahan (Suriawiria, 2005); 7) media selektif, yaitu media yang hanya dapat ditumbuhi oleh satu atau lebih jenis mikroba tertentu tetapi akan menghambat atau mematikan untuk jenis-jenis lainnya.
Garis besar pembuatan media yang tersusun atas beberapa bahan diawali dengan mencampur bahan-bahan, dilarutkan dalam air suling dan dipanaskan dalam pemanas air supaya larutannya homogen. Kemudian dilanjutkan dengan  menentukan dan mengatur pH. Setelah itu masukkan media ke dalam tempat tertentu. Sebelum disterilkan, media dimasukkan ke dalam erlenmeyer atau wadah lain yang bersih, kemudian ditutup kapas atau kertas sampul (kertas perkamen) supaya tidak basah sewaktu disterilkan. Sterilisasi umumnya dilakukan dengan udara panas dalam autoklaf pada suhu121° C selama 15- 30 menit. pH merupakan faktor yang sangat mempengaruhi suatu keberhasilan dalam pembuatan medium sehingga kondisi pH yang terlalu basa atau terlalu asam tidak cocok untuk dijadikan medium mikroba karena mikroba tidak dapat hidup pada kondisi tersebut. Medium didiamkan atau disimpan selama 2 x 24 jam untuk menyakinkan bahwa medium masih steril, karena selain pH sebagai penentu tumbuhnya mikroba, alat dan medium yang steril juga menentukan. Sterilisasi adalah proses atau kerja untuk membebaskan suatu bahan seperti medium pertumbuhan mikroba atau peralatan laboratorium dari semua kehidupan. Sterilisasi merupakan suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang biak. Sterilisasi harus membuat jasad renik yang paling tahan terhadap panas seperti spora bakteri mati. Hampir semua tindakan yang dilakukan dalam diagnosa mikrobiologis, sterilisasi sangat diutamakan baik alat-alat yang siap pakai maupun medianya. Suatu alat atau bahan dikatakan steril apabila alat atau bahan tersebut bebas dari mikroba baik dalam bentuk vegetatif maupun spora. Oleh karena itu, bagi seorang pemula di bidang mikrobiologi sangat perlu mengenal teknik sterilisasi, pembuatan media serta teknik penanaman, hal ini semua merupakan dasar-dasar kerja dalam laboratorium mikrobiologi. Sterilisasi berarti proses pemusnahan bakteri dengan cara membunuh mikroorganisme. Dalam kegiatan penelitian mikroba, digunakan alat dan medium yang steril, maka sterilisasi ini adalah usaha untuk membebaskan alat atau bahan-bahan dari segala macam kehidupan atau kontaminasi oleh mikroba (Suriawiria, 2005). Proses sterilisasi media padat, cair maupun semi padat di laboratorium PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division dilakukan dengan menggunakan autoklaf. Suhu yang digunakan untuk sterilisasi media tersebut adalah 121áµ’C selama 15 menit, tekanan 1,1 bar. Akan tetapi untuk media berupa glucose yang digunakan untuk dilution/pengencer, digunakan sterilisasi pada suhu 115áµ’C dengan tekanan 0,75 bar selama 10 menit. Media yang telah dilakukan sterilisasi dan pHnya sesuai bisa langsung digunakan. Akan tetapi apabila tidak langsung digunakan dapat disimpan pada lemari (ruang gelap) atau disimpan di dalam kulkas, di mana umur simpan dari media tersebut harus diperhatikan. Waktu penyimpanan media jadi sangat beragam. Menurut ISO/TS 11133-1 (2009:7) media jadi disimpan pada suhu 5±3 °C dan disarankan untuk disimpan tidak melebihi 2-4 minggu untuk media cawan dan 3-6 bulan untuk media cair. Media yang ditambah suplemen sebaiknya dipakai pada hari yang sama saat pembuatan. Media jadi sebaiknya disimpan dalam suatu kemasan yang berguna untuk meminimalisasi kehilangan air dalam media agar, melindungi dari cahaya dan juga melindungi dari kontaminasi. Secara umum plastik tahan panas cocok untuk membungkus media cawan (tidak peka cahaya) yang telah jadi. Pada keadaan terbungkus inilah media dapat disimpan atau dipindahkan keluar dari kondisi aseptis. Media padat yang disimpan terlalu lama pada suhu ruang akan kehilangan kadar airnya sehingga media semakin mengeras, menipis, pecah-pecah dan jika kehilangan semua air maka akan menjadi kerak di cawan petri. Penyimpanan pada suhu refrigerator lebih dapat mempertahankan kandungan air dalam media agar. Terdapat juga bahan dapat berubah menjadi beracun ketika terpapar cahaya seperti beberapa pewarna (dye). Dengan alasan inilah sebaiknya media tersebut disimpan pada keadaan gelap (Corry et al.,2003:388).

b.      Pendataan sampel


Pendataan sampel merupakan hal yang cukup vital dilakukan sebelum analisa. Pendataan dilakukan oleh bagian administrasi sampel  di mana sampel produk diperoleh dari bagian QC field. Tata cara pengambilan sampel produk memiliki prosedur yang sistematis agar sampel uji yang diambil dapat mewakili batch produk yang dihasilkan oleh bagian produksi. Dilakukan pendataan sampel agar memudahkan dalam releasing produk dan memudahkan penelusuran apabila suatu saat ditemukan masalah.
c.       Inokulasi

Sampel yang telah didata oleh bagian administrasi sampel dan diperlukan analisa mikrobiologi, selanjutnya diserahkan ke analis di laboratorium mikrobiologi untuk diinokulasi. Secara umum pengertian inokulasi adalah pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Inokulasi pada produk memiliki prinsip yang sama, akan tetapi medium lama tersebut merupakan sampel yang diuji. Untuk melakukan penanaman bakteri (inokulasi) terlebih dahulu diusakan agar semua alat yang ada dalam hubungannya dengan medium agar tetap steril, hal ini agar menghindari terjadinya kontaminasi (Dwijoseputro, 1998). Sebelum melakukan inokulasi, perlu diperhatikan juga ruang tempat inokulasi harus bersih dan keadannya harus steril agar tidak terjadi kesalahan dalam pengamatan atau percobaaan, begitu juga personil yang berada dalam ruangan inokulasi tersebut. Dalam prakteknya, di laboratorium mikrobiologi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division terdapat beberapa metode inokulasi, yaitu: Spread Plate (agar tabur ulas) dan Pour Plate (agar tuang). Spread plate merupakan  teknik menanam dengan menyebarkan suspensi sampel produk di permukaan agar. Adapun prosedur kerja yang dapat dilakukan yaitu ambil suspensi cairan sebanyak 1 ml dengan pipet ukur kemudian teteskan diatas permukaan agar yang telah memadat (digunakan media padat DG 18) dengan membagi 1 ml cairan suspensi tersebut ke dalam 3 petri yang berisi media padat tersebut (0,3ml, 0,3 ml dan 0,4 ml). Kemudian disebarkan dengan menggosokkan batang L atau batang drugal yang sebelumnya telah disterilisasi  pada permukaan agar tetesan suspensi merata. Teknik penanaman dengan metode spread plate dapat dilihat pada Gambar 29.
Gambar 29. Teknik penanaman mikroba dengan metode spread plate
Dalam teknik penanaman Pour Plate (agar tuang) memerlukan agar yang belum padat (>45oC) untuk dituang bersama cairan suspensi sampel ke dalam cawan petri kemudian dihomogenkan dan dibiarkan memadat. Hal ini akan menyebarkan sel-sel bakteri tidak hanya pada permukaan agar saja melainkan sel terendam agar (di dalam agar) sehingga terdapat sel yang tumbuh dipermukaan agar yang kaya Odan ada yang tumbuh di dalam agar yang tidak begitu banyak mengandung oksigen. Adapun prosedur kerja yang dilakukan yaitu siapkan cawan steril, tabung pengenceran yang akan ditanam dan media padat yang masih cair (>45oC). Kemudian teteskan 1 ml secara aseptis suspensi sampel kedalam cawan kosong. Setelah itu tuangkan media yang masih cair ke cawan kemudian putar cawan untuk menghomogenkan suspensi bakteri dan media, kemudian diinkubasi. Metode ini dilakukan pada analisa TPC dan coliform.
d.      Inkubasi
Inkubasi merupakan suatu  teknik perlakuan bagi mikroorganisme yang telah diinokulasikan pada madia (padat, cair maupun semisolid), kemudian di simpan pada suhu tertentu untuk dapat melihat pertumbuhannya. Bila suhu inkubasi tidak sesuai dengan yang diperlukan, biasanya mikroorganisme tidak dapat tumbuh dengan baik. Suhu dan waktu inkubasi pada beberapa analisadi laboratorium PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6.
Suhu dan waktu inkubasi analisa mikrobiologi di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Food Seasoning Division
Jenis Analisa
Suhu
Waktu
APC (Cawan Petri)
30áµ’C ± 1áµ’C
72 jam ± 3 jam
APC (Petrifilm)
30áµ’C ± 1áµ’C
72 jam ± 3 jam
Kapang/khamir (Cawan Petri)
25áµ’C ± 1áµ’C
120 jam ± 5 jam
Enterobacter, Coliform, E.coli
37áµ’C ± 1áµ’C
22 - 24 jam
Bio indikator
55áµ’C ± 1áµ’C
Max 72 jam
E.coli, Coliform (konfirmasi)
44áµ’C ± 1áµ’C
24 ± 2 jam
Kapang/khamir (rapid)
25áµ’C ± 1áµ’C
48 jam ± 2 jam


e.       Pengamatan Hasil Analisa

Setelah waktu inkubasi tercapai, dilakukan pengamatan koloni mikroorganisme. Beberapa metode penghitungan koloni yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1)      APC
Uji Aerobic Plate Count  (APC) merupakan uji mikrobiologi untuk mengetahui total jumlah sel hidup atau coloni forming unit (CFU) yang ada pada makanan khususnya mikrobia mesofilik aerob. Prinsip kerja dari uji ini adalah sampel diencerkan dengan larutan pengencer sampai faktor pengenceran tertentu (misal:10-1 , 10-2 , 10-3, dst). Media yang digunakan untuk uji APC adalah PCA (Plate Count Agar). Masa inkubasi dilakukan dengan membalik cawan petri yang berisi biakan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari jatuhnya butir air hasil pengembunan disebabkan suhu inkubator. Apabila sampai terdapat air yang jatuh maka akan merusak pembacaan APC dari sampel yang diuji. Cara inokulasi yang dipilih adalah cara tuang, di mana hal ini dimaksudkan untuk melihat pertumbuhan bakteri aerob mesofil, yang membutuhkan oksigen dalam pertumbuhannya, sehingga akan teramati bahwa pertumbuhan bakteri aerob mesofil tersebut akan berada di permukaan lempeng agar, karena pertumbuhannya yang mencari oksigen. Oleh karena itu, pada pengamatan APC ini, dicari hanya koloni bakteri yang tumbuh di permukaan lempeng agar. Seiring dengan perkembangan teknolologi, pengujian APC dengan menggunakan cawan petri sudah dapat digantikan dengan metode pengujian yang lebih mudah dan ringkas. Petrifilm adalah salah satu ready to use media yang banyak digunakan di Indonesia. Caranya dengan membuka petrifilm dan teteskan sample diatasnya. Tutup petrifilm dan inkubasi selama 72 jam. Koloni yang tumbuh berwarna merah muda sampai merah tua.


2)      Uji kapang dan khamir
Pengujian  dilakukan dengan menggunakan metode cawan hitung cara tuang (pour plate) dengan media selektif Yeast  Extract Chloramphenicol Agar (YGCA) atau cara permukaan dengan media DG 18. Chloramphenicol dalam media berfungsi untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang dapat mengganggu pertumbuhan . Selain itu, pertumbuhan bakteri dapat menyulitkan dalam perhitungan jumlah koloni khamir, karena penampakan koloni bakteri dan khamir secara umum hampir sama sehingga sulit untuk dibedakan satu sama lain. Pertumbuhan bakteri lebih cepat daripada , sehingga apabila tidak dihambat akan mengganggu pertumbuhan kapang dan khamir. Inkubasi sampel dilakukan pada suhu 20-250C yang merupakan suhu optimum untuk pertumbuhan kapang dan khamir. Inkubasi sampel tidak boleh diposisikan terbalik karena yeast/mould akan tumbuh dan memiliki spora yang terus berkembang biak, jika posisi cawan dibalik maka spora fungi tersebut akan bertebaran dan tumbuh di mana-mana pada media agar, sehingga jumlah koloni fungi yang tumbuh akan semakin banyak dari jumlah koloni sebenarnya, hal ini dapat menyebabkan kesalahan perhitungan koloni kapang dan khamir.  Koloni kapang dan khamir pada media tersebut dapat dibedakan dengan mudah, karena koloni kapang membentuk filamen halus berwarna putih sampai kelabu, koloni tampak datar mempunyai fokus (pusat koloni yang gelap) di tengah koloni. Pada pengujian kapang dan khamir pada produk-produk PT Indofood CBP Sukses Makmur devisi bumbu, koloni yang terbentuk biasanya berwarna hijau. Koloni khamir berbentuk seperti koloni bakteri berwarna putih dan licin, tampak cembung, biasanya tidak berfokus dan berbau wangi, tepi koloni licin dan rata.
3)      Uji Coliform
Bakteri coliform adalah golongan bakteri intestinal, yaitu hidup dalam saluran pencernaan manusia. Bakteri coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain. Lebih tepatnya bakteri coliform fekal adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri patogen. Contoh bakteri coliform adalah, Esherechia coli dan Enterobacter aerogenes. Jadi, coliform adalah indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan coliform, artinya, kualitas air semakin baik. Teknik Most Probable Number (MPN) merupakan metode untuk memperkirakan populasi mikroorganisme terutama pada situasi di mana mikroorganisme ada dalam jumlah yang sangat sedikit. Untuk mendeteksi kelompok coliform digunakan media Brilliant Green Lactose 2% Bile (BGLB) broth. Di dalam media ini mengandung lactose dan garam empedu (bile salt) yang hanya mengizinkan coliform  untuk tumbuh. Jika terdapat ketidaksesuaian jenis media dan bakteri yang diinginkan maka metode MPN akan menghitung bukan bakteri yang dituju. Untuk menghitung coliform dapat menggunakan Lauryl Sulphate Tryptose (LST) broth, sedangkan untuk menghitung E.coli diperlukan media EC (Escherichia coli) broth.  Pengujian MPN Coliform dan Escherichia coli menggunakan media Lauryl Triptose (LST) Broth. Terbentuknya gas / gelembung-gelembung udara menandakan adanya bakteri dalam sampel tersebut. Tahap ini merupakan uji presumtif. Sampel yang menunjukkan uji presumtif positif dilanjutkan ke uji konfirmasi. Uji konfirmasi Coliform menggunakan media Brilliant Green Lactose Bile (BGLB) dengan melihat terbentuknya gas dalam tabung durham. Uji konfirmasi Escherichia coli dilanjutkan ke Escherichia coli Broth (ECB) dan diinkubasi pada suhu optimum Escherichia coli yaitu 440C. Uji konfirmasi dinyatakan positif bila terbentuknya gas dalam tabung Durham. Apabila hasil konfirmasi menyatakan positif, dilanjutkan dengan uji penegasan dengan inokulasi pada pepton water menggunakan jarum ose steril pada suhu 40ºC selama 24 ± 2 jam. Uji positif ditandai dengan terbentuknya cincin yang berwarna merah cerry di permukaan biakan apabila ditambahkan beberapa tetes pereaksi Kovac’s. Pengujian Escherichia coli, media Violet Red Bile Agar (VRBA) dibuat sebanyak dua lapis karena E. coli  bersifat anaerob fakultatif, yaitu dapat tumbuh baik pada keadaan aerobik dan anaerobik. Gas-gas utama yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri adalah oksigen dan karbondioksida. MPN adalah suatu metode enumerasi mikroorganisme yang menggunakan data dari hasil pertumbuhan mikroorganisme pada medium cair spesifik dalam seri tabung yang ditanam dari sampel padat atau cair yang ditanam berdasarkan jumlah sampel atau diencerkan menurut tingkat seri tabungnya sehingga dihasilkan kisaran jumlah mikroorganisme yang diuji dalam MPN/satuan volume atau massa sampel. Prinsip utama metode ini adalah mengencerkan sample sampai tingkat tertentu sehingga didapatkan konsentrasi mikroorganisme yang sesuai dan jika ditanam dalam tabung menghasilkan frekuensi pertumbuhan tabung positif. Semakin besar jumlah sampel yang dimasukkan (semakin rendah pengenceran yang dilakukan) maka semakin “sering” tabung positif yang muncul. Semakin kecil jumlah sample yang dimasukkan (semakin tinggi pengenceran) maka semakin “jarang” tabung positif yang muncul. Semua tabung positif yang dihasilkan sangat tergantung dengan probabilitas sel yang terambil oleh pipet saat memasukkannya kedalam media. Oleh karena itu homogenisasi sangat mempengaruhi metode ini.
4)      Enterobacter
Pengujian Enterobacter dilakukan dengan metode pour plate pada media Violet red bile glucose (VRBG) agar dan dibuat dua lapis seperti halnya pada pengujian E.coli media VRB Agar dan inkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam ± 2 jam. Indentifikasi karakteristik koloni yang berwarna pink ke merah atau ungu (dengan atau tanpa presipitasi halo). Subkultur koloni pilihan dengan menggores media nutrient agar dengan koloni yang dipilih untuk konfirmasi. Inkubasi kultur pada suhu 37°C selama 24 jam ± 2 jam. Koloni yang terbentuk pada media Nutrient Agar dilakukan konfirmasi biokimia yaitu dengan uji reagen oksidase dan uji fermentasi. Uji reagen oksidase dilakukan dengan mengambil sebagian koloni kultur pada media Nutrient Agar dengan menggunakan loop atau kawat, gunakan oksidase kit.  Hasil uji dikatakan negatif apabila warna kertas filter tidak berubah menjadi gelap dalam 10 detik. Uji fermentasi dilakukan dengan mengambil koloni kultur pada media Nutrient Agar yang sama dengan koloni yang digunakan untuk uji reagen oksidase dan inokulasikan pada tabung berisi Glucose OF Agar. Kemudian inkubasi dalam inkubator pada 37°C selama 24 jam ± 2 jam. Jika terjadi perubahan warna kuning ke seluruh isi tabung, maka reaksi dianggap positif. Interprestasi uji biokimia, Enterobactericeae akan dianggap positif apabila koloni pada reagen oksidase negatif dan positif pada reaksi glikosa.
f.        Dekontaminasi
Dekontaminasi yaitu suatu upaya yang dilakukan untuk memusnahkan/mematikan mikroorganisme yang pathogen sehingga aman untuk penanganan selanjutnya. Proses dekontaminasi pada peralatan laboratorium mikrobiologi pangan adalah untuk memusnahkan mikroorganisme pathogen yang terdapat dalam peralatan analisa. Selain itu, dekontaminasi juga bertujuan untuk meminimalkan jumlah mikroorganisme yang ada sehingga limbah yang di hasilkan laboratorium mikrobiologi tetap aman. Proses dekontaminasi dilakukan dengan menggunakan autoklaf pada suhu 121áµ’C, tekanan 1,1 bar selama 15-20 menit.
g.      Sanitasi Peralatan
Peralatan seperti tabung dan petri yang didekontaminasi selanjutnya dilakukan pencucian dan pembuangan media yang terkandung di dalamnya. Pembuangan media dipisahkan pada plastik khusus yang selanjutnya dibuang ke limbah B3. Petri dan tabung yang telah dipisahkan dari media dicuci dengan menggunakan sabun cair dan bilas dengan menggunakan air mengalir. Untuk pipet dan batang L yang digunakan saat analisa, sanitasi dilakukan dengan merendam  peralatan tersebut pada larutan hipochlorid 2% dan sabun, yang selanjutnya dibilas dengan menggunakan air sampai bersih. Peralatan yang telah tercuci bersih dilakukan sterilisasi kering menggunakan oven pada suhu 180áµ’C selama 1,5-2 jam.
Sanitasi peralatan lain seperti botol timbang, erlenmeyer, beaker glass,dan lain-lain  selain yang disebutkan dilakukan dengan pencucian menggunakan sabun dan air mengalir tanpa  sterilisasi kering.
h.      Pembuangan limbah
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri, rumah tangga (domestik) maupun rumah sakit, yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Pembuangan limbah B3 laboratorium mikrobiologi dilakukan dengan menyediakan tempat sampah dan wadah khusus untuk menampungnya. Untuk pembuangan/pemusnahannya selanjutnya diserahkan kepada bagian yang berwenang pada limbah B3 tersebut.

D.    Tugas Khusus : Validasi Pengujian Yeast/Mould dengan menggunakan                             Rapid Film Yeast/Mould pada Produk Sambal


          Saat ini perkembangan metode pengujian cepat (rapid test) dengan menggunakan media selektif sudah makin berkembang di mana pada media sudah ditambahkan suatu indikator/ bahan kimia tertentu yang dapat menandai adanya hasil reaksi enzimatis sehingga terbetuk warna atau fluoresensi sehingga media tersebut lebih spesifik lagi (misalnya media kromokult dan fluorokult). Contohnya media fluorogenik untuk deteksi E.coli dan kromogenik untuk deteksi E .sakazakii yang sangat spesifik. Metode penghitungan koloni tradisional untuk kapang dan khamir memerlukan waktu 5-7 hari untuk mendapatkan hasil pengujian. Metode pengujian cepat dapat memangkas penggunaan waktu tersebut hingga 50% atau lebih. Metode Rapid Y/M memiliki potensi untuk memberikan waktu yang signifikan dan penghematan biaya untuk pengujian kapang dan khamir di laboratorium mikrobiologi. Salah satu langkah dalam prosedur untuk mendapatkan derajat kepercayaan ialah melalui validasi, yang dalam penelitian kualitatif disukai dengan istilah verifikasi.
          Validasi adalah suatu tindakan yang membuktikan bahwa suatu proses/metode dapat memberikan hasil yang konsisten sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan dan terdokumentasi dengan baik. Validasi dilakukan bila ada perubahan yang mempengarui produk secara langsung (major modification), produk baru atau produk lama dengan metode baru, exiting dan legacy product. Validasi metode analisis adalah proses pembuktian atau konfirmasi pengujian yang obyektif di laboratorium, dan bahwa metode itu memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, yang sesuai dengan tujuan penggunaannya. Tujuan dari validasi metode analisa adalah: mengevaluasi kinerja metode (kepekaan, selektivitas, akurasi, presisi, dll), sekaligus menguji kelemahan dan keterbatasan metode; menguji faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja metode dan mengetahui besarnya pengaruh itu terhadap hasil analisis; melakukan verifikasi atau membuktikan kinerja metode analisis baku yang diadopsi/digunakan laboratorium. Beberapa jenis validasi metode: 1) validasi primer, dilakukan jika laboratorium menggunakan metode analisis “baru” hasil pengembangan, atau metode yang dimodifikasi terhadap suatu metode standart; 2) validasi sekunder, dilakukan untuk verifikasi, jika laboratorium menggunakan atau mengadopsi metode standart yang telah divalidasi. Parameter validasi metode analisis mikrobiologi: 1) akurasi (kecermatan), yaitu kemampuan metode untuk mengukur dan mendeteksi nilai aktual atau nilai sebenarnya dari mikroorganisme target dalam sampel. Akurasi merupakan ukuran ketepatan atau kedekatan hasil pengujian dengan hasil yang sebenarnya; 2) presisi (keseksamaan), yaitu tingkat kesesuaian antara hasil pengujian individual dengan hasil rata-rata pengujian berulang pada sampel yang homogen dengan kondisi pengujian yang sama; 3) sensifitas (kepekaan), yaitu kemampuan metode untuk mendeteksi/mengukur mikroorganisme target dalam jumlah sekecil mungkin. Spesifisitas, yaitu kemampuan metode untuk mendeteksi/mengukur mikroorganisme tertentu secara cermat dan seksama dengan adanya mikroorganisme asing atau bahan/matriks lain; 4) Rentang hasil pengujian yang menunjukkan nilai terrendah dan tertinggi hasil pengujian yang dapat ditentukan dengan cermat dan seksama. Prosedur validasi Rapid Y/M mikrobiologi dapat dilihat pada Tabel 7.
          Kultur murni yang digunakan adalah kultur murni dari yeast Saccharomyces cereviceae. Kultur yang digunakan harus dalam keadaan baik karena akan mempengaruhi hasil  validasi. Peremajaan kultur murni Saccharomyces cereviceae dan diisolasikan pada agar miring PCA, inkubasi pada inkubator suhu 30ºC selama 72 jam. Inkubasi kultur turunan dilakukan dengan mengambil koloni pada agar miring PCA menggunakan jarum ose kemudian digoreskan pada petri yang berisi media padat PCA, kemudian inkubasikan 30ºC selama 24 jam. Setelah itu, ambil koloni terpisah pada hasil inkubasi tersebut kemudian diisolasi/inkubasikan. Lakukan inokulasi pada pengenceran 10 - 10⁻⁹ (media tumbuh=PCA) dan inkubasi pada suhu 30ºC selama 72 jam, hitung jumlah koloni yang tumbuh. Hasil inkubasi kultur turunan dapat dilihat pada Tabel 8.
Setelah diketahui jumlah koloni pada kultur turunan, dilakukan penghitungan mikroba yang akan dibubuhkan ke dalam sampel uji. Rumus yang dipakai adalah
= (a X b X p)/ s, di mana:
“a” adalah jumlah koloni yang dikehendaki
“b” adalah ml sampel yang diinokulasikan,
p adalah tetapan (100), dan “s adalah jumlah sampel + pengencer.
Jumlah koloni yeast yang akan ditanamkan dalam sampel yang didapatkan dari perhitungan sebelumnya disuntikkan ke dalam sampel uji.



Tabel 7. Prosedur validasi Rapid Y/M  mikrobiologik
BAGAN METODE VALIDASI
KETERANGAN
Kultur Saccharomyces cereviceae yang digunakan masih dalam keadaan baik.

Peremajaan kultur Saccharomyces cereviceae dan diisolasi ke dalam media agar yang sesuai.

Inkubasi turunan selama 24 jam.

Penetapan angka lempeng total dengan melakukan analisa pada pengenceran 10º sampai 10⁻⁹.

Ditentukan bubuhan yang akan disuntikkan.

Mikroba disuntikkan ke dalam matriks sampel SAM (Saus Asam Manis) dan dihomogenisasi.

Inokulasi sampel ke dalam petridisk steril yang berisi agar dan ke rapid Yeast/Mould.

Inkubasi di dalam inkunbator pada suhu yang sesuai.

Pengamatan dilakukan dengan mengamati mikroba uji yang tumbuh dengan ciri spesifik.

Menghitung statistik hasil analisa. 

Tabel 8. Hasil inkubasi kultur turunan
Pengenceran
Hasil
10
TNTC
10¹
TNTC
10²
116
10³
11
10⁻⁴
2
10⁻⁵
1
10⁻⁶
0
10⁻⁷
0
10⁻⁸
0
10⁻⁹
0
Keterangan : TNTC (Too Numerous to Count / terlalu banyak untuk dihitung)
Dalam satu botol timbang berisi 90 gr pengencer (BPW/Glukose) + 1 gr sampel uji + suntikan koloni yeast 1 ml. Inokulasi sampel dilakukan dengan menggunakan 2 pengencer, yaitu Glukose (untuk media agar DG 18) dan BPW (untuk media rapid Y/M). Proses inokulasi pada kedua media dan pengencer tersebut pada dasarnya sama yaitu diambil masing-masing 1 ml. Proses inokulasi pada sampel yang sudah diberikan kultur dilakukan 2 kali inokulasi dengan sampel yang berbeda. Hal tersebut dikarenakan sampel yang digunakan pertama adalah SAM (saus asam manis) di mana kemungkinan bahan pengawet yang terkandung di dalamnya dapat mengganggu pertumbuhan Saccharomyces cereviceae yang disuntikkan dalam sampel. Selain itu proses pengujian pada tahap pertama ini dilakukan oleh 1 analis, sehingga tidak ada pembanding pada hasil analisa yang dilakukan. Selain itu, dilakukan percobaan inokulasi dengan menggunakan rapid Y/M di mana pengencer yang digunakan adalah glukose. Pada pengujian ke dua, sampel yang digunakan adalah bumbu opor MHT di mana kemungkinan pengawet akan menghambat pertumbuhan koloni relativ lebih kecil. Pada pengujian ke dua ini ada 2 analis (analis A dan analis B) yang melakukan pengujian, sehingga hasil pengamatan dapat dibandingkan antara analis 1 dengan yang lain. Inkubasi sampel uji dilakukan dengan menggunakan inkubator pada suhu 25ºC ± 1 ºC. Dilakukan pengamatan setiap harinya pada pertumbuhan koloni yang tumbuh pada masing-masing media yang digunakan. Hasil pengamatan pada masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel 9 - 11. Untuk perhitungan statistik dari pengamatan dapat dilihat pada Lampiran 4 – 12.


Tabel 9. Jumlah koloni hasil pembubuhan mikroba ke matrix sampel SAM menggunakan media DG 18 dan Rapid Y/M
Pengulangan
Jumlah koloni metode "DG 18" (cfu)
Jumlah koloni metode "Rapid Y/M" (cfu)
10¹
10²
10³
10¹
10²
10³
1
73
10
0
105
15
0
2
99
12
0
67
8
0
3
110
16
0
61
7
0
4
89
14
0
41
8
2
5
85
10
0
65
7
2
6
91
9
0
70
14
0
7
92
8
1
63
13
0
8
97
12
1
63
13
1
9
106
11
0
64
14
1
10
106
10
0
65
7
0

Tabel 10.
Jumlah koloni hasil pembubuhan mikroba ke matriks sampel BOP MHT pada media “DG 18” hari ke- 1 (24 jam) sampai hari ke- 5 (120 jam)
Ul (n)
Hari 1
Hari 2
Hari 3
Hari 4
Hari 5
Analis
Plate 1
Plate 2
Plate 1
Plate 2
Plate 1
Plate 2
Plate 1
Plate 2
Plate 1
Plate 2
1
0
0
0
0
7
8
9
10
9
10
A
2
0
0
0
0
5
6
9
9
9
9
B
3
0
0
0
0
7
7
10
9
10
9
A
4
0
0
0
0
13
13
14
13
14
13
B
5
0
0
0
0
12
12
12
12
12
12
A
6
0
0
0
0
13
13
13
13
13
13
B
7
0
0
0
0
15
15
15
15
15
15
A
8
0
0
0
0
14
12
14
12
14
12
B
9
0
0
0
0
8
7
10
10
10
10
A
10
0
0
0
0
8
6
8
6
8
10
B
11
0
0
0
0
6
9
8
9
8
10
A
12
0
0
0
0
11
9
11
10
11
10
B
13
0
0
0
0
8
7
10
11
10
10
A
14
0
0
0
0
7
7
8
8
8
10
B
15
0
0
0
0
11
10
11
13
11
10
A
16
0
0
0
0
6
6
6
10
6
10
B
17
0
0
0
0
7
10
9
11
9
10
A
18
0
0
0
0
11
11
12
11
12
10
B
19
0
0
0
0
9
9
10
9
10
10
A
20
0
0
0
0
6
8
8
8
8
8
B



Tabel 11.
Jumlah koloni hasil pembubuhan mikroba ke matriks sampel BOP MHT pada media “Rapid        Y/M” hari ke -1 (24 jam) sampai hari ke – 5 (120 jam)
Ulangan (n)
Jumlah koloni (cfu)
Analis
Hari 1
Hari 2
Hari 3
Hari 4
Hari 5
1
0
0
7
7
7
A
2
0
0
4
4
4
B
3
0
0
5
5
5
A
4
0
0
8
9
9
B
5
0
0
5
6
6
A
6
0
0
5
5
5
B
7
0
0
5
6
6
A
8
0
0
5
6
6
B
9
0
0
9
9
9
A
10
0
0
9
10
11
B
11
0

0
4
5
5
A
12
0
0
9
10
10
B
13
0
0
7
3
7
A
14
0
0
10
7
10
B
15
0
0
5
11
5
A
16
0
0
5
6
5
B
17
0
0
4
7
4
A
18
0
0
9
10
10
B
19
0
0
10
9
10
A
20
0
0
9
10
10
B


No comments:

Tugas-tugas kuliah

Laporan PKL bab 3 - Hasil dan Pembahasan

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN A.     Gambaran Umum 1.       Sejarah dan Perkembangan Perusahaan           PT Indofoo...